Annyeong Haseyoo
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan hidayahnya semester pertama ini hampir selesai (kurang ujian Tae Kwon Do). Awal awal semester lalu, saya mempertanyakan Korean Life saya yang terasa kebanyakan haha hehe dan jalan jalan. Seiring berjalannya waktu, kuliah beserta tugaspun menerjang saya. Alhamdulillah, Astaghfirullah, Innalillahi..
Semester ini ada enam mata kuliah yang saya ambil. Ekonomi Pembangunan, Koperasi, Saemaul Undong, Bahasa Korea, Field Trip, dan Tae Kwon Do. Banyak pengalaman menarik selama mengambil kuliah-kuliah tersebut. Satu per satu kegalauan saya terobati. Mohon dicermati bahwa ini adalah galau akademis non romantis walaupun selalu ada tempat untuk baper.
Kuliah ekonomi pembangunan di sini sebenarnya sama dengan kuliah pembangunan I jaman S1 dulu. Hanya saja, saya baru paham teori teori pembangunan ketika kuliah di sini. Jaman S1 dulu entah apa yang saya pahami tentang teori teori itu. Mengenaskan.
Dosen ekonomi pembangunan saya di sini bernama Han Dong Geun (sama dengan nama penyanyi di Korea cuma beda profesi). Professor Han ini selalu mengajar dengan senyum dan semangat. Saya bisa merasakan antusiasme Beliau ketika mengajar. Lebih jauh, Prof Han ini menjelaskan teori-teori pembangunan secara “smooth” sehingga mudah dipahami. Saya baru tahu maksud dari teori Rostow, Harrod-Domar, Lewis, Solow, Big Push, dan Kremer setelah menerima penjelasan Beliau.
Sejalan dengan konsep sekolah saya yang mengusung Saemaul Undong. Setiap penjelasan Prof Han selalu dibumbui contoh dari penerapan Saemaul Undong. Bagaimana Korea meningkatkan tingkat tabungan melalui Saemaul Undong, bagaimana Korea menerapkan Big Push melalui Saemaul Undong, dan semacamnya.
Hal yang menarik dalam kuliah pembangunan ini adalah ketika ujian. Mengutip sebuah hasil riset yang menyatakan bahwa bersumpah jujur sebelum ujian akan mengurangi tingkat mencontek oleh para mahasiswa, maka kami pun disumpah sebelum mengerjakan ujian. “raise your hand.. now say “I swear to be honest”” oke, selamat mengerjakan, nanti kalau sudah selesai kumpulan ke Amy. Saya pergi ya.. Dan Prof. Han pun meninggalkan ruang ujian..
Mahasiswa Kuliah Understanding of Saemaul Spirit
Selanjutnya kuliah Saemaul Undong yang diampu Ibu Lee Jeong Ju. Kuliah ini membahas konsep Saemaul Undong, program pemberdayaan masyarakat di Korea begitu. Mulai dari latar belakang, proses, hingga hasil dibahas secara detail di sini. Cara ngajar Beliau standar saja sih. Menariknya di kelas ini adalah kami memulai dan mengakhiri kelas dengan menyanyikan Yeungnam Daehakyo Norae (Lagu Universitas Yeungnam; semacam hymne Gadjah Mada) dan Saemaul Norae (Lagu Saemaul; semacam Mars KKN). Menurut Beliau, ini bertujuan untuk menanamkan Semangat Saemaul yang terdiri dari diligence, self-help, and cooperation. Amin. Di kelas ini, nilai ujian saya cukup menyedihkan. Sistem penilaian yang strict tanpa ada ongkos menulis semakin membuat nilai terpuruk. hahaha.. dan pertanyaan waktu ujian pun sangat di luar dugaan. Anyway, sebab kuliah ini lah saya akan selalu ingat bahwa hal terpenting dari menjadi seorang Saemaul Soldier adalah “have a warm heart”.
*foto Kue BEras pemberian prof. Lee Jeong Ju dari FB nya Mbak Omen =p
Di kelas terakhir, kami sekelas diberi Kue Beras oleh Prof. Lee Jeong Ju. Hal ini sebenarnya adalah aplikasi budaya Korea. Sebenarnya orang tua si murid lah yang membawakan kue beras setiap kelas terakhir sebagai bentuk terima kasih kepada guru. Namun karena kita tidak bersama orang tua di sini, dan kami bukan orang korea, maka Ibu Lee Jeong Ju yang sudah seperti keluarga ini lah yang membawakan kami kue beras. Such a warm heart right. Ada teman saya yang menitikkan air mata ketika makan kue beras ini. Entah karena terharu atau karena nilai ujian yang menyedikan. Saya prihatin.
Presentasi Desain Koperasi
Selanjutnya adalah kuliah yang setema dengan Ekonomi Koperasi berjudul Community and Cooperatives yang diampu oleh Ibu Lee Mi Sook. Ibu ini ngajar di kelas sambil baca buku dan para mahasiswa mendengarkan. Terkantuk kantuk lah saya setiap kelas ini. Namun demikian, kelas ini tetap memiliki sisi menariknya. Di kelas ini, kami dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk menyelesaikan tugas akhir berupa Desain Koperasi. Dengan bekal bahan kuliah, kami menganalisis sebuah permasalahan sosial ekonomi dan menyusun konsep koperasi yang mampu mengatasi masalah tersebut. Saya berkelompok dengan Neli dari Togo, Elizabeth dari Tanzania, dan Aka dari Pantai Gading. Lucu juga pengalaman berkelompok ini. Si Neli yang tegas, Elizabeth yang antusias, dan Aka yang kelewat santai setuju mengangkat saya sebagai ketua kelompok. Kurang ajar sekali. Dengan proses diskusi dengan sedikit konflik sosial selesailah tugas kami menyusuk koperasi petani coklat di Donomulyo, Malang secara memuaskan. Alhamdulillah. Di sini saya mulai paham bahwa terkadang saya perlu marah dan lebih tegas lagi.
Saya, Mbak Lis, Bastian, Park Su Jin Sonsengnim, Mas Fred selesai ujian speaking bahasa Korea
Peserta Kuliah bahasa Korea setiap senin-rabu jam 17.00-19.00
Lanjut kuliah Bahasa Korea. Ibu dosen Korea bernama Park Su Jin. Wanita, masih muda dan lucu. haha.. lucu.. Saya selalu bersemangat kuliah bahasa korea demi bisa memahami film, drama, dan lagu korea tanpa subtitle. Walaupun sampai sekarang masih baru bisa menangkan beberapa kata, setidaknya saya senang. It’s something. Minggu lalu saya sempat kirim pesan ke ibu dosen setelah menerima sertifikat bahasa korea. Sok sok an ngetik pake huruf korea. cukup panjang. Intinya adalah terima kasih atas ilmunya, nilai saya memuaskan. Sonsengnim Park Su Jin membalasnya dengan “:)” pupus sudah modus saya.. I’m like TT.. Just Like TT..
Di sini ada kuliah lapangan yang jadi satu mata kuliah tersendiri. Kuliah ini bertujuan memberikan pemahaman yang realistis atas ilmu yang diperoleh di kelas. Melihat langsung success story pembangunan pedesaan di Korea akan menguatkan pemahaman akan konsep di buku teks. Setiap semester ada dua kali field trip. Field trip pertama saya ke Sangju-Si (Kota Sangju) di daerah Gunung Obong. Di situ kami berkunjung ke lokasi usaha produktif masyarakat desa yang dikelola koperasi desa. Usahanya pengolahan taoge, produksi tahu, dan peternakan. Prosesnya sudah capital intensive dan ramah lingkungan. Geser dikit ke desa wisata. Frankly to say masih lebih oke desa wisata di Jogja sih kalo yang ini. Lalu agak sore kami berkunjung ke rumah sakit PMI yang unggul dalam melayani para manula. Terakhir ke Pusat Kesehatan Kota Sangju (semacam pusksesmas, tapi lebih sophisticated).
Di Depan Saemaul Memorial hall
di dalam Saemaul Memorial Hall
Field Trip kedua saya ke Desa Sindo di Kabupaten CHeongdo, Kabupaten Gyeongsang Selatan. 45 Menit dari kampus. Ini adalah lokasi Presiden Park Chung Hee terinspirasi mendesain Saemaul Undong sebagai konsep pembangunan pedesaan. Untuk mengenangnya, dibangunlah sebuah memorial hall dan theme park. Well, ini adalah museum dan theme park berkonsep pembangunan..
Wine Tasting di WIne Tunnel (Dari kiri adalah Songyee a.k.a Natalie, Nicholas dari Nigeria, Maggy dari Uganda, dan Saya)
Di Cheongdo, kami juga berkunjung ke wine tunnel. Ini adalah bekas terowongan kereta api jaman jepang yang sudah tidak berfungsi lagi. Oleh penduduk, terowongan kemudian dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan wine. Wine di sini berbahan kesemek karena Cheongdo ini adalah sentra penghasil kesemek. Wine Tunnel ini bukan sekedar tempat menyimpan wine tapi juga didesain sedemikian rupa menjadi cafe yang unyu nan romantis wal kekinian.
Selesai fieldtrip waktunya menyusun laporan. Untungnya jurusan saya tidak menugaskan menyusun laporan, hanya presentasi dan diskusi saja. nomu nomu gomawoyoo profesorr. Di jurusan lain, mahasiswa bikin laporan dan presentasi. Betapa kasian mereka..
Foto Taekwondo dari Grup FB jurusan
Setiap sabtu saya ada kuliah Tae Kwon Do. Namanya kuliah sih, tapi ya latian Taekwondo begitu. Mahasiswa wajib beli dobok taekwondo yang harganya ampun mahal karena merek adidas dan lisensi WTF. (ya.. WTF sekali). Namun, cukup satu semester latian, sabuk putih nan cupu langsung ganti sabuk hitam dan garang. wakakakaka...
Well, menyenangkan kuliah di sini. Tidak hanya kuliah kelas tapi juga kuliah budaya. Metode kuliah semacam ini sudah diakui loh. Saya ingat bagamana Prof. Muby mengutip Prof Sajogyo
Jika Anda ingin mengerti perekonomian negeri kami, kajilah kebudayaan dan sistem politik kami; jika ingin memahami kebudayaan dan sistem politik kami, kajilah perekonomian kami (Sajogyo, 2003:1).
Sama juga di Korea, kalau ingin memahami ekonomi, kita perlu memahami budayanya. Cara memahami budaya adalah melalui bahasa, bela diri, realitas, drama, film, dan lagu lagu girlband boyband korea.
Well, sekolah lagi membuat saya paham kalo saya baru bisa bener bener paham kalau belajarnya sambil nulis. =p Apa nulis surat cinta termasuk?
Memasuki masa liburan.. waktunya bermalas malasan dan mborong nonton drama demi memahami perekonomian Korea. preketek












