Reduksi Kebaikan
Ketika kamu tidak menyukai seseorang karena keburukan sikapnya, kamu harus ingat bahwa keburukan itu tidak terjadi tanpa sebab. Tayangan yang ia lihat, kata-kata yang ia dengar, dan segala perlakuan yang ia rasakan membentuknya menjadi ia saat ini. Ia yang kamu benci.
Memangnya kamu bisa memastikan keburukan itu ia sengaja? Tentu saja tidak. Semua orang ingin menjadi baik. Sayangnya, lingkungan yang berbeda membuat definisi kebaikan kita dan kebaikannya berbeda. Di lingkarannya, yang ia lakukan mungkin masih tergolong baik, padahal bagi kita hal itu telah berada di bawah standar kebenaran. Terlebih lagi, reduksi kebaikan juga berlaku.
Reduksi kebaikan maksudnya begini. Ibaratkan seorang guru menggambar lingkaran di papan tulis dengan bentuk lingkaran yang sempurna. Ia memerintahkan para siswanya menggambar lingkaran yang sama. Semua siswa berusaha meniru seperti yang dicontohkan. Ia pun melihat dan berusaha memperbaiki setiap gambar siswanya. Namun kenyataannya tetap saja ada yang menjadi sedikit oval, bengkok, atau kekurangan yang lain. Akhirnya ia bolehkan, ‘yang penting’ sudah mendekati. ‘Ya boleh lah’ atau ‘yang penting’ itu juga semakin mengurangi kesempurnaan lingkaran. Kemudian ada reduksi lagi jika siswa itu mengajarkan ke temannya dengan standar baru. Standar yang sudah tereduksi dari lingkaran sesungguhnya di papan tulis.
Mengenai reduksi kebaikan, menurut saya setiap orang hanya mengalami sejumlah kecil reduksi. Namun seperti bola salju, reduksi-reduksi kecil itu akan menjadi besar setelah melalui turunan yang panjang dari rantai interaksi dengan orang-orang. Orang-orang baik itu lama-kelamaan menjadi benar-benar buruk di tempat lain. Demikian, toleransi kadang memperbesar reduksi, sementara ketegasan bisa memperkecil reduksi itu. Lingkungan, lagi-lagi sangat berperan.
Orang yang kamu anggap buruk itu tak pernah menyadari bahwa mereka mengalami reduksi kebaikan yang besar. Yang ia tahu ia hanya melakukan kesalahan kecil dan itu wajar di lingkungannya. Ya karena ‘ya boleh lah’ dan ‘yang penting’ itu. Masalahnya, ia tidak tahu bahwa hal yang menurutnya baik telah tereduksi sangat banyak dari kebaikan yang sesungguhnya. Ia tidak tahu. Lalu, bagaimana kamu bisa berpikir bahwa mengatasi ketidaktahuan adalah dengan membenci? Ingat ini sebelum memutuskan untuk membenci.






