Nikmat: Menangis
Ternyata.. menangis dengan kencang dan tersedu-sedu adalah sebuah nikmat. Setidaknya itu yang baru saja saya sadari.
Dulu, waktu masih ngekos, hobi saya adalah berdoa sambil menangis. Saya curhat (apapun dicurhatin), menangis sampai terisak, sampai tersedu-sedu. Bebas. Setelahnya pasti ada satu perasaan lega dalam diri, seperti masalah-masalah itu larut dibawa pergi oleh air mata. Setelahnya sayapun siap menghadapi kerasnya kenyataan lagi, dengan hati yang lebih lapang.
Sekarang, saya sudah kembali tinggal di rumah. Ada sedikit perasaan malu ketika melakukan kebiasaan menangis tiap berdoa kayak waktu di kosan. Ibu pasti bertanya ada apa, dan saya malas sekali menjelaskan, karena kadang alasan menangisnyapun tidak tentu. Kalau dulu di kosan, setiap rasanya sesak, ya menangis saja biar lega. Kalau sekarang, ada alasan untuk menangispun tetap malu kalau menangis. Bapakpun demikian, saya merasa kehilangan privasi (baca: kebebasan bercengkrama dengan diri sendiri) kalau di rumah. Sebentar-sebentar buka pintu kamar, sebentar-sebentar ngecek anaknya lagi ngapain, pintu dikuncipun ga bisa. Toh percuma juga pintu dikunci, kamar saya dan kamar mbak saya letaknya bersebelahan dan terdapat jendela besaaar (lubang tanpa kaca) di tembok sehingga saya bisa melihat kamar mbak, begitupun sebaliknya. Bercengkrama dengan diri sendiripun menjadi tidak leluasa.
Saya baru sadar, ternyata kesendirian waktu ngekos dulu adalah sebuah nikmat.
Kembali ke soal menangis. Sekarang saya sering merasa sesak, tapi tidak mungkin berteriak-teriak (nanti disangka gila hahaha), mau menangis tengah malam sekalipun tidak bisa. Bapak selalu bangun tiap malam untuk solat, saat bapak bangunpun pasti buka pintu kamar, ngecek anaknya udah tidur apa belum. Saya pasti diomelin kalau ketangkap basah tidak tidur karena nonton film barat atau drama korea, atau yang lain-lain (selain solat). Tetap tidak ada kesempatan untuk menangis.
Kadang, saya suka curi-curi waktu mandi (menangis tanpa berdoa), dan sebelum tidur (berdoa sambil menangis). Bisa sih menangis, tapi rasanya tidak lega.
Mungkinkah alternatifnya saya harus menulis seperti ini? Sekarang saya ingin menangis, tapi meracau seperti ini membuat saya kehilangan selera.
Atau mungkin nanti saya malah menangis saat membaca ulang tulisan ini ya. Saya menangis, kok bisa tulisan saya jelek sekali. Wkwkwk.
Selamat malam. Jakarta, 5 September 2017 Pukul 23.27















