Ketika sebuah hubungan yang dijalin cukup lama, sudah kenal dengan keluarga masing-masing, sudah terbiasa kesanasini bersama (meskipun dlm kisah saya sebenarnya hanya sekitaran rangkasbitung-tanggerang-jakarta-bandung), sudah punya mimpi bersama; harus berakhir karna masa depan dan prinsip yang di genggam.
prinsip yang selalu saya yakini dan tidak pernah terpikir untuk saya langgar, masa depan yang sudah saya fikirkan dan dia belum siap untuk itu
Lulus kuliah tepat waktu dengan hasil memuaskan, bekerja ditempat yang saya idamkan, membahagiakan keluarga, menikah, mempunyai keluarga kecil bahagia dan hal indah lainnya yang sudah saya tata sedemikian cantik.
- kamu minta dia buat cepet cepet nikahin kamu? karna itu kamu bilang kamu putus karna masa depan?
hahaha big no bby. saya juga belum siap untuk itu, saya tidak membicarakan pernikahan, pembicaraan saya dengan dia belum sedalam itu.
saya bilang berakhir karna masa depan karna dia yang belum siap untuk masa depannya sendiri, saya sama sekali tidak meragukan kesuksesan dia nantinya. Tidak. hanya saja, jika dia terus berjalan santai seperti saat saya masih bersama dia. Harus sampai kapan saya menunggu?
usianya terpaut 3 tahun di atas saya, untuk menyelesaikan satu point dan itu point pertama dr list masa depan saya saja dia belum bisa😊
Banyak yang mengatakan kepada saya, jika dia sayang. dia akan berusaha, bukan malah menyerah.
yah, jika memang seperti itu bisa diambil kesimpulan bukan apa yang dia rasakan?☺️
seseorang yang selalu mengatakan “aku sayang kamu” dan hal manis lainnya adalah seseorang yang sebenarnya tidak merasakan rasa sedalam yang ia katakan. saya percaya akan itu.
- terus kenapa dong masih galau dan inget-inget dia terus? kan udah bisa ambil kesimpulan sendiri kalo dia selama ini gak serius dan “main-main”?
hehehe gimana ya ngejelasinnya. kalo saya bilang karna sayang kan klasik banget kedengerannya. Tapi seriously, berpisah karna ini memang hal yang tidak mudah bagi saya. Ketika saya harus memilih dia atau masa depan diri saya sendiri. Ketika harus memilih mempertahankan prinsip atau sedikit melanggar itu sesuatu yang amat sangat sulit dan yah, saya tidak punya pilihan bertahan pada prinsip dan masa depan dengan dia di dalamnya. saya memilih jalan yang seharusnya saya pilih of course, saya hancur. Tapi itu konsekuensi yang harus saya terima.
Dengan keadaan dia yang masih nyaman dengan dirinya sekarang ditambah dengan dia sudah menemukan sosok yg mungkin membuat dia jatuh cinta. Saya dan dia tidak akan lagi menjadi kita. Itu alasan yang cukup valid sebenarnya untuk tidak lagi mengingat dia.
Tapi, yah. butuh proses yang panjang bagi saya untuk membiasakan diri hidup tanpa seseorang yang awalnya (selalu) ada. terbilang cukup lambat memang tapi, selambat-lambatnya proses itu masih tetap proses, bukan?
Dia masih menjadi topik hangat untuk semua tulisan tulisan yang saya buat. Dia masih menjadi seseorang yang menarik untuk saya bahas. Dia masih menjadi pisau tajam yang bisa menyakiti segumpal daging bernama hati milik saya.
Untuk kamu yang sudah tidak terdengar lagi kabarnya.
Saya harap kamu selalu baik dan bisa menggapai semua mimpi-mimpimu meskipun tidak ada saya di dalamnya.
created with love Fathimah Azzahro Hanifah, 07 juli 2017 @5:33 PM









