[Book Review] Sakura dalam Montase
Judul: Montase Penulis: Windry Ramadhina Penerbit: Gagasmedia Terbit: Cekatan ke 5 2014 ISBN: 978-979-780-605-7 Halaman: 357
Blurb: Aku berharap tak pernah bertemu denganmu. Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku. Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu. Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu. Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.
Tapi...,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai... Dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.
“Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak diinginkan.” –Halaman 250
Rayyi pertama kali bertemu dengan Haru di sebuah pemutaran film. Gadis berkepala angin itu memenangkan penghargaan Greenpeace dengan filmnya yang bertema sakura. Mereka kembali bertemu di kelas dokumenter yang dibimbing oleh Samuel Hardi. Samuel meminta para muridnya membuat sebuah film dokumenter dengan tema observasi.
Rayyi tidak memiliki ide untuk tugas tersebut. Temannya Andre mengusulkan untuk membuat film Lost In Translation versi dokumenter. Dengan ide tersebut, Rayyi mengajak Haru untuk menjadi objek dalam film dokumenternya.
Di antara ribuan sakura, cinta perlahan bersemi di dalam hati mereka. Kedatangan Haru ke dalam hati Rayyi membuat pria itu menjadi lebih berani dalam menghadapi mimpinya.
Tidak hanya itu kedatangan Haru juga membawa kebahagiaan tersendiri bagi Rayyi layaknya bunga sakura. Namun ketika Rayyi mulai membuka hatinya lebih jauh, ia harus kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi. –Halaman 347
Saya tahu bahwa saya telat sekali baru membaca Montase sekarang, namun tidak apa-apalah yang penting saya bisa membaca kisah Haru dan Rayyi. Ketika akan membeli Montase, saya lumayan bimbang karena di sisi lain saya juga ingin membeli buku yang lain, tetapi terbatas oleh keuangan dalam dompet. Namun pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli Montase karena pasti akan sulit untuk menemukan buku ini di lain waktu.
Saya tidak kecewa membeli buku ini. Saya benar-benar suka dengan tema yang diangkat dalam Montase. Tentang mimpi dan juga perjuangan dalam meraihnya. Saya selalu suka dengan buku-buku yang membahas tentang mimpi. Selain tentang mimpi, buku ini juga memiliki kisah cinta yang menjadi pelengkapnya. Untuk kisah cinta sendiri, tidak terlalu dibahas karena kisah berfokus akan mimpi Rayyi.
Tokoh-tokoh di dalam buku ini juga sangat hidup sehingga saya bisa dengan mudah tenggelam ke dalamnya. Saya menyukai perubahan karakter Rayyi terhadap Haru. Rayyi yang mulanya dingin dan tidak peduli dengan Haru perlahan membuka diri kepada gadis itu. Namun yang saya kurang sukai dalam karakter Rayyi adalah sifatnya yang kurang berani dan tegas jika berhadapan dengan ayahnya.
Biasanya, saya kurang menyukai karakter yang seperti Haru karena biasanya karakter-karakter tersebut suka kekanak-kanakan dan lemah. Tetapi, semua itu tidak berlaku untuk Haru. Dia gadis yang imut dan juga kuat. Dan, saya suka itu.
Film dokumenter membuatku sadar bahwa hidup ini nyata, bahwa dunia yang kutinggali ini tidak sempurna. –Halaman 178
Selain itu, saya menyukai hal-hal tentang dokumenter yang menjadi bidang kesukaan Haru dan Rayyi. Semuanya digambarkan secara jelas. Membuat saya jadi ingin bekerja di bidang perfilman. Bisa itu dokumenter atau fiksi. Yang terpenting saya bisa membuat sebuah film yang mengambil sakura menjadi latarnya atau tema dari cerita tersebut:))
Seperti buku-buku sebelumnya, susunan kata dalam buku ini rapih begitupula alurnya walau ada beberapa bagian yang lumayan membingungkan dan keluar dari nalar. Seperti Haru yang tidak melakukan kemoterapi selama tinggal di Indonesia. Apalagi penyakitnya sudah masuk ke tahap yang memiliki harapan untuk sembuh sangat tipis. Saya juga kurang menyukai alasan Rayyi dipanggil Bao. Rasanya seperti dipaksakan walaupun saya sudah berusaha memahami alasanya.
“Selalu ada impian besar dari impian lain.” –Haru
Montase membuat kita sadar bahwa hidup ini tidak abadi layaknya bunga sakura dan juga mengajarkan kita untuk tidak berhenti meraih mimpi sesulit apa apun jalan yang akan kita lalui dalam meraihnya^^
4 dari 5 bintang untuk Montase













