Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan file rekaman salawaik dulang dari seorang adik tingkat di kampus, ini mengingatkan saya kepada masa kecil saya di Nagari Lolo, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok. Saat itu, kesenian mingkabau masih cukup digemari, saya ingat saat bisan (anak induak bako/abak saudari ayah) saya baralek, seperti biasanya, pesta pernikahan/baralek dimeriahkan dengan hiburan, nah hiburan yang didatangkan saat itu adalah Salawaik Dulang, entah kenapa saya menjadi sangat senang mendengarkan rekaman salawek dulang ini, isinya adalah nasehat kehidupan yang telah diwarnai dengan warna Agama Islam, penyampaianya sangat elegan dengan syair dan irama yang khas, disampaikan berdua dan menggunakan dulang untuk memberikan musik. Sekarang entah dimana baralek yang masih mengundang tim Salawek Dulang ini, mungkin sudah sangat jarang, pemuda minang semakin tak kenal dengan budayanya, setelah mereka tidak kenal, maka mereka otomatis tidak suka, karena mana mungkin menyukai yang tidak diketahui, dan waktu akan menggiring mereka kepada apatisme terhadap kesenian Minangkabau, dan akhirnya sejarah sajalah yang menanggung dan mencatatnya.
Di daraeh tempat saya dibesarkan, kami belum mengenal yang namanya les bahasa Ingris, les piano apalagi les balet, yang ada adalah pemuda yang mengikuti latihan Randai, setelah maghrib menyandang kain sarung menuju rumah guru randai, berlatih di halaman rumah sang guru ditemani gelas-gelas berisi kopi hitam dibawah sentuhan sayup-sayup sampai cahaya lampu stongkiang (lampu petromaks). Tak ada gangguan TV dengan acara Humor yang sangat tidak ‘mendidik’, atau berita selebriti yang lebih mirip acara bagunjiang basamo, atau berita politik yang banyak menampilkan akhlak buruk para penguasa.
Masih ada silek, rabab, saluang, dari bidang seni ukiran juga tak terhitung jenis dan variannya, arsitektur rumah gadang, filosofi sebuah Rangkiang, dari permainan ada layang-layang, sipak rago, panjek pinang, dari segi vasion juga ada banyak sekali jenis dan model, belum lagi sastra.... huh, kadang saya berpikir ingin kembali dan melihat langsung serombongan utusan berkuda dari Istano Rajo Basa Pagaruyuang datang ke kampung saya memberikan pengumuman dari Raja yang bijaksana :D
Tapi kawan, sekarang semuanya sudah terlihat kabur, semakin kabur bahkan sebagian pemuda minangkabau sudah buta dengan kebudayaanya, mulai berpikir bahasa minang itu tidak keren, kesenian minang itu kuno, bla bla bla... setidaknya masih maklum jika yang menggesernya adalah Nasionalisme, tapi jika yang menggesernya adalah Globalisasi? Saya tidak rela !
Saat kondisi itu semakin merebak, datanglah film – film yang mengambil latar Minangkabau. Secara sederhana ini menjadi kebanggaan, sudah mulai banyak film nasional mengambil latar Minangkabau. Tapi jika direnungkan lebih dalam, ditanyo-tanyo ka nan tuo, di caliak-caliak ka nan sudah gambaran yang diberikan ini tidaklah sesuai, memberikan informasi yang tidak tepat kepada “generasi yang datang kemudian” yang mereka tidak mengetahui mana yang asli. Ibarat memberikan informasi tentang bagaimana bentuk BABI kepada anak-anak yang belum pernah melihat BABI yang sebenarnya, maka mereka akan menggambarkan gajah dalam pikiran mereka seperti apa yang digambarkan oleh informasi yang ia terima tentang BABI meskipun itu salah, ia akan mempersepsi BABI itu lucu, berwarna pink, bisa dipeluk seperti dalam film kartun yang mereka tonton bahkan mereka bisa bereksimpulan BABI bisa diajak bicara....
seperti itulah, saat generasi muda sudah tak lagi mengenali langsung the real budaya Minangkabau, lalu datang ‘orang lain’ mengenalkan minangkabau kepada orang minagkabau sendiri lewat hal – hal yang disenangi anak muda orang minang tadi, dan yang sedang merebak saat ini adalah FILM berlatar Minang baik diangkat dari novel maupun tidak.
Akhir-akhir ini novel Buya Hamka di angkat ke layar lebar, sebelumnya ada beberapa film lain berlatar Minangkabau yang terinspirasi dari keistimewaan kebudayaan Minangkabau seperti marantau dan sebagainya, namun banyak pihak yang kecewa dengan nilai ke-Minangkabau-an yang ditampilkan, karena terjadi penggeseran nilai, sehingga orang yang menontonnya akan salah interpretasi tentang budaya Minangkabau, sekalipun yang menonton itu orang Minang sendiri !
Kita merindukan film-film yang benar-benar menghadirkan ruh Minangkabau ke khalayak ramai, bukan sekedar hiburan sehingga esensi menjadi korban demi seni yang dimau-i, kita merindukan pesta pernikahan orang minang dimeriahkan dengan kesenian asli Minangkabau, bukan Orgen dengan penyanyi sexy menyanyikan lagu pembangkit iblis dalam sanubari para pemuda, kita merindukan les Randai, kursus Salaweik Dulang, dan prifat Saluang banyak ditemui dikota-kota besar di Sumatera Barat, kita merindukan bahasa Minang diselamatkan dari kepunahan yg menyebar dengan mulai tidak dikenalnya beberapa kosa kata asli minang oleh generasi muda. Dan yang sudah sangat mendesak juga : kita harus bangun perfileman Minagkabau, bahkan perlu menandingi Holywood dapalagi Bolywood ! J
Sudah saatnya ada sutradara profesional dari Ranah Minang yang benar-benar paham dengan budaya Minang Kabau....
“saat film-film yang dinisbatkan kepada kebudayaan minang kabau masa lalu bereda dan menjamur, (karena memang minangkabau sangat kaya dengan sastra), lalu terjadi distorsi antara nilai asli dan nilai yang ditampikan di film itu, maka waktu akan membiarkan budaya minang semakin kabur dari benak generasi minang yang datang kemudian, sampai akhirnya ada pihak yang menaggung ini semua : sutradara minang yang paham budayanya, atau semacam KOMISI PENYIARAN MINANGKABAU.”
8 Januari 2014, Patenggangan Beach
(barangkali akan ada sambungannya, walau bukan dari saya sendiri)