#filmbuatmelek
Mas Hamid, aku terharu dan merasa terhormat jadi orang terakhir yang kamu tag di jejaring Path. Apalagi, njenengan men-tag aku untuk soal yang kini selalu kurindukan.
Ya, kita memang berbagi “persepsi” yang sama soal Pamela Anderson dan film Barb Wire. Kita bisa ngikik-ngikik saat beradu mention soal ini, sekitar 5 tahun lalu. Gojek kere, gaya becandaan kita yang memang culun dan acak-acakan.
Waktu itu di twitter sedang rame soal #filmbuatmewek, tentang film-film yang bikin sedih. Alih-alih ikutan sedih, kamu malah bikin tagar #filmbuatmelek. Entahlah, mungkin karena pengetahuan kita soal film yang sangat terbatas—atau mungkin karena kita memang enggan bersedih-sedih dan selalu merawat kewarasan dengan selalu tertawa.
Lalu bertambah panjanglah untai percakapan kita soal #filmbuatmelek itu. Tagar itu pula yang membawa kita bertemu pertama kali di tahun 2012 dalam Jagongan Media Rakyat - Jogja. Acara komunitas bagi golongan akar rumput dan masyarakat desa.
Di kampus APMD itulah aku bertemu njenengan. Kita bersalaman. Kamu tersenyum dengan gaya khas. Walau baru pertama bertemu, tapi sudah seperti sahabat lama.
“Mas Irfan, nanti malam kita nonton film buat melek yuk? Hahaha. Kita berdua tertawa-tawa. Lalu kamu bertanya, “Sampeyan ndak merokok kan? JANGAN MAS. Sebaiknya JANGAN.” Hahahaha.
Malamnya kita ketemu lagi. Menonton wayang di lapangan kampus, dengan dalang yang eksentrik. Dalang dengan beskap, tapi berkaos dan berkacamata hitam. Dalang ga jelas dengan gaya becanda yang juga ga jelas. Gojek kere. Guyon agraris.
Sampai jam 1 malam kita saling mengejek dalang, pemain musik dan penyanyi yang semuanya satu frekuensi soal becandaan.
Mas, njenengan mengingatkanku pada Slamet Gundono. Dalang pesisir berbadan besar, dengan hati yang tak kalah besar. Hati yang amba dan jembar—hati yang lebar dan menaungi. Seorang kyai kampung dengan Suket (rumput/ilalang) sebagai jalan dakwahnya. Seorang sufi berpikiran jernih yang dalam sosok yang sederhana.
Kamu dan dia sama-sama mengajarkan jalan Tuhan dengan cara yang sangat bersahaja. Gaya bicaranya blak-blakan, namun di sanalah kebenaran.
Di hari baik ini, aku titipkan banyak-banyak Al Fatihah buatmu.
Kelak aku ingin sepertimu Mas. Dikenang oleh banyak orang dengan cara yang sangat sederhana, sebagai orang baik yang juga rendah hati.
Selamat menonton dunia dari atas sana.
Sugeng tindhak, Mas.












