Rin and Kyu's Love Game part 1
“AAAAAAAHHHH, finally! Singapore!” Rinrin mendesah senang. “Sudah berapa lama ya aku kemari,” ia tersenyum lebar sambil menghirup udara segar Singapore banyak-banyak. “Beda sekali dengan Jakarta,” ia menghela napas panjang. Masih dengan senyum tersungging di wajahnya, ia berjalan menuju halte dengan langkah ringan sambil menarik kopernya.
Rinrin berdiri menunggu bus jurusannya datang. Sesekali ia tersenyum kepada beberapa orang yang ikut menunggu. Biasanya Rinrin tidak selalu seramah ini, tapi ia tidak bisa menahan perasaan gembiranya. Setelah sekian lama akhirnya ia kembali juga ke salah satu kota favoritenya, Singapore. Dulu Rinrin sangat sering pergi ke Singapore untuk menghabiskan waktu liburan sekolahnya. Tapi ia jadi jarang berkunjung kesini karena ia sibuk dengan sekolahnya. Selama di Singapore, Rinrin tidak menginap di hotel, melainkan di rumah teman ibunya, Tante Hana, yang memang berdomisili di sini. Tante Hana telah menetap di Singapore sejak ia masih mengandung anaknya. Tante Hana berkebangsaan Korea, jadi selama tinggal dirumahnya Rinrin harus menggunakan bahasa inggris atau korea. Rinrin sangat lancar berbicara bahasa inggris dan sedikit-sedikit dapat berbicara bahasa korea sehingga tidak sulit baginya untuk berkomunikasi dengan Tante Hana. Karena itulah dibandingkan kedua saudaranya yang lain, Hana yang paling dekat dengan teman kecil ibunya ini. Tante Hana tidak punya anak perempuan, makanya ia selalu menganggap Rinrin anaknya sendiri. Rinrin pun menganggap Tante Hana sebagai mama keduanya.
“Ah! Bisnya datang!” seru Rinrin senang. Ia segera masuk ke dalam bis dan mencari tempat duduk kosong. Tidak banyak penumpang di dalam bis itu jadi Rinrin bisa menempati tempat duduk kesukaannya, ditengah-tengah, disamping jendela. Ia kemudian duduk. Setelah semua penumpang masuk, bus pun melaju perlahan
*************************************************************************************
“Tante Hana, aku pulang!!” seru Rinrin. Ia selalu bilang “aku pulang” karena rumah ini seperti rumah keduanya.
“Uri ddal!!” seru Tante Hana memeluk erat Rinrin yang kini mulai meringis kesakitan. “Ah.. bogoshipeoyo!”
Rinrin hanya bisa nyengir sambil berusaha untuk tetap bernapas.
“Umma.. isn’t that too much?” terdengar suara seorang laki-laki dari belakangnya. “Lihat itu, muka Rinrin noona sudah berubah ungu.”
Tante Hana mulai mengendurkan pelukannya . Rinrin pun menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara. Ternyata itu Chandoo, anak semata wayang Tante Hana.
“Hong Chandoo! Ya! Sejak kapan kau jadi begini besar? Berapa sih umurmu sekarang?” Rinrin terkejut mendapati Chandoo kecil yang tadinya berbadan mini kini menjelma menjadi Chandoo remaja yang tinggi dan.. tampan.
Chandoo terkekeh geli. “Umurku 16 tahun sekarang. Mungkin Noona yang menyusut!” candanya. “Kau tak mau memelukku?” ia menaikkan sebelah alisnya.
Rinrin mengernyit. “Sekarang kau menjadi seperti ini ya? Menggoda semua wanita. Tapi tidak kusangka kau juga berusaha menggodaku. Kembalikan Chandooku yang polos!” gurau Rinrin sambil memukul pelan lengan Chandoo.
“Ah! Cham! Rinrin-ah.. kenapa kamu tetap memanggilku Tante Hana? Panggil aku Umma Hana! Sudah berapa kali sih kuingatkan?” protes Tante Hana.
“O-oh.. arasseoyo, …Umma,” Rinrin tak berani menolak.
“Nah kalau begitu kan kedengarannya enak. Umma Hana..” Tante Hana tersenyum. “Kamu pasti lelah, sana naik ke kamarmu dan istirahat. Apa kamu sudah makan?” Tanya Tante Hana.
“Yeah. On the plane. Aku ga capek kok, perjalanan dari Jakarta ke sini kan tidak terlalu lama,” kata Rinrin. “Kokjeonghajima,” Rinrin tersenyum meyakinkan.
“That’s true. Kokjeonghajima, Umma. Dia sekuat kuda,” Chandoo menyeringai .
Rinrin menyiptkan matanya. “Jugulhae?” ia menatap Chandoo tajam-taam sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal. “Ayo sini! Mau kurebus kau?!”
Melihat itu Chandoo langsung berlalri kabur dengan tawa puas. “Sekarang, kakiku kan lebih panjang dari kau!”
Rinrin berlari mengejar Chandoo. “Katamu aku kan seperti kuda! Biar kutunjukkan seberapa cepat kuda bisa berlari!” geramnya.
Tante Hana hanya bisa mengamati mereka berdua berlari kejar-kejaran kesana kemari sambil tertawa lembut.
*************************************************************************************
“Selamat makan!” seru mereka berbarengan.
Didepan Rinrin tersaji kimchi soup dan makanan khas korea kesukaannya. Dengan sigap ia segera melahap nasinya bersama dengan lauk nikmat yang ada.
“Rin-ah kau pasti lapar kan? Makan yang banyak ya,” ucap Tante Hana.
Rinrin yang mulutnya sudah penuh nasi hanya bisa meringis dan mengangguk.
“Tak perlu kau suruh juga dia akan makan banyak. Umma seperti tidak tahu porsinya saja,” sahut Chandoo.
Rinrin mengepalkan tangannya didepan Chandoo sambil menggeram.
“Sudah, sudah bertengkarnya. Biar saja lah Chandoo, sebanyak apapun yang dimakan Rinrin dia tidak akan gendut. Liat saja badannya. Lagipula sudah pasti ia lapar, kan dia habis melalui perjalanan panjang ditambah tadi lari-larian denganmu,” ujar Tante Hana.
Ucapan Tante Hana segera disambut anggukan setuju oleh Rinrin.
“Lagian, siapa suruh mengejarku, padahaal sudah tau kakinya pendek. Kau itu memang kuda, noona. Tapi kuda poni,” Chandoo terkekeh geli.
Rinrin yang sudah menelan makanannya kini bisa berteriak, “Neo! Jugulhae?”
“Chandoo-ya, stop mengganggu Noona-mu,” tegur Tante Hana lembut, setengah geli melihat kelakuan Rinrin dan Chandoo. “Sana minta maaf!”
“Arasseoyo..” ucap Chandoo. Ia menyeringai kearah Rinrin,”Noona, kau mencintaiku kan? Nado saranghae. Mianhae?”
“Permintaan maaf macam apa itu?” mau tidak mau Rinrin tergelak mendengar ucapan Chandoo. “Geurae, geurae.. saranghaeyo, Chandoo-ya,” Rinrin masih tertawa geli.
*************************************************************************************Rinrin sedang memakai sneakersnya saat Chandoo menghampirinya.
“Noona, kau mau kemana pagi-pagi seperti ini?” tanyanya.
Rinrin menjawab, “Berkeliling kota,” ia lalu beranjak berdiri.
“Perlu diantar?” Tanya Chandoo ragu. Ia khawatir meninggalkan Rinrin berkeliling kota sendirian, namun ia sudah berjanji untuk menemani temannya pergi ke Amusement Park siang nanti.
Rinrin tersenyum lembut melihat cowok yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri ini peduli padanya. “Tidak perlu,” Ririn menggeleng. “Aku tidak akan nyasar kok. Kau pikir sudah berapa kali aku kesini? Lagipula Jakarta-ku kan lebih besar dan ruwet daripadi Singapore,” Rinrin nyengir.
Chandoo ikut nyengir. “Geurae? Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera telepon. Umma sedang bekerja dan aku nanti mau pergi. Telpon handphone-ku saja ya. Kau tahu kan nomornya?”
“Kau ini cerewet sekali sih seperti Umma. Arasseo..arasseo...” kata Rinrin sambil berusaha meraih kedua pipi Chandoo untuk dicubit, namun Chandoo terlalu tinggi baginya. “Mwoya, kamu bahkan sudah tidak bisa dicubit,” gerutunya.
Chandoo tergelak, lalu menundukkan dirinya hingga dapat diraih Rinrin. “Nih,”katanya.
Rinrin tersenyum senang lalu mencubit pipi Chandoo keras-keras.
“Aw!” pekik Chandoo kesakitan.
Rinrin tergelak. “Kalkke..” katanya sambil berjalan keluar rumah.
*************************************************************************************Rinrin berjalan berkeliling taman menikmati rindangnya pohon sambil sesekali memotret pemandangan dengan kamera kesayangannya. Setelah hampir satu jam mengelilingi taman ini, Rinrin memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman.
“Ah….segar,” ia menghela napas panjang.
Ia sedang melihat-lihat hasil potretannya saat ponselnya berbunyi, “Muncha wasseo, muncha wasseo!”
Rinrin terkikik geli sendiri mendengar ringtone emailnya. Ia selalu teringat salah satu adegan di Secret Garden setiap mendengar ringtone itu.
“Mucha wasseoo, muncha wasseo,”gumamnya mengikuti suara ringtone tadi.
Ia memasukkan kameranya kedalam tasnya dan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Oh rupanya dari Chandoo.. Rinrin tersenyum senang. Dibukanya email itu.
“Noonaaaa, Jangan jauh-jauh dari halte bis, dengan begitu kalau ada apa-apa kau akan cepat kabur. Aku tahu larimu tidak cepat. Ah, kalau pergi ke taman, hati-hatilah. Ada rumor mengatakan kalau disana sedang berkeliaran orang aneh. Nyalakan hpmu terus ya. Hati-hati. Aku tahu noona mencintaiku. Nado saranghae ^^”
“Cih,” Rinrin mendengus geli. “Bocah ini..”
Rinrin memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Ia lalu beranjak dari kursi dan mulai berjalan lagi. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang sedang berdiri dibawah baying-bayang pohon.
“Ah! Kapjagi!” serunya kaget.
Rinrin jadi teringat dengan isi email dari Chandoo. Katanya, ada orang misterius yang mencurigakan di taman ini. Seolma… mungkinkah dia orang itu?
Orang itu tiba-tiba menoleh dan menatap Rinrin tajam begitu mendengar seruan Rinrin. Seketika rasa ngeri mulai datang, tapi Rinrin tetap bergeming diposisinya dan malah menatap balik orang itu. Pria itu sangat misterius . Ia menggunakan masker, kacamata dan beanie hat, juga coat coklat. Gaya-nya memang keren dan ia juga tinggi, tapi tetap saja misterius.
Perlahan tapi pasti, sambil tetap menatap tajam Rinrin, pria itu melangkah kaku ke arahnya. Rinrin mulai diliputi rasa takut. Haruskah aku lari? Kabur sekarang? Mata Rinrin menyapu pemandangan didepannya, mencari halte bus seperti yang disarankan Chandoo di emailnya. Celaka, tidak ada halte bus didekat sini! Rinrin mengutuk dirinya sendiri.
Rinrin sudah memasang kuda-kuda saat pria itu berjalan semakin dekat. Kini jaraknya tak lebih dari 5 meter.
3 meter.. Rinrin sudah menarik napas. 2 meter.. Rinrin bersiap-siap untuk lari. 1 meter.. LARI!!!
“Jamkamanyo!!!” orang itu berseru. Suaranya berat namun lembut dan hangat seperti beludru. Suara yang entah mengapa dikenal Rinrin.
Rinrin sontak berhenti berlari dan menoleh kea rah pria itu.
“W-who are you? Whats your problem with me?” Tanya Rinrin, masih dalam keadaan siap kabur kapan saja.
“Sesonghamnida.. hajiman, aku tidak mengerti bahasa inggris. I.. can’t.. uhm.. speak English well,” kata pria itu terbata-bata.
Eh.. sebentar.. dia berbahasa korea?
“Aku mendegar kau berseru,’Kapjagi’. Apakah kau bisa berbahasa korea?” Tanyanya.
Rinrin tidak sadar kalau tadi ia berseru dengan bahasa korea. Perlahan-lahan ia mengendurkan posisi kuda-kudanya. “Ye.. aku memang bisa bahasa korea. Waeyo?”
“Kemarilah, aku bukan orang jahat. Aku Cuma butuh bantuan,” kata pria itu sambil mengisyaratkan Rinrin untuk berjalan mendekatinya.
Dengan ragu-ragu Rinrin berjalan menghampiri orang itu. “Waeyo, Ahjusshi?”
Mata orang itu terbelalak mendengar perkataan Rinrin. “Ahjusshi? Ya! Memangnya aku terlihat seperti om-om?” protes orang itu. “Asal kau tahu, ya, umurku baru 23 tahun!” kata orang itu gemas.
Rinrin terkekeh kecil. “Daripada itu, kenapa kau memanggilku?” tanyanya.
“Aku butuh bantuanmu,”jawab orang itu.
“Omo!” Rinrin seketika langsung mundur 2 langkah. “Kau tidak mau mengajakku menyebarkan narkoba kan?” tanyanya curiga.
Laki-laki itu mengernyit lalu tertawa pelan.
Suara tertawanya jernih, pikir Rinrin. Seketika tubuhnya diselimuti perasaan hangat. Siapa dia?
“Tentu saja tidak!! Michyeosseo?” ia memutar matanya.
Okey suaranya memang jernih tapi kata-katanya membuat kesal.
“Mwoya? Michyeo? Keh.. kaulah yang gila. Kenapa di siang terik seperti ini kau berpakaian gelap sekujur badan dan memakai kacamata serta masker?” protes Rinrin.
“Aku begini ada alasannya,” ucap orang itu kalem.
“Aish, kau ini. Sudah cepat katakan kau mau minta bantuan apa? Kau kira aku tidak sibuk?”
“Cih,” orang itu mendengus. “Arasseoyo, dongsaeng..”
“Marhae..” perintah Rinrin.
“Aku tersesat. Aku sedang ada pekerjaan disini. Saat itu aku merasa sangat suntuk dan memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar lokasi. Waktu aku ingin kembali ke lokasi, ternyata aku sudah tersesat,” ujar pria itu.
“Oh..” Rinrin mengangguk-angguk. “Memangnya lokasinya itu dimana?”
Laki-laki itu berpikir sebentar. “Kau tidak perlu tahu lokasinya, aku hanya minta diantar ke hotel tempatku menginap.”
Rinrin menatapnya heran namun tidak terlalu mempermasalahkannya. “Dimana?” Tanya Rinrin.
“Entahlah namanya aku lupa. Silver.. Mer.. Mer..” orang itu berusaha mengingat.
“Mermonkey?” cetus Rinrin.
Orang itu terdiam. Kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. “Mermonkey? Bagus juga kau nak,” ia mengacungkan jempol kea rah Rinrin.
“Tto..tto.. teruslah kau tertawa,” dumel Rinrin.
“Ah! Aku ingat! Nama hotelnya, Silver Merlion,” kata orang itu.
“O.. silver merlion? Aku tahu tempatnya. Kau cukup berjalan ke halte yang ada di simpangan jalan itu lalu naik bis jurusan..”
“Tunggu!” potong orang itu. “Mau kau jelaskan pun aku tetap tidak mengerti. Lagipula aku meninggalkan seluruh barang bawaanku ditasku. Yang kubawa saat ini hanya ponselku, tapi ponselku mati karena baterenya habis,” jelasnya.
Rinrin mengangguk-angguk mengerti. “Kalau begitu.. sampai jumpa,” ia mulai berjalan meninggalkan orang itu.
“Ya! Kau mau meninggalkanku?!” teriak orang itu.
Rinrin berbalik. “Terus apa? Aku harus mengantarmu? Ke hotel itu? Berikutnya kau pasti akan menyuruhku mengantarmu sampai kamar hotelmu!” tuduh Rinrin. “Lalu selanjutnya… Hiii” Rinrin bergidik ngeri.
Mata orang itu membesar mendengar tuduhan Rinrin. “Dengar ya Nona, aku bukan orang yang seperti itu. Yang jelas, aku hanya akan minta kau untuk mengantarku ke Silver Merlion Hotel. Dan hanya kau yang bisa kumintai tolong karena tidak ada yang mengerti bahasa korea selain kau.”
Rinrin mulai merasa tidak enak hati. “Setidaknya buka maskermu. Penampilanmu sangat mencurigakan, kau tahu? Siapapun pasti akan berpikiran sepertiku,” ucapnya.
Laki-laki itu menggeleng. “Maaf, tidak bisa.”
“Kalau begitu, maaf, aku juga tidak bisa,” Rinrin berbalik dan mulai berjalan lagi. Tapi tiba-tiba orang itu merebut kameranya yang dikalungkan di lehernya.
Rinrin terkesiap. “Ya!! Kembalikan kameraku, dasar kau pencuri!!!!” serunya.
Orang itu mengalungkan kamera Rinrin di lehernya. “Kalau kau mau mengantarku, aku akan kembalikan kamera ini. Dari nada suaranya Rinrin bisa mengetahui kalau ia menyeringai puas.
Rinrin mulai merasa emosi. “Mwo?!” Tanyanya tidak percaya. “Kau ini kenapa sih sebenarnya?!! Memaksaan kehendakmu seenaknya. Memang kau pikir kau siapa?!!!”
Laki-laki itu terkejut melihat amarah Rinrin. “Y-ya!” serunya terbata-bata. “Bukankah sudah kubilang, aku butuh bantuanmu. Kau kira aku mau melakukan ini?”
Rinrin berpikir sejenak. “Johayo!” katanya akhirnya. “Hae-ya!”
“Keunde..” potong Rinrin, menatap mata orang itu tajam. “Kalau kau melakukan satu hal yang mencurigakan. Satu hal saja..” ia mengepalkan tangannya didepan wajah orang itu. “Awas saja!” ancamnya. Ia lalu berbalik dan berjalan menjauh.
“Cih.. Perempuan gila,” gumam orang itu kesal.
“Waeyo? Ankayo?” Tanya Rinrin.
“K-kayo!” sahut orang iitu lalu berlari kecil mengikuti Rinrin.
Sesampainya di halte, orang itu bertanya, “Apakah tidak lebih baik naik taksi?”
“Mana bisa! Lebih baik naik kendaraan umum. Bayangkan kalau semua orang menaiki taksi dan malah tidak menaiki bus? Es di kutub pasti sudah habis sekarang. Lagipula sama nyamannya dan sama cepatnya,” jelas Rinrin.
Orang itu memutar bola matanya.
Mereka pun menaiki bus itu namun tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Terpaksa mereka harus berdiri.
“Kalau kita naik taksi, kita tidak perlu berdiri seperti ini,”kata pria itu gemas.
“Cerewet! Sudah diam saja! Lagipula aku yang bayar kan?” Ucap Rinrin ketus. “Aku hanya..”
Tiba-tiba bus yang melajunya lumayan kecang itu mengerem. Rinrin yang badannya kecil pun nyaris jatuh. Dengan sigap orang itu menangkap tubuh Rinrin. Nyaris memeluknyaa.
“Kwaenchanha?” tanya orang itu.
Rinrin yang baru tersadar dari keterkejutannya menjawab terbata-bata, “Ah y-ye.. G-gomawoyo..”
“Makanya, pengangan yang erat! Jangan marah-marah terus seperti itu!” pria itu melepaskan tangannya dari Rinrin.
“Siapa juga yang marah-marah?!” seru Rinrin dengan bahasa Indonesia. “Lo tuh.. bikin kaget aja tau gak. Meluk-meluk kayak gitu,” ia mengalihkan mukanya.
Pria itu menatap Rinrin bingung. “Busunmariya? Kau ngomong apa sih?”
Untung aja dia ngga ngerti bahasa Indonesia
“A-ah! S-sebentar lagi kita sampai..” Rinrin menunjuk kea rah jendela. “Itu hotelnya, yak an?”
Pria itu mengangguk-angguk. “ Matjyeo! Itu hotelnya.”
Rinrin berjalan dengan hati-hati ke pintu keluar. “Ayo.”
Setelah bus berhenti di halte tujuan mereka, Rinrin dan orang itu pun turun.
“Kau mau aku mengantarmu sampai hotel atau disini saja?” tanya Rinrin.
Pria itu menggeleng. “Tidak perlu. Lagipula sudah dekat kok, aku tidak akan tersesat lagi,”ia tertawa kecil.
Seketika sekujur tubuh Rinrin seperti tersengat listrik mendengar tawa orang itu, tapi ia menghiraukannya.
Rinrin mengangguk canggung. “O-oke kalau begitu. Annyeong!” katanya berjalan menjauh.
“Ah, jogiyo,” seru orang itu.
“Terima kasih banyak! Hati-hati dijalan,” ia melambai.
Rinrin kembali mengangguk canggung. “Annyeong!” kemudia berjalan lagi, kali ini lebah cepat.
Pria itu mendengus,”Ada apa dengan cewek itu sih? Kenapa sepertinya ia sangat membenciku,” ia berjalan ke arah hotel.
Saat ia memasuki hotel, ia melihat seseorang yang dikenalnya tengah berjalan kea rah lift. Ia pun berjalan lebih cepat.
“Donghae hyung!” bisiknya setelah ia berada cukup dekat dengan orang itu.
“Oh, Kyuhyun-ah. Kenapa kau disini?” tanya Donghae. “Kau sendirian? Kenapa memakai masker?”
“Nanti kuceritakan,” kata Kyuhyun sambio memencet tombol lift. “Oh?” Kyuhyun menyadari ada sesuatu yang sedari tadi menggantung di lehernya. “Kamera cewek itu!”
“Cewek itu?” tanya Donghae bingung. “Kau bertemu dengan siapa tadi? Apa ada masalah?”
Ting! Pintu lift terbuka.
“Ayo masuk ke dalam lift dulu. Kuceritakan,” kata Kyuhyun.