Diskusi RaMe (Ratih Meisza): ‘Ustadz’gram dan Selebgram
Jadi kemarin malam aku dan suamiku @mmeisza diskusi bahas perkara 'ustadz'gram yang bikin video ngomentarin soal vlognya selebgram. (Video bisa dilihat di vlog gitasav dan akun hawaariyyun). Sangat disarankan jika ingin melihat, lihat keduanya, jangan cuplikan salah satunya aja.
Setelah lihat postingan keduanya, aku sama suamiku diskusi dan pada akhirnya sepakat ada masing-masing satu missing point pada kedua figur tsb. Konsep yang hilang yang membuat selebgram ini sampai punya pemikiran yang demikian. Begitupun halnya 'ustadz'gram ini hanya mengambil secuplik tanpa melihat background storynya, mengesampingkan perjalanan hidup dan proses 'pencarian' yang akhirnya membentuk pola pikir selebgram tsb.
Selebgram ini bilang kalo semua agama itu baik, semua agama benar. Kami berpendapat, semua agama memang mengajarkan kebaikan. Tapi kami meyakini yang benar ya hanya Islam. Kayaknya selebgram ini kurang bisa membedakan konsep antara kebaikan dan kebenaran. Selain itu, selebgram ini mengemukakan opininya kalau preferensi dakwah yang biasa didengarnya adalah diskusi antar agama yang ga perlu membuktikan kesalahan agama lain (punya konsep teologi masing-masing). Menurut kami preferensi yang diambil ybs sah-sah saja, tetapi ga perlu mendiskreditkan preferensi dakwah yang lain, seperti adanya beberapa pendakwah yang berdebat untuk membuktikan kekurangan agama lain.
Menurut yang kami tau, di dalam Al Qur'an dicontohkan keduanya, baik yang membangun dialog, maupun yang berdebat. Bahkan, dalam QS. An Nahl: 125, berbunyi "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk".
Bisa dilihat paling tidak ada tiga cara dalam menyampaikan dakwah, pertama dengan hikmah, kedua dengan pengajaran yang baik, ketiga berdebat dengan cara yang baik.
Dengan background story dan proses 'pencarian' yang dilalui selebgram ini mungkin berdakwah dengan hikmah lebih cocok. Apalagi, ybs berada pada lingkungan yang orang-orangnya cenderung dapat menerima keberagaman. Tetapi kita tetap membutuhkan dua metode dakwah yang lain, dalam konteks masing-masing. Berdakwah melalui pengajaran yang baik mungkin lebih cocok digunakan di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas muslim tetapi masih perlu banyak belajar. Sedangkan, berdakwah dengan perdebatan yang baik dapat dilakukan kepada orang-orang yang dengan jelas menentang Islam. Kalau ga ada pendakwah yang mengambil peran ini, siapa yang akan membela Islam ketika ada orang lain yang secara terang-terangan menolak Islam?
Intinya, berdebat tetap dibutuhkan tetapi harus dengan cara yang baik, tetap memperhatikan adab dalam berdebat, dan bukan untuk menghina yang lain. Tinggal kita yang memposisikan dengan bijak, bagaimana cara berdakwah yang akan digunakan sesuai konteks.
Niat 'ustadz'gram untuk mengingatkan dan meluruskan selebgram ini juga sebenarnya baik dan kami ga memandang nasihat tersebut sebagai sesuatu yang salah. Namun, sangat disayangkan ybs hanya mengambil secuplik potongan video dari selebgram tsb sehingga membuat netizen yang melihat bereaksi di luar konteks. Padahal jika seandainya ybs lebih bijak, 'ustadz'gram ini mungkin akan mengerti alasan dibalik pemikiran selebgram tsb.
Proses 'pencarian' selebgram yang panjang, sampai akhirnya mereka menemukan kedamaian pada Islam dan memilih untuk berIslam dengan lebih baik bukanlah perkara yang dapat dipandang sebelah mata. Mereka sudah pernah merasakan kebaikan yang diajarkan agama lain, tetapi mereka tetap memilih untuk berIslam karena pada Islamlah terletak kebaikan dan kebenaran. Menurut kami hal itulah yang menjadi alasan mengapa mereka lebih nyaman dengan cara dakwah yang penuh hikmah.
Terakhir, kami mendorong netizen untuk ga terburu-buru menghakimi tanpa berusaha melihat secara utuh dan bersikap objektif. Apalagi sampai memberi cap atau sentimen negatif terhadap saudara sesama muslim, seperti dibilang liberal dsb. Selebgram tersebut bermaksud membuat konten perihal opini pribadi terkait preferensinya. Sedangkan kami berpendapat 'ustadz'gram ini niatnya meluruskan yang salah, bukan menjelekkan pribadi selebgram tsb. Koridornya sampai disitu. Netizen yang membuat ramai sehingga masalah melebar kemana-mana.
Kami berharap sebagai sesama muslim kita membangun semangat saling menasihati tanpa perlu menjelekkan pribadi orang lain. Jika dirasa ada yang salah dari saudara sesama muslim, lebih baik kita rangkul dan kita terapkan metode dakwah pengajaran yang baik, agar saudara kita semakin terikat hatinya dengan kita, bukan malah semakin menjauh.
Hsinchu, 29 Desember 2018