Kapanpun mimpi terasa jauh oh ingatlah sesuatu ku akan selalu jadi sayap pelindungmu - the overtunes #kompastv #kompaskampus #mikhaangelo #theovertunes (di Auditorium USU)
seen from Türkiye
seen from China
seen from Australia
seen from Canada

seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from Belarus

seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Sweden
seen from United States

seen from Italy
seen from Türkiye
seen from China
seen from Russia
seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from United States
Kapanpun mimpi terasa jauh oh ingatlah sesuatu ku akan selalu jadi sayap pelindungmu - the overtunes #kompastv #kompaskampus #mikhaangelo #theovertunes (di Auditorium USU)
#squaredroid @kompastv #KOMPASKAMPUS
When Reality is Where We Are Not At
Setelah melalui saat-saat yang tidak menggembirakan lately, akhirnya aku berhasil meninggalkan kenyataan itu. Sayangnya cuma sesaat. Nggak berharap selamanya juga sih, YANG BENER AJA it means aku meninggalkan kenyataan dong (yaiyalah).
Bahagianya, aku nggak sendirian dalam perkaburan diri dari kenyataan tersebut. Ada 7 orang manusia yang bernasib sama dengan aku dalam hal itu. Sebenernya aku nggak begitu aja bergabung dalam pelarian mereka karena berbagai urusan di dunia kenyataan yang banyak memberi ketidak pastian sampai akhirnya aku bisa dipastikan ikut pada ha min satu. #GoodLuckTiara.
Tepat hari Selasa, 9 Desember 2014, hari ha itu tiba. Sebelum aku meninggalkan kenyataan, aku harus menaruh beberapa barang keperluan kenyataan di salah satu kos teman. Hmm, nggak seru kalo nggak nyampein kenyataan apa yang aku maksud. Jadi, hari Selasa itu kebetulan aku dapet jadwal praktikum jamur dan matkul genetika. Tapi, yaelah, toh hal begitu bisa aku lakuin juga kapan-kapan lagi, selagi ada jadwal ‘berlari’, why not?! AHAH AH HA AHAH HAHAH. One of my friends juga sangat mendukung aku buat ‘berlari’, “udah lah tir, kamu ikut aja! Trust us! Itu kesempatan langka yang kamu belum bisa dapet di lain hari!” and yeah aku semakin mantjap.
Setelah mengumpulkan batang hidung ke-delapan orang ini, kami pun berangkat bersama seorang bapak yang mengantar kami mengendarai mobil. O ya, 8 orang itu adalah:
Cele, si menggemaskan & pusat informasi gosip yang selama di mobil duduk di depan bersama si bapak.
Sisca, si cewek-yang-agak-dirty ini duduk di bagian tengah deket pintu sebelah kiri, sambil tak henti ber’rrrrrrrrrr-ha!’ ria selama ada alunan lagu dangdut dari manapun
Keyla, si cewek yang hidup untuk nyanyi, sampe lagu dangdut ‘masa lalu’ jadi soundtrack sepanjang perjalanan, sampai si bapak kayaknya udah di titik kegrisihen. Keyla duduk di sebelah sisca.
Sara, si cewek yang suka nyanyi juga tapi ga separah keyla, cenderung ga banyak omong, yang biasanya menenangkan keyla dari kegalauan. Sara duduk di sebelah Keyla
Tiara, si cewek yang selama perjalanan berhaha-hihi kecil, menikmati makanan yang dibawa Sisca, hingga akhirnya ngantuk dan nyicil tidur di perjalanan. Duduk di pojok kanan, sebelah Sara.
Daniel, cowok yang duduk di belakang bagian kanan ini lumayan sedikit menimpali kelucuan, sambil berhaha-hihi kecil dan mengatakan sesuatu yang aneh.
Samuel, si tua bijak yang jadi beatbox-er selama keyla nyanyi, duduk di sebelah Daniel
Dwiko, si pemodus yang jadi co-beatbox-er nya Samuel selama Keyla nyanyi. Hasil modusannya sudah bisa dilihat di cewek yang duduknya di sebelahku.
Perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam akhirnya selesai. Kami sampai di Taman Safari 2, Prigen! Aw yiss. Kami turun dari mobil dan mengeluarkan pedang tongsis. Buat foto-foto, bukan buat mukul pantat orang.
yang paling terang bagaikan tersorot cahaya Tuhan itu yang namanya Cele.
Kami masuk ke ruang acara, absen, dan dapet goodie bag... isinya... ada kaos. Tapi dalem hati sudah khawatir karena pasti bajunya ukuran all size, pesertanya mahasiswa, yang cowok badannya gede-gede. Sedangkan badanku porsi hemat. Suasana hati sudah gelisah duluan membayangkan aku harus pakai kaos yang ukurannya sama kayak ukuran cowok-cowok besar.
Kegelisahan itu terwujud. Kaosnya gede. Banget. Panjangnya kira-kira sepahaku, kayak pakai mini dress mbak-mbak gaul yang di mall gitu. Dan ini, kaos. Bukan mini dress. But at least I got a new shirt which is nice. HEHEH HEEHEHHH.
Setelah ganti baju bersama cewek-cewek, kami memasuki ruangan workshop yang ternyata kami peserta yang pertama masuk ke ruangan. Sempetin dulu check-in Path, foto pake baju baru, baca Diary of Wimpy Kid di tab sebelum acara mulai. And, weird, aku bacanya pas dibagian dimana Chirag Gupta jadi inti cerita di Diary of Wimpy Kid yang aku baca dan pembicara materi fotografi namanya Bahana Gupta.
itutuh baju barunya, bagus kan? bagus dong.
Acara dibuka sama mbak MC yang cukup centil, seketika aku bayangin kalo aku yang harus jadi MC acara kayak gitu. Membayangkan kalo aku harus jadi centil kepada mas-mas yang duduk dibarisan paling depan. Pasti acaranya ga akan berjalan mulus. Bayangan yang nggak sesuai kenyataan gila tir!
What the fuck, brain.
Akhirnya Mas Bahana masuk buat nyampein materi fotografi. Jujur, sebenernya fotonya bagus tapi aku kurang menikmati, gatau kenapa. Tapi caranya doi nyampein cerita itu asik banget, itu salah satu pendukung fotonya jadi bagus (lah?). Gimana aja perjuangan buat dapet foto jurnalis, disampein sama Mas Bahana. Lumayan, buat bekal kalo ntar kapan-kapan punya kamera bagus, kali aja bisa jadi fotografer jurnalistik. Ekehekehkehhekke.
ini pas Mas Bahana nyampein materi tentang fotografi. kami duduk di arah jarum jam 10 kalo diliat di foto ini. iya, nggak keliatan memang (courtesy: Facebook page Taman Safari Indonesia II)
Materi fotografi selesai, kami pun makan. Makannya lumayan enak, ada daging bumbu apa gitu pokoknya enak. Setelah makan, kami ketawa-ketiwi sampe akhirnya aku inget kalo aku punya suatu gerakan yang diajarin sama Bella, adik sepupuku.
Dan sesuai perkiraan, gerakan itu bikin ketawa berceceran dimana-mana. Eheheehh, akhirnya aku berhasil melucu.
Setelah makan siang, dilanjutkan sama materi menulis sama pembicara yang namanya Pak Pepih Nugraha. Sorry to say, tapi boring banget pas di sesi tanya jawab. Buat antisipasi biar ga ngantuk, aku mencoba nyicil baca-baca materi biokim buat tugas penyakit akibat degradasi asam nukleat-nya Pak Arta (sampai cerita ini dipublish, tugas itu belum aku kerjakan heheh heheh heheh).
Nggak ngaruh, tetep ngantuk, akhirnya ga konsen baca biokim lagi.
Aku lihat Daniel yang duduk di sebelahku udah nggak bisa menahan gerakan menutup dari kelopak matanya dengan tangannya yang terus berusaha nulis, hasil tulisannya persis sama tulisanku pas lagi ngantuk di kelas tapi tetep kekeuh buat berusaha nulis. Hasilnya? Juelek.
Badai mengantuk berlalu seiring dengan berakhirnya materi menulis yang dilanjutin sama jalan-jalan keliling Taman Safari! Ini yang aku tunggu-tunggu, karena sebenernya selama ke Taman Safari aku belum pernah naik bisnya (atau pernah tapi lupa ya?)
Selama tour, si fotografer-fotografer di dalam bis ini cukup mengakuisisi hak ku buat menikmati pemandangan hewan-hewan. Gimana enggak, tiap ada pemberhentian buat liat hewan, mereka langsung berdiri dan foto-fotoin hewannya, sampai ada salah satu fotografer yang di sebelahku bolak-balik menyenggolkan tas kameranya ke pundakku yang itu sangat amat mengganggu kenikmatanku saat liat binatang di luar sana.
kalo kayak gini, yang bukan fotografer mau menikmatinya liat hewannya gimana dong? (courtesy: Facebook page Taman Safari Indonesia II)
Daripada rugi, aku lihat senderan kursinya nyaman banget, inilah saatnya aku buat menikmati fasilitas senderan kursi. Dan, seperti biasa, aku mulai ngantuk.
Sesampainya kami di daerah baby zoo, aku mikir kami bakalan ke baby-baby hewan yang lucu-lucu. Aku udah pengen ketemu baby orang utan, atau ketemu Sammy! Aku kangen Sammy, mungkin sekarang Sammy sudah besar udah nggak baby lagi. Aku udah kangen orang utan banget pokoknya.
Ternyata, kami cuma jalan-jalan mengelilingi hewan-hewan lain, nggak ke tempat baby nya. So sad, aku langsung nggak semangat. Ditambah insiden holder tongsisku ucul entah kemana dan kami tersesat.
Aku berharap sih kami tersesatnya lama, biar acaranya molor dan kami yang tersesat ini bisa menikmati jalan-jalan tanpa khawatir. Tapi ternyata jalan-jalannya bikin capek sekali, karena ternyata Taman Safari luasnya nggak cuma se-daun kelor.
ini pas kami mau memulai perjalan-jalanan. 5 orang terdepan itu ada keyla, sisca, tiara, samuel, dan daniel (di belakang samuel). (courtesy: Facebook page Taman Safari Indonesia II)
Akhirnya kami bisa bertemu dengan rombongan kami yang hilang (hilang? Harusnya sih kami yang hilang, kan kami yang tersesat) dan kembali ke ruangan dilanjutin dengan undian door prize.
Sayangnya aku kurang beruntung karena sebelum berangkat tadi belum di jampi-jampi sama ibu, kan nggak tau kalo ternyata ada undian door prize begituan.
Sara, Daniel, Sisca dapet undian berupa voucher makan di cafe yang ada di Malang & voucher taman safari. Meskipun ga kepake, lumayan buat seneng-senengan. Dilanjutin sama briefing lomba artikel & fotografi yang sebelumnya aku ga ngerti kalo ada acara begituan. Sebenernya tujuanku ikut ini utamanya buat berlari dari kenyataan menuju ke Taman Safari gratis & pelatihan jurnalistik.
Akhirnya acara selesai jam 16.30 kami pun pulang menuju kenyataan. Sebelum sampai di kenyataan, kami mampir ke Taman Dayu buat makan malam. Beberapa diantara kami kalap terkena serangan rawon yang kabarnya rasanya ahuwuenuak.
Setelah kekalapan teratasi, kami pun harus benar-benar kembali ke kenyataan = Surabaya.
Diperjalanan pulang, suasanya nggak banyak berubah. Keyla tetep nggak berhenti nyanyi, Dwiko dan Samuel terus mem-beatbox-in nyanyian Keyla, Sisca menambahkan sedikit ‘rrrrrrrrrrr-ha!’, Sara yang ketawa-ketiwi sedikit, Cele yang melindungi si bapak dari serangan nyanyian Keyla, Daniel yang tiba-tiba mengeluarkan laptop dan mengerjakan tugas, dan Tiara yang, seperti biasa, ngantuk dan nyicil tidur.
Sempet terdengar sedikit obrolan pas aku mencoba buat tidur:
Keyla: “lho arek iki pantesan nggak onok suara e, ternyata tidur.”
Sara: “iya, key. Tiara ini anaknya nggak kuatan. Pas liputan LPPM ke luar kota sama aku itu sepanjang perjalanan berangkat dan pulang dia tidur terus”
Padahal, sebenernya, Sara juga tidur sepanjang perjalanan berangkat dan pulang itu.
Nggak lama kemudian, kami sudah sampai di kenyataan yang nggak pernah berhenti menunggu kembalinya kami. Langsung menyodorkan segala tanggung jawab dan kewajiban yang sengaja kami tinggal selama kurang lebih 12 jam tadi.
We’re back to home, ‘reality’!
P.S. secara nggak sengaja iseng habis baca blognya Daniel dan ternyata foto-fotonya yang kami masukin sama! dia yang posting duluan sih, dia memang anak blog wkwkwk.
P.S. again, habis googling tentang Mas Bahana dan Pak Pepih, ternyata both of them adalah orang yang keren! So glad bisa dapat ilmu baru langsung dari mereka.
Menjaga Independensi Ala Kompas
Foto : www.unpad.ac.id
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 memang menarik untuk dibahas.Tidak terkecualidalam kaitannya dengan media massa. Selama masa Pilpres 2014, banyak media massa seakan melupakan ‘kodratnya’. Berbagai media massa berlomba-lomba mempromosikan calon presiden dari partai politik yang berafiliasi dengan mereka. Mereka bahkan tidak ragu menampilkan hasil hitung cepat yang tidak akurat dan kredibel kepada masyarakat demi kepentingan calon presiden yang mereka dukung.
Sebagai media massa yang menjunjung tinggi independensi, Kompas memiliki perhatian khusus terhadap fenomena ini. Perhatian tersebut ditunjukkan melalui acara Kompas Saba Kampus bertema “Pemilu dan Peran Media” yang dilaksanakan pada Kamis, (12/6), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain seminar, Kompas Saba Kampus juga membuka delapan kelas workshop yang terdiri dari menulis jurnalistik, fotografi jurnalistik, research development, business development, advertising, marketing communication, desain grafis, dan teknologi informasi.
Budiman Tanuredjo, selaku Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, memberikan pengetahuan mengenai jurnalisme presisi dan hubungannya dalam pemberitaan yang berkaitan dengan pilpres. Budiman menjelaskan bahwa jurnalisme presisi merupakan metode gabungan antara jurnalistik dan pencarian berita berbasis data yang diperoleh melalui survey pendapat umum, wawancara tokoh terkait, serta deskripsi lapangan secara detail dan terperinci.
Jurnalisme presisi dapat menjadi salah satu solusi di tengah maraknya keberpihakan yang dilakukan oleh berbagai media massa tanpa menghiraukan nilai-nilai jurnalistik yang ada. Terutama, bila dari keberpihakan tersebut justru menghasilkan pemberitaan yang menyesatkan masyarakat. Media massa sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat seharusnya bersikap independen dan menyajikan berita yang akurat sebagaimana diatur dalam pasal pertama Kode Etik Jurnalistik.
Workshop Sehari Bareng Kompas Kampus
Workshop Sehari Bareng Kompas Kampus
Kamis kemaren tepatnya tanggal 12 Juni 2014, Saya mengikuti kegiatan workshop sehari yang diadakan oleh Kompas Kampus di UNPAD Dipati Ukur. Dalam kegiatan workshop ini, Kompas Coorporation mengundang Mahasiswa Bandung dan sekitasnya untuk mengenal Kompas lebih dekat lagi. Tema acara yang dibawakan oleh Kompas Kampus adalah “Pemlu dan Peran Media
” . Pada sesi pertama dari acara ini diisi oleh Pak…
View On WordPress