Teman Duduk yang Paling Setia
Kali ini perjalanan terasa berbeda. Biasanya, aku sibuk memilah buku mana yang akan menjadi kawan bicara di perjalanan, menjejali tas dengan pemikiran-pemikiran manusia yang rumit. Namun hari ini, entah mengapa, tak satu pun buku itu ikut serta. Tanganku hanya meraih satu: Al-Qur'an kecil yang kini terselip tenang di saku baju.
Di luar jendela, kota-kota berlarian mundur. Gedung berganti sawah, ramai berganti sepi. Dan di sela-sela pergantian itu, tiba-tiba menyelinap rasa gelisah. Sebuah kecemasan halus saat meninggalkan kota asal, seolah ada bagian diri yang enggan beranjak, atau mungkin ketakutan samar akan apa yang menanti di depan.
Dalam kegamangan itu, aku sadar aku sedang sendirian—namun tidak benar-benar sendiri.
Aku merasakan beban ringan di saku bajuku, tepat di atas dada. Keberadaan Al-Qur'an itu seolah menjadi pengingat yang hangat: bahwa aku sedang berjalan di bumi milik-Nya.
Maka, kualirkan resah itu menjadi doa. Kepada Sang Malikul Mulk, Raja Diraja yang menggenggam setiap jengkal jalan yang kulalui.
"Yaa Rabb, aku titipkan hati yang mudah berbolak-balik ini pada-Mu. Aku berlindung pada keagungan-Mu di sepanjang safar ini."
Bumi Pasundan, 9/12/2025













