Sebagai seseorang yang sudah membaca Lady in Waiting (karangan Jackie Kendall dan Debby Jones), gue merasa sudah “pintar” soal teori-teori ketika menunggu pasangan hidup. Gue ngerti kalau selama masa menanti dia yang dari Tuhan, seharusnya kita fokus kepada Dia, yang akan memberikan si dia. Gue paham kalau we have to content our heart with His presence, being full with Himself alone. Gue juga udah tahu kalau kita seharusnya “mengisi gelas kita sampai penuh”, memperlengkapi diri kita sendiri sebelum bertemu si dia, dengan harapan si dia juga sedang memperlengkapi dirinya sebelum bertemu kita. Gue merasa hal-hal ini udah gue pahami dan kuasai….
Tapi ternyata mengerjakan tidak semudah memahaminya.
Ketika gue masih kuliah, gue punya sahabat-sahabat yang almost 24/7 hadir untuk dengar cerita gue, memberikan pendapat yang membangun, mengingatkan gue, dan mendoakan gue. By their presence, gue bisa merasakan kasih Tuhan. I never felt lonely. Bahkan gue sempat lama berpikir, gue siap untuk hidup selibat karena gue sungguh merasa content with God and by His presence through my friends. I always thought that I don’t really need “someone”.
Tapi ketika gue sudah lulus, suka atau tidak, gue juga kehilangan quality time dengan sahabat-sahabat gue walaupun kami masih kontak-kontakan lewat socmed. Here comes the problem : I feel lonely. Terus gue melihat beberapa teman yang sudah punya pasangan, dan bagaimana mereka menjalani hubungan mereka dalam Kristus : datang acara persekutuan bareng, bahas buku atau bahan PA bareng, dan lain-lain. Jujur, gue iri. Gue mulai bertanya-tanya sama Tuhan mengapa hingga saat ini Tuhan belum memberikan pasangan buat gue, ditambah beberapa “kegagalan” yang sempat gue alami. Gue mulai bertanya, “which part of me that is still lacking?” Gue mulai merasa kayaknya Tuhan miscount soal gue. Gue mulai menuntut untuk Dia segera give me my time. I even shed a tears while thinking about this (shame on me, I know).
Pada saat itu, sejujurnya gue sangat malu soal pemikiran gue itu, mengakui betapa “ngenes”-nya kondisi gue. Gue enggan cerita sama sahabat-sahabat gue karena takut “dihakimi”. Tapi sebetulnya gue sadar pemikiran-pemikiran itu muncul karena gue merasa kesepian. Dan satu-satunya obat kesepian adalah bicara dengan orang lain. Akhirnya gue memutuskan untuk cerita sama dua orang sahabat baik gue (siapa lagi kalau bukan Marina dan KaBet). Marina said something I really need to hear : “Kesepian buat kita jadi bawa perasaan, bikin pengen punya pacar untuk memuaskan keinginan diri sendiri, pengen diperhatikan. Dan itu sangat self-centered.” Self-centered. Itulah akar masalah pergumulan gue. Gue yang merasa udah paham kalau dalam masa penantian harus God-centered, ternyata akhirnya terjerembab dalam lubang self-centered-ness.
Ketika gue berdiam di hadapan Dia, I find my lacking parts. Selama ini, yang gue idamkan bukan pasangan yang punya citra Kristus, tapi the idea of having a boyfriend. Yang gue idamkan adalah bayangan kalau gue akan punya orang yang nemenin gue PAKJ atau nungguin gue abis pulang rapat atau foto berdua yang disharing ke sosmed. Gue gagal melihat kedalaman alasan Allah menciptakan pria dan wanita karena terlalu sibuk menuntut orang untuk memperhatikan gue. Gak salah sih punya orang yang datang persekutuan bareng, tapi Tuhan bukan kasih lo pasangan untuk sekedar dateng PAKJ bareng kan? We have A Kingdom to be build, dude!
Gue akhirnya mengingat kembali cerita tentang Molly Kecil di Bab 11 di Buku Sacred Search karya Gary Thomas. Gary Thomas menceritakan suatu keluarga yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka. Namun ternyata terdapat kelainan dalam diri bayi kecil itu (whom they called as Little Molly), yang membuat Molly Kecil could not survive. Tapi sungguh bersyukur, Molly Kecil punya orang tua yang sangat mengasihi Tuhan. Lebih lagi, Molly Kecil punya kakek dan nenek yang juga sangat mengasihi Tuhan. Di waktu-waktu terakhir hidup Molly Kecil, mereka berkumpul, menyanyikan lagu pujian, berdoa, dan menyampaikan pesan terakhir bagi Molly Kecil. Keteguhan hati kakek nenek dan orang tua Molly Kecil always mesmerized me. Sungguh cerita yang sangat powerful untuk menunjukkan betapa pentingnya memilih pasangan hidup yang tepat, karena pilihan itu akan berdampak langsung kepada anak-anakmu dan cucu-cucumu dan generasi di bawahmu. Pilihan yang buruk akan mewariskan warisan iman yang buruk pula. Tapi sebaliknya, pilihan yang tepat akan mewariskan kekayaan iman yang luar biasa.
Lalu hari ini gue membaca She Still Enchants Me yang ditulis oleh Jon Bloom di desiringgod.org. Dalam artikel ini, beliau bercerita tentang isterinya dan pernikahan mereka. Here what he said:
“Our love still courses with youthful joy, but now it’s infused with the complex richness of experience. It is seasoned with tears and laughter, provision and perseverance, and the humility that only comes with failure and being confronted with one’s limitations and weaknesses and utter need for God. It is a love laced with grace — a shared belief that we do not deserve the other and that God has been immeasurably merciful to us. It is a richer love.”
Does not it sounds very beautiful?
Mencari pasangan hidup bukan cuma mencari orang yang akan live, pay expenses, atau bersih-bersih rumah bersama, tapi mencari partner membangun Kerajaan Allah, teman menangis bersama melihat kondisi dunia yang menuju kesudahannya, dan sahabat berdoa selamanya. Dan mencari “hal yang indah ini” tentu tidak semudah sekedar mencari “pacar”. Pencarian yang bijaksana pasti akan menghasilkan temuan yang lebih berharga.
Lebih dalam lagi, Tuhan kembali menyegarkan gue dalam masa-masa penantian ini. Tuhan kembali mengingatkan gue soal kebahagiaan sejati yang hanya ada di dalam Dia, dan bukan di dalam relasi pacaran. Pagi ini, gue membaca sebuah artikel yang luar biasa menolong gue untuk membangun presepsi yang benar, judul artikelnya Valentine’s Day for Single Christians yang ditulis oleh Grace Rankin. Rankin menulis :
Instead of using the season of singleness as a time to mope and bemoan our loneliness, we can use it to chase after our Creator, pursuing a deeper, more satisfying, more glorifying relationship with him every day. It is true that God created marriage and sex for us to enjoy, but he did not create us for enjoying marriage and sex, ultimately. He created us to enjoy him, in whatever circumstances (Philippians 4:11) — singleness cannot get in the way of God’s promise of full joy in him (Psalm 16:11).
Artikel ini tidak melarang orang untuk longing for a relationship, tapi mengingatkan pembacanya (termasuk gue) untuk tidak melihat relationship sebagai solusi akan rasa kesepian. Banyak orang yang punya pacar tapi tetap kesepiaan karena bukan pacar yang membuat kita tidak merasa kesepian. Cuma satu Pribadi yang bisa mengisi rasa sepi dan kosong dalam hati manusia : Kristus.
Lebih jauh, bahkan artikel ini menulis sesuatu yang membuat gue begitu berbunga-bunga :
Think of this: even if we remain single for the rest of our lives here on earth, it is only a fraction of time compared to the eternity we will spend rejoicing in the presence of Christ, who we will know more fully through our pain and loneliness than we ever would have otherwise.
Kemudian di artikel lain berjudul You Don’t Have to Get Married to Be Happy, Marshall Segal menulis :
“Ten thousand years from now, your marriage may be just a sweet, but short sticky note in the massive filing cabinet of our happy marriage with Jesus. On our ten-thousandth anniversary with Christ, how will you think about your earthly marriage? How will you think about your current boyfriend or girlfriend (or crush)? After centuries without any confusion or fear or sadness, how will you reflect on your days of heartache and loneliness here? The painful desires and waiting will still have been very real, but now small and insignificant compared with the perfect, seamless love and happiness we will enjoy forever.”
Pada akhirnya, masa penantian ini jadi terasa terlalu kecil untuk gue permasalahkan dibandingkan dengan God’s Great Story yang sudah Dia rancang dengan begitu besar dan indah. Jadi daripada sibuk meng-expose kesendirian, lebih baik gue cherished every seconds with Him dalam masa penantian ini, dan terlebih saat dia-yang-dari-Tuhan sudah diberikan. Tapi yah tentunya menanti dia harus sambil terus meminta kepada Dia, karena gimana mau dikasih kalau gak minta, ye gak?
Sacred Search by Gary Thomas
You Don’t Have to Get Married to Be Happy by Marshall Segal (http://www.desiringgod.org/articles/you-don-t-have-to-get-married-to-be-happy)
Valentine’s Day for Single Christians by Grace Rankin (http://www.desiringgod.org/articles/valentine-s-day-for-single-christians)
She Still Enchants Me by Jon Bloom (http://www.desiringgod.org/articles/she-still-enchants-me)