rasio keuangan paling berpengaruh terhadap harga saham
abstrak secara singkat tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio keuangan yang terdiri dari return on assets, earning per share, dan debt to equity ratio terhadap harga saham. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan sektor batu bara. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak sebelas perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2019. Metode olah data menggunakan Microsoft Excel 2017 dan Eviews 9.0 di mana analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning per share memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, sedangkan return on assets, dan debt to equity ratio tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
pembahasan dalam abstrak penelitian yang penulis lakukan diatas, dijelaskan bahwa rasio keuangan yang memeliki pengaruh siginifikan dan korelasi positif terhadap harga saham adalah earning per share. Earning per share atau sering juga disebut dengan EPS adalah rasio yang didapatkan dengan membagi laba bersih perusahaan terhadap jumlah saham beredar (outstanding stock), oleh sebab itu EPS dapat juga diartikan sebagai laba bersih yang diterima investor untuk setiap lembar saham perusahaan yang dimiliki.
Rasio EPS memang sangat penting untuk dilihat pada suatu perusahaan, rasio ini mengartikan apakah perusahaan tersebut menghasilkan laba positif atau rugi pada periode tertentu. Laba yang positif akan menaikan nilai buku perusahaan dan menjadi faktor perusahaan untuk tetap survive secara finansial dalam menjalankan operasionalnya. Selain mempengaruhi nilai buku perusahaan, EPS juga menjadi dasar bagi perusahaan dalam membagikan dividen kepada investor, umumnya dividen yang dibagikan tidak melebihi EPS pada tahun berjalan walaupun terdapat juga sebagian kecil perusahaan yang membagikan dividen melebihi EPS seperti contoh di perusahaan di sektor batu bara.
Tidak heran apabila kenaikan EPS direspon pasar dengan kenaikan harga saham perusahaan tersebut. Karena kenaikan tersebut memberikan sinyal positif bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Namun terdapat concern tertentu terhadap kenaikan EPS ini, kenaikan EPS yang diharapkan tentunnya adalah pertumbuhan yang secara konsisten dan berkelanjutan. Apabila terdapat kenaikan EPS yang tinggi namun tidak konsisten dan berkelanjutan, penulis pribadi merespon hal tersebut dengan apatis sebagaimana pasar seharusnya juga begitu, perlu dilihat kembali kenaikan dari EPS yang tidak konsisten dan berkelanjutan tersebut disebabkan oleh apa (?), apakah dari operasional bisnis perusahaan atau dari faktor lainnya seperti pelepasan/penjualan aset perusahaan dsb. Setelah mengetahui hal tersebut kembali lagi kepada masing-masing individu apakah menanggap hal tersebut baik bagi keberlanjutan perusahaan atau sebaliknya.
Perlu kita sandingkan pula rasio EPS ini dengan laporan cashflow perusahaan terutama operating cashflow. Tujuannya adalah melihat seberapa besar kas yang dihasilkan bagi perusahaan atas laba perusahaan tersebut dan juga melihat seberapa besar pendapatan yang diakui dari penjualan bersifat piutang. Penjualan fiktif dan pengakuan pendapatan yang digelembungkan juga dapat dideteksi dini dengan melihat dari operating cashflow perusahaan.
Masih banyak hal menarik yang dapat kita bahas dari EPS, rasio ini merupakan rasio keuangan kunci yang menjadi perhatian dalam menentukan apakah suatu perusahaan baik untuk investasi pada harga saham tertentu, sebagaimana hasil penelitian diatas EPS yang meningkat akan direspon dengan kenaikan harga saham pula.












