Blind Self
"Run, kamu pasti mau tidur ya?" Bisik sang sobat pada harunnya. Harunnya hanya kebingungan, maksudnya apa dalam kondisi emosi sedang meninggi dan perlu diluapkan kenapa dia bilang malah ingin tidur.
Tapi harunnya tak ambil alih pembicaraan hanya mengernyitkan dahi dan tak ingin banyak bicara. Mungkin lebih tepatnya emot seperti 😣.
Kemudian, sobatnya menyambung dengan sebua kalimat "kamu biasanya kalo lagi emosi gini maunya tidur kan? Biar ga marah-marah ke orang." Sontak harunnya terjeda sepersekian detik, ternyata ada kebiasaan yang kadang tak terlisankan kembali di beberapa waktu yang lama.
Barangkali ini adalah definisi muroja'ah gacuma tentang hafalan quran, tapi juga tentang nilai baik dalam diri. Apalagi prinsip yang ingin dipegang, perlu dilisankan sesekali.
Dan di sesi lain, harun bertemu dengan sebuah teori johari window. Ada blind self yang sedang tidak disadari, dan kemudian jadi open self antara sang sobat dengan harunnya.
***
"Kenapa pake harun?"
Dulu, ketika ada sebuah agenda pengaderan yang materinya sense of belonging pemateri menitipkan bahwa kita adalah sosok yang tak sempurna dan butuh pelengkap untuk mejadi sempurna. Beliau bilang "Carilah Harunmu!", Ketika itu aku dengannya menuliskan hal yang sama. Dan memanggil harun satu sama lain.
Di lain waktu kubaca dalam kitab petunjuk hidup, bahwa memang jelas tergambar ketika Musa as meminta Harun untuk menemaninya. Melengkapi dalam mengemban sebuah tugas dakwah.
***
Salam rindu untuk semua Harunku...
Semoga dalam keadaan baik dan lekas bahagia di dunia dan jua di akhirat~











