Santapan Pagi
Pagi tadi tak ada yang istimewa.
Seperti biasa, istirahat malam bukan keahlianku.
Mata memerah karna marah pada seluruh badan yang melemah. Setiap pagi tak jadi istimewa karna aku lah yang payah.
Di meja masih ada endapan kopi dingin entah sisah kapan. Teman bergadangku itu tak pernah mengusut perkara, jika setiap pagi tak pernah ada sarapan. Kulihat ada 3 bangkai nyamuk mati konyol mengambang diatasnya.
Melihat hal itu aku jadi bingung, siapa yang sarapan dan siapa jadi santapan.
Burung gereja berkelebatan mondar-mandir lincah diluar kaca. Wah, semangat sekali mereka itu, tidurnya pasti nyenyak sekali. Hey kawan, apa yang kau santap pagi ini?
Ku geser jendela kaca berusaha menyapa pagi, bintik embun yang masih menempel pada pucuk-pucuk daun. Ku hisap dalam-dalam aroma tanah basah berharap menyerap juga energinya. Hmmm....Dinginnya mengusap pipi dan tangan.
Ah.., Rasanya aku tak perlu berurusan dengan air pagi ini. Tak ada niat beralasan malas tapi ada jarak dan waktu yang harus ku tebas.
Sebatang lagi gudang garam,
tiga bangkai nyamuk mengambang,
Endapan kopi sisah, entah kapan,
jadi sarapanku pagi tadi.
Pagi akan tetap selalu pagi,
Istimewanya entah kapan-kapan.














