Tentang Hari ini
Ramadhan itu dulu selalu ku tunggu, hari hari penuh cerita dengan nuansa nostalgia terindah, bagiku dulu.
Ramadhan akan menjadi sangat spesial dengan beberapa moment dikepalaku yang terekam sampai saat ini, sebuah cerita kecil penuh serat vibes yang membuat ingin lagi dan lagi berada dalam Ramadhan.
Ramadhan dulu selalu menjadi waktu waktu terindah, banyak keberkahan, bukan hanya amal kebaikan tapi juga makanan, ah aku ada ada saja ya. Hehe....
Ramadhan dulu sangat meriah, dengan cerita dan suara dari petasan anak anak yang terkadang membuat orang dewasa sedikit marah, maafkan aku yang dlu menjadi anak anak.
Ketika saatnya tiba, mentari perlahan dengan sangat melankolisnya berpamit. Membenamkan diri diufuk barat nan jauh. Meninggalkan serat kemuning pertanda bulan baru telah tiba. Mentari terakhir Ramadhan.
Perlahan seusai maghrib, gemuruh suara takbir mulai menggema dari msajid ke masjid, dari mushala ke mushala, bahkan dari rumah ke rumah. Lantunan dzikir untuk mengagungkaNya, sangat indah, jujur saja.
Tanpa kusadari, baru beberapa takbir pertama, dalam diam air mataku merembes, akupun tidak tau apa sebabnya, hanya saja memori masa kecil, rasa syukur, juga lainya bercampur aduk menjadi satu, itu lebaranku, dulu.
Mentari di ufuk timur perlahan muncul, sedikit malu malu. Momen yang sangat indah bagiku, aku marasa tenang dengan semua orang. Gemuruh takbir bergema, juga pintu maaf yang terus terbuka membuatku merasa lega. Seolah dunia begitu damai dengan nuansa fitri nan syahdu. Tidak ada kegundahan juga kegelisahan. Itu dulu, sebelum menjadi dewasa.











