Menyapa dan hilang, terbit tenggelam bagai pelangi yang indahnya hanya sesaat tuk ku lihat dia mewarnai hari (Pelangi - Hivi) Sore tadi ada pelangi; Jadi nyanyi. Eh lagunya semacam berisikan curhat. Hujan terus Jakartanya. Sendu.

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Spain
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Yemen

seen from Indonesia

seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
Menyapa dan hilang, terbit tenggelam bagai pelangi yang indahnya hanya sesaat tuk ku lihat dia mewarnai hari (Pelangi - Hivi) Sore tadi ada pelangi; Jadi nyanyi. Eh lagunya semacam berisikan curhat. Hujan terus Jakartanya. Sendu.
Sementara, sendiri aja.
Judul postingannya seperti lagu. Iya emang.
Beberapa waktu ke belakang ini, entah atas dasar apa gue punya satu kebiasaan baru. Kontemplasi mau ngajak “dia” pergi ke tempat yang gue singgahi. Misal, ke kafisyop yang cozy trus kopinya enak, ke pantai yang sunsetnya bagus, atau sesimpel ke warung makan yang tempe gorengnya gak tau dikasih apa tapi nagih banget.
Selalu. Setiap kali. “Ah nanti ajak dia kesini ah” atau “di sini seru, ajak dia ah”
Nah yang jadi pertanyaan, “dia” ini siapa ? Lol
Agak miris ya. *virtual pukpuk*
Di dalam otak sih ada bayangannya, ada mukanya, tapi mon maap harus di-deny karena... TAKHAYUL GENGS ! Gak baik.
Jadi, untuk sekarang, sementara, sendiri aja. Menikmati tempat baru, menghabiskan waktu, self-comforting/rewarding secukupnya.
Kalo kamu datang lagi, saya gak bingung mau ajak kamu kemana. Atau kalo teman-teman ngajak nongkrong santai bahagia sekarang jadi lebih tau harus kemana.
Kamu, bahagia di sana ya !
Nanti saya ajak kemana-mana tapi tenang, gak digendong kayak mbah surip kok 😂
Perkara hati hari ini; belum ikhlas melepas, tak sanggup jika tak pergi.
Si belum puas sakit hati
Sungguh, di tiap malam sendiriku aku masih berharap kamu kembali, setiap kali. Ya, separah ini.
Si tak mau pergi
Kamu tau apa yang paling sulit dari menjadi aku ?
Kamu tau apa yang paling sulit dari menjadi aku ?
Aku membangun harap tanpa mengetahui,
“mau jadi apa ya ini nanti ?”.
Percaya diri yang terlalu, saat kau datang mengetuk, menyapa, ku persilahkan, dan aku (sendirian) mulai membangun harap, bermimpi yang indah. Semu
Kamu tau apa yang paling sulit dari menjadi aku ?
Aku melupakan banyak hal kecil, detil yang biasanya tak ku lewatkan di kejadian lalu.
Kedatanganmu yang tiba-tiba, membuat aku lupa. Terlena. Dan akhirnya aku yang bermuram durja
Kamu tau apa yang paling sulit dari menjadi aku ?
Kamu tak hiraukan.
Kamu tak berpamitan.
Datang tampak muka, pulang tak tampak punggung.
Kamu tau apa yang paling sulit dari menjadi aku ?
Aku (terlanjur) nyasar dalam harap dan asaku sendiri yang tak seharusnya.
Aku malu. Sumpah. Ini bukan aku.
Ya mungkin ini masih aku.
Tapi bukan versi yang ku suka
(Apalagi olehmu).
Salam sayang,
Dan seperti biasa.
Berbahagialah🌸