Refleksi akhir Ramadan #3
Seperti biasa di Twitter bisa menemukan banyak pemikiran orang, mulai dari yang sampah, thought provoking, sampai enlightening. Dimulai dengan menemukan twit ini di timeline, beberapa waktu setelah beres solat Ied:
Terus biasa lah, berbagai manusia merespons dengan beragam reply - yang bitter mulai menjelek-jelekkan agama atau merendahkan approach ini, atau banyak juga yang ngasih their two cents yang ngga penting juga. Kalau aku sendiri mikirnya, ya emang fearmongering adalah salah satu cara yang paling gampang nggak sih? Paling sederhana, dan juga ngefek. Ya kayak dokter ngasih tau pasien diabetes untuk nggak makan ini dan itu kalau nggak mau kesehatannya memburuk. Atau negara bilang jangan berbuat kejahatan karena bisa masuk penjara. Atau Code of Hammurabi yang menetapkan retaliatory justice “an eye for an eye”.
Yah tapi tentu saja di antara reply-reply tidak penting, ada aja 1-2 orang yang reply-nya ‘ngena’ dan buat w berpikir lebih dalam lagi. Reply-nya yang ini:
Terus mikir, wow tentu saja memang ada penjelasan yang lebih dalam dan lebih ‘indah’ daripada pemikiranku yang simplistik ini. Dan tentunya penjelasan ini juga patutnya bisa meredam kemarahan akan pendekatan fearmongering yang jauh, jauh lebih awam di keseharian kita. Bahwa kadang kemarahan kita tentang apa yang kita tahu tentang agama kita, sebenernya bisa jadi adalah pertanda bahwa memang hanya kurang banyak belajar dan kurang paham aja tentang agama kita sendiri (applicable to all religions, I suppose, not only with Islam). Ya tapi tentu aja sih nggak semua orang bisa puas sama jawaban apapun, cuma ya kalau memang diniatkan untuk mencari jawaban - insyaAllah you will find it.
Abis itu jadi googling supaya bisa baca lebih lanjut tentang tiga faktor ini. Lengkapnya bisa dibaca di sini. Intinya, setiap beribadah itu harus disertai oleh tiga hal: khauf (rasa takut), raja’ (berharap), dan mahabbah (cinta). Tiga-tiganya harus ada. Kalau hanya ada rasa takut tanpa pengharapan, nanti kita bisa berputus asa dari rahmat Allah. Kalau ada rasa berharap tanpa rasa takut, nanti kita bisa merasa aman dari murka Allah, dari siksa Allah - hanya berpegang pada pengetahuan kita bahwa ‘Allah Maha Pengampun’ dan hidup sekenanya. Padahal ampunan Allah hanya akan diberikan pada mereka yang berikhtiar dan pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya. Cinta juga harus ada, supaya kita merasakan betah saat berdialog dengan Allah dalam ibadah kita. Supaya kita rindu.
Kadang emang suka bingung sih, harusnya aku merasakan apa sih ketika sedang beribadah atau berinteraksi sama Allah? Rasanya seringkali campur aduk, ada banyak perasaan yang aku juga nggak selalu paham ini apa.
I have been questioning: What are these feelings? And indeed, they are many things.














