Pernahkah terlintas apa yang memotivasi seseorang sehingga sangat rajin beribadah atau melakukan amalan kebaikan?
Mungkin karena dia bertaubat dan ingin lebih mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Menciptakan.
Mungkin juga karena amanah dari Orang Tuanya agar anaknya menjadi manusia yang Taat Perintah Agama.
Atau mungkin karena dia berteman dengan orang-orang shaleh sehingga lebih banyak hal kebaikan yang dia lakukan.
Namun mungkin jawaban yang lebih spesifik adalah karena dia tahu ilmu nya dan dia amalkan.
Kenapa dia rajin shalat berjamah di masjid?
Karena dia tahu ilmunya, bahwa Shalat berjama'ah lebih besar 27° pahalanya dibandingkan shalat sendirian, dia pun tahu bahwa jika seseorang melangkahkan kakinya ke Masjid untuk shalat berjama'ah maka baginya setiap satu langkah Allah gugurkan dosanya dan satu langkah lainnya Allah naikkan derajatnya.
Kenapa dia rajin melakukan shaum sunnah?
Karena dia tahu bahwa kelak di Syurga ada pintu Syurga yang namanya Ar-Rayan dimana tidak ada seorang pun yang dapat memasukinya melainkan mereka yang senang berpuasa.
Kenapa dia rajin tilawah Al-Qur'an?
Karena dia tahu bahwa pahala yang Allah berikan adalah 1 kebaikan di setiap huruf yang dia baca, dan dia juga tahu bahwa kelak Al-Qur'an datang di hari kiamat sebagai pemberi syafa'at.
Lantas bagaimana jika kita sudah tahu ilmunya, tapi kita tidak tergerak untuk mengamalkannya?
Maka periksalah hati kita, masihkah hati kita bergetar ketika nama Allah disebut? masihkah hati kita lunak dan merasakan ketenangan ketika mendengarkan Ayat-Ayat CintaNya dibacakan?
Atau mungkin hati kita sudah keras bagai batu, hitam dan sulit tertembus oleh hidayaNya? (yang ini lirik lagu hehe)
Itu pasti karena dosa-dosa yang kita lakukan sudah seperti menjadi kotoran yang membandel di kain putih sehingga sulit dibersihkan.
Lantas kalau sudah seperti itu bagaimana? Kalau kata Pemuda Hijrah, langkah pertama untuk hijrah adalah tinggalkan dosa. Caranya? dengan banyak-banyak Beristighfar (Baca tulisan sebelumnya, karya muhammad asril maulana ) , mudah-mudahan Allah membersihkan dan melunakkan kembali hati kita.
Dan lagi-lagi mengutip dari salah satu Buku Karya A.Mukhlis, disana dituliskan:
“Di segumpal daging itu, berkumpul semua amal, sifat, masa lalu dan depanmu
Yang bila ia hitam, hitam pula jiwamu
Dan jika ia putih, putih juga dirimu
Ia adalah nasibmu
Yang gaib, yang selalu berbisik, yang paling bisa kau kendalikan.
Maka tidakkah kau berpikir
Perjalanan ini harus dimulai darinya?”
Subhanallah… semua berawal dari hati kita, ibarat pasukan, Hati adalah Komandan nya dan anggota tubuh lainnya adalah prajurit nya.
Maka saatnya mengendalikan hati kita untuk berjuang dan membentengi hati melawan serangan hawa nafsu dan menguatkan hati untuk selalu istiqamah cinta kepada amalan amalan kebaikan.
Semoga Allah selalu Meneguhkan Hati kita di atas AgamaNya, dan Allah Mengarahkan Hati kita untuk selalu Ta'at kepadanya.
“Yaa Muqallibal Qulub Tsabbit Qulubana ‘Alaa Diinik”
“Ya Musharrifal Qulub Sharrif Qulubana 'Alaa Tha'atik”
Minggu, 16 April 2017
Jalan Tol Cikampek
Ditengah Kemacetan, Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya.