Kadang, keindahan kalimat membuat kita merasa seolah-olah kita sudah melakukannya. Kita merasa sudah sabar karena sudah menulis tentang sabar. Kita merasa sudah ikhlas karena sudah merangkai prosa tentang rida. Inilah jebakan halusinasi spiritual, saat retorika manis menjadi candu yang meninabobokan nurani dari tuntutan aksi nyata.
Kebenaran apa yang kita ucapkan tidak diuji saat kita sedang tenang menulis di rumah bersama keluarga. Ia diuji saat dunia sedang tidak berpihak, saat badan sedang luruh, dan saat orang-orang di sekitar mulai merobek kesabaran. Di sanalah kita membuktikan: Apakah kita seorang penulis yang hidup, atau sekadar penata kata yang mati?
Setiap kali kita menuliskan sesuatu yang indah, sesungguhnya kita sedang menandatangani kontrak dengan takdir untuk diuji atas kata-kata tersebut. Jika kita menulis tentang "memaafkan", maka bersiaplah, Allah akan mendatangkan seseorang yang akan menguji seberapa luas maaf kita.
Tulisan yang paling tajam bukanlah yang paling indah susunan katanya, melainkan yang paling jujur diamalkan oleh penulisnya. Jadikanlah hidupmu sebagai naskah asli, di mana setiap hurufnya ditulis dengan peluh ketaatan, bukan sekadar riasan bibir yang hampa.
Semoga tiap aksara yang kita rangkai dan tiap kata yang kita ucapkan tak sekadar menjadi gema yang manis, tetapi menjelma nyata dalam sunyi amal yang tak banyak bicara.
@clichemistry














