Kembang Pukul Empat
Serat-serat angin menciptakan seruan pulang di antara kemacetan. Riuh berjingkat dan berdekapan, dengan sore dan rindumu. “Dan jalanan itu. Detik tak tersimak itu.” Ribut yang jenuh kelihatannya mulai berdebam. Memukul-mukul kesibukan. Maka sebelum petang, sebiji matahari kerap kau lenting, agar tak ada lembar yang tergunting.
Empat, seperti musim. Tidak pernah mengunjungiku. Bahkan dari jendela, langit-langit lebih suka berkelana. Bergantian menyapukan kabar yang sama, dalam sekian tanda baca. Debu-debu di badan bis kota, detak waktu yang semakin pendusta, kemudian tersedu dalam rangkaianmu; semerbak jemu.
Lihat! Senja kirimanmu selalu merapat, menyapaku. Juga sajakmu, terik dan beku yang kau jadikan satu, menggelembungkan degup ke awan, yang sebenarnya hampir dikerikiti kenangan. “Sudah pukul empat. Tak ada nyanyian. Daun-daun yang kembang berselisipan. Tak benar-benar ada di hadapan.”
Kita sama-sama sibuk bukan? Kotaku, 17 Oktober 2015. (18:18) @rintikkecil















