Full circle moments
Kalo dari hasil googling, katanya full circle moment itu a point where life returns to its beginnings, often providing clarity, nostalgia, or closure after a long journey of change. It represents returning to an original place, attitude, or situation—revisiting a past experience with new perspective, growth, or wisdom.
****
Selama 31 tahun lebih beberapa bulan hidup, aku sudah pernah mengalami beberapa kali full circle moments dan waktu itu terjadi rasanya ya emang semua klik aja, ketika bisa kembali lagi lihat ke masa lalu terus akhirnya bisa manggut-manggut paham. Oh ternyata begini. Lalu sudah, lingkaran itu berlalu.
Tapi ya tentu saja gak semua hal juga perlu closure dan gak semua momen akan ada full circle momentnya.
Full circle moment pertamaku adalah dengan mantan pacar waktu awal masuk S1. Waktu itu jujurly emang w masih sangat kekanakan dan belum cukup mature untuk pacaran sama orang yang allegedly megalomania atau minimal NPD itu, sih. Tau kan, tipe-tipe hubungan yang bikin kamu merasa keciiiillll dan payah dan takut bikin salah karena si orang satunya tuh emang paling bisa mengeluarkan gestur-gestur kecewa. Belum punya self esteem yang cukup dan belum paham kalau orang kayak begitu tuh emang baiknya ditinggalkan dan dijauhkan aja.
Ya intinya, di momen-momen mau lulus S1 itu entah kenapa kami jadi deket lagi, terus ngobrol intens lagi, dan pergi-pergi lagi, dan waktu itu dia bilang bahwa ya, aku udah berubah jadi lebih baik. (Kalo dipikir-pikir sad sih dan kenapa juga ya omongan dia waktu itu masih aku anggep penting? Ya namanya juga proses pendewasaan diri). Eh terus tiba-tiba dia ngilang, bales chat lama ya pokonya ILANG. Abis itu akhirnya dia muncul lagi aja, terus dia bilang kalau dia sekarang lagi deket sama TIGA ORANG TERMASUK AKU.
Dah. That was my full circle moment. Di titik itu aku merasa bahwa lah ngapain banget aku ngabisin 2 tahun ke belakang bermuhasabah berefleksi diri untuk orang yang emang ternyata gila ajah. It was not me, it's HIM.
Tentu saja abis dia ngomong begitu langsung w maki-maki. Tapi lupa sih waktu itu ngomong apaan. Pokonya ngeselin lah.
****
Terus full circle moment kedua adalah di akhir tahun 2018 pas aku pertama kali ke Swedia setelah mulai kuliah di Belanda di bulan Agustus tahun yang sama. Dari 2016 aku PENGEN BANGET sekolah ke Swedia, ke KTH. Dua kali aku nyoba daftar KTH, keterima, tapi gagal beasiswanya empat kali. Dua kali SISGP dan dua kali LPDP. Masih amat sangat bersyukur sampai detik ini bahwa aku dapet beasiswa dari TU Delft untuk pergi S2 di titik dimana aku bener-bener merasa sampah dan payah dan kecil dan nggak ada artinya. Bengong dikit langsung netes air mata karena sedih menghadapi banyak penolakan dan ketidakpastian masa depan.
Waktu itu lagi turun salju, dan aku jalan dari metro station ke arah gedung KTH yang ikonik itu. Melihat langsung gedung bata merah dengan logo KTH dan tulisan vetenskap och konst - science and art. Setelah beberapa hari berada di Stockholm dan berkeliling kota dan dalam hati merasa bahwa "Wah ternyata bagusan Belanda. Ternyata bagusan TU Delft?" Di titik itu aku paham bahwa mungkin memang yang Allah siapkan untukku itu jauh lebih baik daripada yang aku inginkan. Ini tuh tanpa bermaksud mengerdilkan KTH dan Swedia ya. Cuma ya untukku yang udah berkali-kali gagal untuk bisa kuliah di gedung itu, ya itulah kesimpulan yang bisa aku ambil.
I failed because I was not supposed to be there.
Walau ya sungguh lebih baik kalau Allah bisa langsung kasih tau via mimpi aja gitu kalau aku jangan apply KTH doang tapi apply TU Delft juga.
****
Satu lagi deh full circle moment yang aku masih inget. Jadi aku sebagai lulusan Teknik Industri itu sering merasa galau karena TI adalah teknik yang ngga teknik-teknik banget. Engineer makes things but industrial engineer makes things better. Ya intinya gak bisa bikin sesuatu dari 0 kayak anak-anak engineering lainnya. Career path juga terbuka luas dengan range yang sangat luas mulai dari HR ke manufaktur ke oil and gas ke HSE ke consulting ke tech companies dan lain sebagainya. Kalau bingung yaudah paling masuk MT BUMN aja kan.
Tapi sebenernya dalam hati tuh aku pengen banget merasakan kerja jadi core suatu bisnis. Hal yang cukup sulit didefinisikan sebagai anak TI yang sebenernya yah nggak core banget - kecuali mungkin di consulting. Tapi aku nggak fit in di pekerjaan consulting gitu sih. Masalah core-bukan core itu nggak sejelas kayak anak Teknik Perminyakan kerja di rig offshore, gitu.
Nah terus, abis aku lulus S2 tuh kan aku masuk ke Paragon jadi business analyst di innovation office. Tiga bulan doang, terus aku ditawarin pindah ke Marketing. Sembilan bulan aku kerja jadi brand development untuk megang brand beauty yang key market segmentnya adalah ibu-ibu 30s and up yang personanya ke user Buttonscarves dan semacamnya itulah. You know lah ibu-ibu hijaber tapi masih duniawi baju tas sepatunya mahal dan terlihat mahal itu.
I didn't like it.
Tapi terus di titik itu aku mikir, lah ini kan yang aku mau selama ini ya, jadi core. Jadi orang brand di beauty company itu kurang core apa. Tapi ternyata aku gak suka, dan gak cocok juga.
Terus intinya.... ya bahwa gak semua yang aku inginkan itu emang yang terbaik buatku (dan buat brandnya juga, tentunya). Cuma ya alhamdulillah pernah kesampaian lah kerja menjadi core.
*****
Will add more when I remember. Tapi memang full circle moments tuh kayak titik dimana kaya tabir pandangan disingkap terus semua terlihat 4K dan yaudah, aku paham aja semuanya. Kayak auto poin kebijaksanaan +10000.












