Menjaga Independensi Ala Kompas
Foto : www.unpad.ac.id
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 memang menarik untuk dibahas.Tidak terkecualidalam kaitannya dengan media massa. Selama masa Pilpres 2014, banyak media massa seakan melupakan ‘kodratnya’. Berbagai media massa berlomba-lomba mempromosikan calon presiden dari partai politik yang berafiliasi dengan mereka. Mereka bahkan tidak ragu menampilkan hasil hitung cepat yang tidak akurat dan kredibel kepada masyarakat demi kepentingan calon presiden yang mereka dukung.
Sebagai media massa yang menjunjung tinggi independensi, Kompas memiliki perhatian khusus terhadap fenomena ini. Perhatian tersebut ditunjukkan melalui acara Kompas Saba Kampus bertema “Pemilu dan Peran Media” yang dilaksanakan pada Kamis, (12/6), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain seminar, Kompas Saba Kampus juga membuka delapan kelas workshop yang terdiri dari menulis jurnalistik, fotografi jurnalistik, research development, business development, advertising, marketing communication, desain grafis, dan teknologi informasi.
Budiman Tanuredjo, selaku Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, memberikan pengetahuan mengenai jurnalisme presisi dan hubungannya dalam pemberitaan yang berkaitan dengan pilpres. Budiman menjelaskan bahwa jurnalisme presisi merupakan metode gabungan antara jurnalistik dan pencarian berita berbasis data yang diperoleh melalui survey pendapat umum, wawancara tokoh terkait, serta deskripsi lapangan secara detail dan terperinci.
Jurnalisme presisi dapat menjadi salah satu solusi di tengah maraknya keberpihakan yang dilakukan oleh berbagai media massa tanpa menghiraukan nilai-nilai jurnalistik yang ada. Terutama, bila dari keberpihakan tersebut justru menghasilkan pemberitaan yang menyesatkan masyarakat. Media massa sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat seharusnya bersikap independen dan menyajikan berita yang akurat sebagaimana diatur dalam pasal pertama Kode Etik Jurnalistik.















