Perihal Hati (Antara Logika, Hati, dan Kebimbangan)
Jika mengikuti kata logika, aku cukup memahami bahwa usiaku sudah lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan bersama teman hidup. Jika mengikuti kata hati, aku pun sadar bahwa aku menginginkan teman hidup yang mampu saling membuat nyaman dan mau berjuang bersama menghadapi kehidupan.
Jika mengikuti logika, aku pun mulai berpikir "Siapa kira-kira yang akan menjadi teman hidupku?" "Dengan siapa aku bisa merasakan kenyamanan dan dapat berjuang bersama menghadapi kehidupan?" "Bersama siapa aku dapat bertukar cerita dan berdiskusi mengenai langkah yang akan aku ambil dalam hidup?"
Betulah jika seorang wanita membutuhkan imam, yang mempu membimbing baik di dunia maupun di akhirat. Tentunya logika tak mampu memutuskan sendiri. Hati pun perlu diajak berdiskusi.
Lalu, hati pun mulai berpikir. Ingin membuka kesempatan, namun bingung harus seperti apa. Antara siap namun tak siap. Lalu bayang masa lalu pun seketika muncul.
Bukan. Bukan berarti aku belum mengikhlaskannya. Bukan berarti aku belum rela menerima takdir bahwa aku tak bisa bersamanya. Namun, kenangan manis yang sekian tahun mengisi hari-hariku masih kuingat. Dan menjadi pertanyaan baru di hatiku.
Akankah nanti aku bisa bertemu laki-laki yang lebih baik darinya? Yang bersamanya mampu membuatku nyaman dan tampil apa adanya?
Antara logika, hati, dan kebimbangan.
Alderamin Reiza- Depok, 31 Mei, 06 Juni 2022















