Setelah cukup lama jeda, rumahlebah #4 ruangpuisi kembali akhir 2016 lalu, terbit dengan mengusung tema "Konvensi Lama, Kreasi Baru". Edisi terbaru dari jurnal puisi yang berbentuk buku ini diisi oleh sepilihan sajak, esai tentang puisi, sajak-sajak terjemahan dan wawancara penyair. Jika di edisi ketiga, rumahlebah yang terbit 2012 lalu, memberi ruang lebih terhadap Afrizal terkait diri dan kekaryaannya, edisi keempat ini, #rumahlebah memberi porsi besar terhadap Haiku. Selain telaah panjang Hendragunawan S. Thayf terkait haiku dalam sastra indobesia, juga ada sepilihan #haiku terjemahan oleh Sogi-Vigilio. Komplitlah sebagai sebuah panduan mendekati haiku. Selain itu sejumlah esai terkait Parikan dalam Ludruk, Sastra Arab pra-islam hingga analisa puisi modern di Koran Medan dalam rentang waktu 1918-1919. Sejumlah penyair Indonesia ikut ambil bagian, mereka adalah: Sthiraprana Duarsa, Rudiana Ade Ginanjar, Na Lesmana, Ahmad Kekal Hamdani, dan T. D. Ginting. Rubrik wawancara memuat tokoh Rusli Marzuki Saria, untuk puisi terjemahan fiisi oleh haiku Sogi-Vigilio, puisi M. Vaselis, Mahmoud Darwish, dan David Renton. Penutup ada ulasan puisi Riki Dhamparan Putra, Mencari Kubur Baridin oleh Bambang Q. Anees. Semoga kelahiran baru #ruangpuisi ini mendapat tempat di hati pembacanya Rumahlebah 4, ruangpuisi, Yogyakarta: FramePublishing, 2017, 196 hlm, 50.000 → 45.000 (di Jualan Buku Sastra) https://www.instagram.com/p/BO8mOw3j7Ts/?igshid=1y2cg6hr1tozo