Sandaran yang Nggak Akan Ke Mana-Mana
Aku bukan orang yang religius. Bertahun-tahun ke belakang aku menjalankan ibadah dengan perasaan datar dan melakukannya karena sudah kewajiban saja. Merapal doa yang sama, menjadikannya default setelah sholat, meyakini bahwa keinginanku akan terwujud karena aku berusaha, merasa bisa pegang kendali.
Lalu, hari yang berat itu datang. Kesedihan jadi tamu tiap hari. Aku yang suka tidur ini jadi sering terjaga. Tidur sebentar lalu kebangun tiba-tiba. Ku putuskan ambil wudhu, sholat dalam keheningan malam. Biasanya aku akan parno pada suara yang tiba-tiba muncul.
Kali ini ada ketakutan yang lebih besar dari takut akan hantu. Malam itu aku cuma nunduk dan nggak berkata-kata. Aku seperti diserang kenangan dan rasa bersalah. Menangis memang selalu melegakan.
Hari lainnya aku mencoba menjabarkan perasaan bersalahku, lewat tulisan, lewat obrolan dengan teman, juga obrolan dengan diri sendiri. Prosesnya agak lama, tapi perasaan tenang itu perlahan muncul. Aku mengakui bahwa aku kufur nikmat, astaghfirullah. Lalu muncul pertanyaan dalam benakku: setelah tau apa yang dilakukannya salah, bagaimana seorang penjahat bertahan dan melanjutkan hidup? Aku belum tau jawabannya.
Aku sempat mengabarkan pada teman kalau aku sudah lebih baik. I'm okay that day, and i know where that feelings come from.
Setelah hari itu aku jadi menantikan terbangun dini hari. Aku selalu kangen cerita pada Allah, ngobrol sendiri yang aku yakini aku didengar. Sepertinya ganjaran dari hari berat ku kemarin adalah perasaan tenang. Perasaan dekat dengan Rabb. Perasaan yakin kalau aku nggak pernah sendirian dan sadar kalau sudah diselamatkan ribuan kali sebelum ini.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى
maa wadda'aka robbuka wa maa qolaa
"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,".
Meskipun ada kalanya perasaan itu looping (dari sedih ke lega, kembali lagi ke sedih), dan gak ada jaminan kapan akan benar-benar hilang, ya gapapa. Mungkin sudah waktunya untuk mengingat lagi.








