Christoffer Palm @ Select Stockholm by Sabina Olson, Nov. 2018
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Chile
seen from United States
seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
Christoffer Palm @ Select Stockholm by Sabina Olson, Nov. 2018
Christoffer Palm @ Select Stockholm by Sabina Olson, Nov. 2018
Christoffer Palm @ Select Stockholm by Sabina Olson, Nov. 2018
Sabina Olson
Toussaint at Nisch Management goes on a field trip for Boys by Girls exclusive this editorial with Sabina Olson just outside the busy Stockholm, Sweden. Fashion by Meja Taserud. Grooming by Milla Aleksandra Paananen.
See the full editorial here.
Toussaint wears Jacket by PARAJUMPERS, Jumper by NEUW DENIM, Trousers by L'HOMME ROUGE, Hat by ACNE STUDIOS, and Boots by WHYRED.
Toussaint at Nisch Management goes on a field trip for Boys by Girls exclusive this editorial with Sabina Olson just outside the busy Stockholm, Sweden. Fashion by Meja Taserud. Grooming by Milla Aleksandra Paananen.
See the full editorial here.
Toussaint wears Jacket by SCHOTT NYC, Jumper by WOOD WOOD, and Trousers by ACNE STUDIOS.
And once again I come to realize, you're a loss I can't replace.
“That distant look is in your eyes. I thought with time you'd realize it's over, over It's not the way I choose to live and something somewhere's gotta give as sharing in this relationship gets older, older—“ Dublin, September 1996 “Jangan katakan apapun pada Julia, janji?” Ia mengacungkan kelingkingnya. Berharap lawan bicaranya siang ini mengaitkan jari yang sama. Seolah-olah apa yang dilakukannya adalah janji suci yang bila diingkari akan dicatat malaikat padahal kenyataannya itu hanyalah sebuah simbol. “Katakan dulu siapa yang melakukannya—“ Anak laki-laki itu mengernyit, nampak jelas di wajahnya kekhawatiran yang ditutupi sebuah ketenangan, sarat akan kekecewaan namun besar harapan untuk menghadapinya dengan ketabahan, “—Mockintosh?” Iris biru keabuannya mulai meredup kala sebuah nama digaungkan, ia seperti tersihir untuk tidak menggunakan lisannya dan melarang semua frasa yang berkaitan dengan nama besar satu itu. Sejak awal Dyan Evans tak pernah menyetujui rencana ini, rencana yang digulirkan Styx ketika melihatnya pulang dan merasa ada sesuatu yang janggal padanya. Padahal ia berusaha keras untuk menutupinya sebaik mungkin, ia pikir tak akan kentara dan tak ada yang tahu, siapapun kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Ia sudah teramat yakin, namun alkitab katakan padanya—sebelum ia sempat mencerna dengan baik—bahwa tidak baik memiliki perasaan yang berlebihan apapun bentuknya dari mulai cinta sampai benci dan keyakinan kecuali pada Tuhan, normatif. Ya, dia akui. Tapi benar, buku tebal yang pernah digenggamnya hanya untuk menemani tidur dari sekian banyak mimpi buruknya mengenai malam natal kemarin terbukti ayatnya. Keyakinannya perlahan gugur, mengantarkan pada patahan sebuah argument bahwa seseorang yang mengenalinya sejak Dyan masih pakai popok dan merangkak tahu benar bagaimana lekuk tubuhnya meskipun ia memakai dua belas rangkap baju. Bukan perkara mereka pernah bersentuhan, tolong hilangkan pemikiran negatif terlebih dulu. Styx mengamatinya jauh-jauh hari ketika Dyan pulang dari Durmstrang dan ia berhasil melewati masa pendidikannya selama tujuh tahun dengan berbagai siksaan dengan sedikit kesenangan. Sepanjang hidupnya dihabiskan di Durmstrang ia tak punya banyak teman dan hanya sedikit hal yang dapat dibagi olehnya kepada orang lain. Teman hidupnya sudah jelas digariskan bahwa Loutus Mockintosh adalah pria yang solid. Selebihnya hanya sebatas iklan yang lalu lalang di hidupnya, seorang Maria Waterline bisa begitu banyak memberikannya dukungan meski mereka pada akhirnya terputus kontak sejak Maria sibuk di tingkat enam tapi dia tahu bagaimanapun keadaannya, itu tak akan mengubah keadaan keduanya. Beberapa nama lain yang masuk dalam list kedekatannya bisa saja dicoret oleh tinta merah dan pada akhirnya sekalipun ia merasa dekat dengan seseorang maka bukan hal yang mungkin kalau ia masih merahasiakan sesuatu yang teramat sakral bagi dirinya sendiri. Ini lebih dari sekadar rahasia karena mengantarkannya pada tujuan hidup yang sebenarnya—elegi. * * * Pesta Akhir Tahun, berkali-kali ia bernafas lega setelah tahu bahwa ia lulus ujian. Nilainya tidak bagus-bagus amat. Kalah jauh ketimbang anak-anak lain dan kompetensinya, ah dibawah rata-rata. Tapi diberikan lulus saja sudah bersyukur, bisa bebas dari penjara ini saja ia sudah bisa sujud syukur. Perkara nilai bisa ditutupi dengan berbagai macam alasan. Itu nilai, bisa ditutupi dengan apa saja selama masuk akal. Tetapi ada yang tidak bisa ditutupi dengan apapun. Sekalipun ia berusaha keras. Dua bulan lalu, seseorang mengatakan padanya ketika bertemu di lorong. “Evans, sekarang badannya lebih berisi ya?” Ia lantas tersenyum samar mendapati pujian. Selama ini ketika berkaca, ia hanya mendapati susunan tulang yang menonjol di bagian atas perut. Nampak seperti orang pesakitan. Ia mengakui beberapa minggu setelah malam natal, nafsu makannya bertambah seiring dengan frekuensi mual yang juga datang setiap pagi. Dulu ia pernah merasa seperti ini juga, barangkali hanya sakit biasa. Dyan tak mempermasalahkan apapun dan tetap menjalani pendidikannya seperti biasa sampai akhirnya tiba masa ujian dan beberapa minggu jeda menjelang kelulusan. Selama masa kekosongan, tepat sehari setelah ujian kesehatannya menurun drastis, tubuhnya demam mencapai 38 derajat, kepalanya terasa seperti ditindih batu seberat 10 ton, dalam satu hari ia bisa bolak-balik kamar mandi lebih dari dua puluh kali hanya untuk buang air kecil dan mual yang tak berhenti setiap kali ia memasukkan makanan jenis apapun ke tubuhnya. Tetapi setiap kali itu terjadi, ia tetap akan makan meski berakhir di toilet. Keadaan ini cukup lama menyiksanya hingga bulan kedua setelah ia pulang dan tiba dirumah. Bisa menghirup udara segar saja ia sudah senang. Musim panas dihabiskannya seperti biasa dalam keadaan tidak biasa. Ia mendapat sambutan luar biasa, pelukan hangat dan pujian mengenai tubuhnya yang mengalami perubahan. Tambah gemuk, katanya. Padahal ia membatin jikalau di Durmstrang bahkan ia lebih sering mengeluarkan isi perutnya daripada makan tetapi nafsu makannya memang besar sekali, kontradiktif. Ia tak mengerti dengan keadaan tubuhnya sendiri. Bahkan sebulan setelah ia tinggal dirumah, Dyan diam-diam seringkali memiliki keinginan yang spesifik. Moore, peri rumahnya harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk menyediakan permintaan Tuan Puteri demi makanan-makanan aneh yang dimintakan. Barangkali sudah tugasnya menuruti sang pemilik raga. * * * Bulan kedua laki-laki bermarga Russell meletakkan topi militernya, pendidikan masa terakhirnya selesai. Laki-laki itu sudah bebas tugas dan diizinkan berkelana di kota. Seperti biasa, Dyan menyambut sepupunya. Laki-laki yang selalu ditunggunya setiap kali liburan musim panas tiba. Styx selalu menggendongnya dan berputar seakan Dyan masih bocah berusia enam tahun. Ia berhenti ketika baru memutar dua kali dengan nafas terengah-engah. “Sekarang kau berat.” Ucapnya dengan nada terengah-engah. “Hee? Banyak yang bilang aku agak gemuk sekarang.” Styx mengamatinya dari ujung kepala sampai kaki, jelas itu membuatnya tidak nyaman. Kepalanya dimiringkan. “Apa? Jangan lihat aku begitu. Risih, tahu.” Dyan mengelak. “Julia ada?” “Tidak, dia pergi ke yayasan sampai minggu depan. Jadi aku sendirian.” “Aku dapat surat dari Julia, kau sakit belakangan. Kenapa?” Styx segera duduk di sofa dan member isyarat pada Moore agar membuatkannya minuman. “Tidak apa-apa hanya sakit biasa.” Kemudian pembicaraan itu bergulir tanpa ada prasangka berarti. Tanpa ada yang perlu dikatakan lebih lanjut sampai terbit fajar dan rasa penuh itu datang, mual tak berkesudahan yang membuatnya harus membungkuk berkali-kali di dalam toilet. Badannya kembali menghangat, wajahnya kian memucat dengan iris biru keabuan yang meredup. Tubuhnya ia dudukkan di pinggiran kasur. Dalam keadaan diam ia berusaha mengingat potongan kejadian yang sama, disatukan dalam sebuah puzzle demi mendapat jawaban; ujian sudah berakhir sangat lama tapi kenapa efek stressnya sampai sekarang masih ada? “Sakit lagi?” Styx bahkan sudah bersandar di pintu sembari sidekap, “Katamu semalam sudah sembuh.” Ia mulai mendekat. “Tidak tahu, kupikir ini efek ujian. Tapi aneh sekali sampai sekarang masih terasa, ujian bahkan sudah berakhir lama sekali.” Styx terdiam, mengamati wajah Dyan lamat-lamat hingga ia memutuskan sesuatu dan itu membuat Dyan merasa enggan, “—kenapa tidak periksa saja? Sakitmu sudah lama, bahaya kalau didiamkan terus.” * * * “You know I'd fight for you but how could I fight someone who isn't even there I've had the rest of you now I want the best of you I don't care if that's not fair.” Tidak ada kostum aneh yang akan ia kenakan malam ini. 31 Oktober bukanlah satu hal menyenangkan, ia tak bisa keluar rumah dengan kostum-kostum lucu karena semua kostum yang ia punya tak bisa memuat tubuhnya yang kelewat besar di bagian perut. Dyan duduk di pinggir kasur dengan tatapan pias, mengamati lembaran di tangannya dan beberapa kata yang terngiang di telinganya. “Selamat, kalian akan jadi orangtua baru!” Ia sudah duga kalau saran Styx untuk memeriksa pada seorang dokter bukan ide yang baik. Kabar yang berhembus langsung di hadapannya menjadi pemenang telak jawaban dari segala akar masalah Dyan selama ini, sakit yang ia derita dan sederetan kebiasaan aneh lainnya. Perubahan bentuk badan yang terjadi semata-mata hanya karena dia sedang mengandung. Styx kontan terperangah dengan hasil pemeriksaan dokter tetapi seperti biasa ditutupi dengan sikapnya yang tenang bahkan malam ini ketika Dyan menyesali segala keputusannya di malam natal, penyesalan yang tak kunjung bisa dihentikan dan berharap waktu dikembalikan rasa sia-sia. Malam yang pecah dengan tetesan airmatanya dan tak berhenti sejak siang tadi. Membuat sembab dan ingatan yang mungkin akan selalu dihindarinya. Ia baru saja menyebutkan satu nama, menjawab pertanyaan Styx mengenai pelaku-nya. Dengan wajah penuh keyakinan, ia membiarkan Dyan melepas tangisnya, melepas penat di dalam dirinya sendiri pasca malam natal setahun silam. Nasi sudah menjadi bubur, ia kadung mengandung seorang bayi—another Mockintosh. Isak tangisnya tak berarti apa-apa ketika Dyan bercerita bahwa malam natal, salju putih, suara nyanyian suci yang menyucikan Tuhan; tidak memiliki pengaruh apapun terhadap apa yang membutakan keduanya. Dyan tidak tahu bagaimana menggambarkan satu malam yang dilewatkan dengan dengung lonceng dan gemerisik pujian Tuhan. Menghabiskan satu malam dalam dekapan suci Tuhan dan terbangun tanpa siapapun di sebelahnya. Loutus Mockintosh menghilang sebelum ia menyadari perkara yang akan ditimbulkannya dan entah bagaimana ia tak bisa mengontaknya darimanapun sekalipun dari ingatan yang terikat. Hingga detik ini, hingga detik sebuah pernyataan keluar—hadiah dari Tuhan atas apa yang dilakukannya pada malam suci bagi Tuhan. Dyan Immogen Evans sudah terlalu kebal dengan bebalnya Mockintosh. Kepergiannya bukan masalah besar ketika ia belum menyadari inti dari pertemuan mereka menghasilkan sebuah jawaban; bahwa takdirnya begitu jelas, Loutus Mockintosh adalah akhir dari perjalanannya. Tangisnya tak berhenti, setidaknya belum bisa menghilangkan tekanan di dalam dadanya tatkala mengingat bagaimana nasibnya saat ini dan apa yang harus dia lakukan begitu Julia pulang. “Aku yang akan tanggung jawab—“ Lagi dan lagi Styx mengambil alih tanpa diminta, tetapi ini toh bukan dosanya, sama sekali; tak pantas untuk dibagi, “—Jangan katakan apa-apa lagi, aku tak mau dengar apapun.” Tangisnya semakin deras dalam sebuah dekapan hangat, mimpinya akan semakin buruk setimpal dengan dosa yang diperbuat olehnya sendiri.