Wawancara Imajiner dengan Safiera
Saya telah melakukan wawancara imajiner dengan Safiera pemilik http://safierafa.tumblr.com/, dia adalah seorang akuntan yang benar-benar akuntan, saya menduga mungkin dia juga terlibat dalam proses film The Accountant, entahlah hanya dugaan. Ciri-cirinya adalah dia berkerudung, memiliki postur tubuh yang sangat Indonesia, dan sering membubuhkan Sfa. (yang diduga adalah singkatan namanya) dalam setiap tulisannya.
Secara spesifik ciri-ciri lainnya adalah dia seorang perempuan yang baru dapet tiket beasiswa, yang kadang berkacamata kadang tidak, memiliki akun tumblr yang postingannya balance antara tulisan sendiri dengan repost, dan dia sepertinya sangat mahir dalam berbahasa Inggris, ditiap tulisannya structurenya terpelihara, berbeda dengan saya yang berbahasa semaunya.
Wawancara imajiner terhadapnya saya lakukan semata untuk bersenang-senang sambil itung-itung agar saya lebih mengenal dirinya, juga bersemoga ada manfaat yang bisa diambil dari sini, kalau memang tidak ada pun tidak masalah, setidaknya saya telah melakukannya.
Siang itu sedang baik tidak terlalu terik, Safiera duduk di sebuah tempat makan daerah Tebet di Selatan Jakarta, dan tentu gunanya duduk disana adalah untuk makan siang, saya tidak membuat jadwal bertemu dengannya hari itu, karena otak saya biasanya kurang berfungsi kalau siang hari, tapi karena mumpung ketemu sekalian aja wawancara.
Maka saya menghampirinya, sambil bersemoga tidak dikira mau nodong.
Safiera : Eh? pratamasyahalam?
Saya : Hehehe, iya safierafa
Safiera : Kirain masih gondrong?
Saya : Kemarin potong rambut waktu seleksi substansi.
Safiera : Oh gitu, eh sengaja kesini atau dari mana?
Saya : Lagi cari jajan nih, kebetulan lagi ada kerjaan daerah sini, ada waktu kosong, jadi cari kopi
Safiera : Oh iya pesen dulu aja al
Saya : Iya, mau sekalian nambah pesenan enggak?
Safiera : Enggak, aku udah ini aja
(saya pun pergi memesan kemudian kembali ke meja dimana Safiera duduk)
Saya : Enggak apa-apa duduk disini?
Safiera : Ya enggak apa-apa santai aja
Saya : Eh surat udah nyampe?
Safiera : Yang dari kucing itu? Udah sih tapi enggak ngerti, bingung bacanya
Saya : Iya soalnya saya pake braille, itu mau wawancara kamu boleh?
Safiera : Wawancara apa emang, buat skripsi?
Saya : Bukan, buat maen-maen aja, ngisi tumblr biar makin enggak berisi, hehehe
Safiera : Duh tentang apa emang, dadakan gini?
Saya : Ah santai aja, cuman ngobrol aja buat sharing, ini langsung aja ya? Eh ini manggilnya Saf atau Ra?
Safiera : Bebas sih, Fir aja al
Saya : Saf aja deh ya biar kaya Safari namanya. Hehe, mau nanya dulu tentang akuntansi nih, kenapa pilih jadi akuntan sih?
Safiera : Hmm, soalnya kan secara harfiah itu artinya melaporkan, nah di dunia ini segala sesuatu harus dilaporkan kan? atau lebih softnya disampaikan. Nah, di akuntansi ini aku belajar melaporkan kebenaran al
Saya : Oh filosofis juga ya? Emang enggak pusing ngurusin angka berderet gitu?
Safiera : Ya balik lagi ke tujuan al, buat sampe ke titik kebenaran kan enggak gampang, jadi sepanjang apapun ya harus dijalani, lagian aku juga belajar hal yang paling penting disini, ketelitian sama ketekunan, hidup itu kaya akuntansi lagi al
Saya : Wah keren juga tuh, tapi emang satu angka juga ngaruh banget ya?
Safiera : Banget al, kadang kita anggap sepele hal-hal kecil yang ada disekitar kita, tanpa kita sadar saat kita kehilangan sesuatu yang kecil, akhirnya tetep bakal punya dampak domino al, emang sih enggak semua orang peduli sama hal kecil, tapi kebenaran itu utuh kan, kalo enggak utuh namanya cuma pembenaran. Nah yang aku cari dari hidup itu kebenaran, bukan pembenaran
Saya : Wah, keren tuh Saf, jadi kalo yang korupsi-korupsi itu, mereka cuma bikin pembenaran ya?
Safiera : Ah jangan ngomongin politik al, enggak seru
Saya : Iya sih, nah agak geser dikit dari akuntansi nih, saya boleh dibilang sebagai pembaca tumblr kamu, selalu tertarik sama bahasa yang kamu pakai, bikin kata-kata yang bagus gitu pakai bahasa inggris emang gampang?
Safiera : Sebenarnya balik lagi kaya tadi sih ke konsep melaporkan atau menyampaikan itu, kadang ada sesuatu ada dipikiran terus pengen disampein, nah kalau penyampaiannya keliru, nanti penafsirannya juga jadi lebih keliru, makanya penting juga sih belajar bahasa, biar enggak keliru
Saya : Iya sih bener, harus teliti dalam berbahasa ya, soalnya tiap kata kadang dipelintir artinya, arti dipelintir maknanya. Kayanya emang mau enggak mau saya emang harus belajar grammar ya?
Safiera : Harus al, ya biar kaya itu tadi, enggak keliru.
Saya : Setuju. Terus sorry agak belok lagi nih ke masalah lain, agak privat sih, soal alien. Dapet info kamu itu “a alien on the wrong side of parallel universe”, kamu alien?
Safiera : An bukan a, kan ke alien, bukan galien, salien atau ralien
Saya : Oh iya lupa, wah bener harus belajar grammar nih, eh jadi alien bukan?
Safiera : Jangan keras-keras, nanti orang denger, ya gitu al aku ada perbedaan sudut pikir sama manusia, tapi kadang aku asing sendiri di lingkungan, point of view aku enggak umum gitu al. Eh jangan-jangan kamu juga alien ya?
Saya : Bukan Saf, justru kebalikannya, saya native bumi sebelum invasi manusia, dari dulu awal manusia yang katanya asalnya dari surga terus tetiba datang ke bumi, saya udah kurang suka, saya banyak liat manusia, tapi jarang liat kemanusiaan. Makanya saya juga punya perbedaan pola pikir sama manusia. Terus kamu ikut movement non-human right gitu?
Safiera : Iya secara enggak langsung sih, tapi yang lebih aku usahain gimana caranya bikin balance al.
Safiera : Jadi ya gimana ngembaliin kita ke naturnya tanpa saling senggol, bikin upaya memanusiakan manusia, tanpa memandang makhluk lain sebagai objek. Binatang jadi objek, bahkan alien kaya aku atau highlander kaya kamu juga kalo ketauan pasti jadi objek kepuasan manusia, soalnya manusia merasa paling tinggi dalam ekosistem semesta.
Saya : Jadi manusia lebih mikirin ego dari pada eco ya?
Safiera : Ya bisa dibilang kaya gitu al. Jadi ya mungkin emang makhluk kaya kita sengaja di taro di tengah manusia, buat bikin balance pake point of view kita.
Saya : Wah premisnya menarik tuh Saf. Ya semoga yang kamu semogakan bisa jadi lebih dari semoga ya, mewujud nyata.
Safiera : Amiin. Semoga al.
Saya : Duh Saf, enggak kerasa nih kopi udah mau abis aja, makanan kamu juga tinggal nyisa garpu sama sendok, mau nambah apa udah aja?
Safiera : Udah al kenyang, lagian mau balik lagi kantor, kamu udah ini lanjut kemana?
Saya : Balik aja Saf, mau tidur. Eh mau request nih, boleh?
Saya : Kamu milih, mau ngajarin saya grammar apa bikin kolab tulisan?
Safiera : Hmm, enggak mau dua-duanya ah, hahaha
Saya : Hahaha, iya semoga suatu saat bisa bersinergi ya, eh yang rajin nulis di tumblr, buat bahan repost.
Saya bangkit dari kursi dan pamit duluan setelah high five. Terimakasih Safiera telah meluangkan waktu untuk berbincang dengan saya, banyak hal yang saya pelajari dari kamu, suka tidak suka, mau tidak mau, kamu adalah guru bagi saya, terimakasih telah mengizinkan saya melakukan wawancara imajiner ini (yang semoga tidak keberatan saya mempostingnya disini).
PS: Wawancara imajiner ini dibuat karena sedang ingin dan karena ada kopi dan cemilan, dengan mengutamakan analogasa (analisa, logika dan rasa), Safiera adalah tipikal yang aktif, dia bisa dengan mudah membuat orang nyaman berbincang dengannya, pembawaannya yang humble, membuat orang tidak canggung, dia juga tak segan berbagi, yang dalam simpulan saya Safiera adalah seorang yang dalam analisis Myers Briggs disebut ENFP (extraverts, intuitives, feeling, perceiving) dengan sifat-sifat yang idealistic, informatif, and free (entah benar atau tidak, hanya terkaan). Dan selain analogasa juga ditambah bumbu imajinasi serta kesoktahuan saya yang menyebabkan terjadilah wawancara imajiner ini. Maka terimakasih Safiera telah memberikan saya keluasan dan kebebasan dalam berimaji dan berekspresi, jangan marah ini hanya senda gurau.