Queer Eye’d
Kemarin sore mulai nonton Queer Eye Season 6 di Netflix dan argh, lupa banget sensasi nonton series ini yang memang sehangat itu. Minimal berkaca-kaca di tiap episodenya. Kangen juga nontonin cowo-cowo kekar dan super well-groomed tapi begitu MANIS ngalah-ngalahin anak remaja pengguna Emina. Tiap kali mereka muncul di layar dan menyapa si orang yang nantinya akan mereka make over, dunia seakan diisi oleh unicorn, pelangi, permen dan juga glitter. Positif banget.
Kalau lagi butuh extra uplift di hari yang terasa gloomy, nonton Queer Eye bener-bener kayak ngasih kepercayaan lagi sama dunia. Bikin hati hangat.
Premisnya sederhana sih, orang-orang mempromote orang terdekat mereka yang dirasa membutuhkan 360 makeover dalam hidup mereka. Masing-masing Fab 5 punya perannya masing-masing. Tan pegang fashion, Bobby desain interior (I swear he works the hardest), Antoni makanan, Jonathan grooming, dan Karamo sebagai ‘culture expert’. Basically, Karamo yang meng-ignite obrolan heart to heart yang paling sering bikin cirambay😭 tp jujur semua interaksinya begitu pure dan manis. Adegan paling sering bikin nangis juga adalah pas orang-orang ini melihat penampilan baru mereka di cermin setelah beres di-make over sama Jonathan. So precious😭😭😭😭
Yang menurutku indah banget dari Queer Eye adalah bagaimana the Fab 5 ini mengajarkan masing-masing orang untuk mencintai dirinya sendiri. Kebanyakan klien mereka adalah orang-orang terlalu sibuk yang tidak punya waktu untuk mengurus diri mereka sendiri. Mungkin kesannya superficial banget ya, emangnya hidup akan otomatis jadi lebih mudah ketika rambut rapi? Ketika pake baju fashionable? Ketika kamu bisa masak satu hidangan di island yang baru di-remake sampai jadi selevel restoran mewah?
But the outside does matter. Karamo bilang bahwa mereka hanya membantu supaya their outside reflects what’s on the inside :-) There’s no need to feel guilty in treating yourself and taking care about how you look.
Aku juga suka banget gimana make over yang diberikan oleh masing-masing Fab 5 sangatlah thoughtful. Mereka nggak mencoba untuk merubah secara drastis, 180 derajat. Tapi mereka berdialog, selalu bertanya tentang output apa yang para klien mereka inginkan. Ada juga yang resisten, dan mereka selalu open untuk bertemu di tengah. Berkompromi. Kalau mereka nggak nyaman untuk mengubah warna rambut secara drastis, Jonathan fine-fine saja. Make over jadinya hanya mencakup potong dan styling rambut. Begitu pula dengan Tan. Dia tanya, ketika kamu dilihat oleh orang asing di jalanan, kamu ingin mereka berpikir apa tentang dirimu? And he went from there.
It’s just beautiful. I also love how they’re so unapologetically them every. single. time.
















