Dua Periode
Dalam kurun dua periode, seseorang telah lahir kembali. Menjadi sosok yang baru, wajah yang baru, hati yang baru. Seseorang yang pada awal perjalanannya hanya bertumpu pada keraguan dan ketidakmampuan. Namun, takdir-Nya tak berkata demikian. Bersamaan dengan pasang surutnya waktu, seseorang itu kini telah tumbuh dan berkembang.
Masih jelas dalam ingatan ketika semua dimulai dari sejentik keinginan yang sempat ku lontarkan pada seorang teman.
"Keren kali ya kalo bisa jadi kayak Ka Nurul. Ah tapi pasti susah kan ngafal-ngafal pasal gitu. Yaudah gajadi deh hehe."
Ya, sebuah keinginan yang anggap saja sekedar luapan canda. Karena pada kenyataannya, aku memang bukan siapa-siapa. Bagiku menjadi seorang penggelut seni mading jurusan sudah lebih dari cukup. Menyenangkan, sederhana dan minim banyak mata. Aku menyadari bahwa memang mustahil jika keisengan tersebut diteruskan. Terlampau jauh untuk dijangkau bagi seorang Aku yang tak banyak kemampuan–yang cuma bisa memainkan warna pada media gambar.
Dalam perjalanannya, kenyataan berkata lain. Berawal dari keisengan, perlahan Allah justru mendekatkan dan membukakan jalan. Entah, aku pun tak sampai pada jangkauan pikir. Kemudahan demi kemudahan terus beruntun datang untuk segera ditunaikan. Bukankah benar jika kemudahan itu datang dalam suatu urusan, pertanda bahwa Allah telah menitipkan ridho dan kepercayaan? Ya Allah, inikah wujud rasa sayang yang Kau inginkan? Jika ini baik, maka dekatkanlah. Jika tidak, maka jauhkanlah. Batinku.
Semenjak hari itu, aku pun memantapkan diri untuk menetap. Warna cat kuning yang kupikir meresahkan, justru begitu menghangatkan. Yang ketika di awal berpapasan rasanya enggan, kini justru meninggalkan banyak kenangan. Banyak sekali, sampai-sampai aku tak sempat merapikannya dalam piringan hitam.
Dalam perjalanannya, aku lahir dan tumbuh di ruangan ini. Yang tadinya tak bisa, menjadi mencoba. Tadinya tak mampu, menjadi belajar. Banyak hal yang tidak aku sadari, ternyata hadirnya begitu berarti. Banyak potensi yang sekiranya tertutup kerendahan diri, ternyata berkembang menjadi-jadi. Betapa banyak hal dan perubahan yang terjadi pada diri ini. Seperti ulat yang pelan-pelan sedang belajar melepaskan kulit bekas kepompongnya. Bersiap untuk mengepakkan sayap cantiknya dan menunggu saatnya terbang.
Rasanya ingin tinggal lebih lama..
Allah pun turut meng-aamiin-kan. Dia memberi ku kesempatan kedua. Memang, banyak hal baik yang aku dapat disini. Mungkin inilah alasan mengapa Allah ingin aku lebih lama berada dalam lingkar kebaikan ini. Sampai-sampai Dia menitipkan aku lagi. Oh lagi-lagi. Dia selalu tahu bagaimana cara menjaga. Dia selalu tahu bagaimana membiarkanku untuk 'kembali'. Ya, Dia selalu lebih tahu.
Amanah ini menjaga. Tak sekedar menuntut tapi dia juga menuntun.
Biar kata jalan tampak sangat panjang. Berbagai rintangan dan lelah yang tak tergambarkan. Selama dua periode ini, cobalah rasakan. Banyak sekali hal-hal yang bisa jadi jika Dia tak titipkan aku kembali di ruangan ini, aku akan liar sejadi-jadinya. Lihat, betapa banyak kebaikan yang Allah tunjukkan. Ya, ini baik, maka Dia mendekatkan. Meskipun banyak hal-hal terkorbankan, tapi kegembiraan jelas sekali tak mampu dielakkan. Kegembiraan yang boleh jadi tak terinterpretasi tawa, cukup diutarakan senyum dan air mata.
Husnudzhanbillah.
Satu hal; percayalah dan berprasangka baiklah, terlebih kepada Allah SWT. Bahwa apa-apa yang terjadi dalam hidup kita, memang sudah semestinya terjadi dalam hidup kita. Sesuai dengan kadar usaha yang telah kita perjuangkan. Apakah usaha untuk menjemput kebaikan-Nya atau justru usaha berpaling menapikkan petunjuk-Nya. Kita lah yang memilih; menyelam atau justru tenggelam. Percayalah dan berprasangka baiklah, terlebih kepada Allah SWT. Bahwa tertundanya mimpi-mimpi atas titipan ini, terkorbannya banyak hal atas perjuangan ini, kelak akan ada balasan tersendiri di sisi Allah SWT.
"Sibuknya kita saat ini untuk kebaikan akan menjadi sebab Allah mewujudkan mimpi dan cita-cita kita."
Rumah ketiga
Dalam dua periode ini aku menemukan keluarga. Di ruangan ini, telah ku temukan dua keluarga. Keluarga dengan belasan wajah, dengan kelipatan warna, dan dengan pangkat karakter tak terbilang. Menghabiskan waktu nyaris dua tahun penuh bersama orang-orang yang awalnya entah siapa. Pun entah sudah habis berapa lembar cerita kebersamaan ini jika dibukukan sebagai novel maupun berita. Ah, terlalu merindukan.
Dalam kestatisan ini, kehadiran mereka begitu mendinamis. Menumbuhkan, menyuburkan, dan meneduhkan. Berbagai ekspresi dan emosi sudah menjadi saksi dalam kebisuan dan riuh kebersamaan ini. Meski berbeda masa, namun masing-masing selalu punya cerita unik tersendiri. Mereka ada untuk menghidupkan. Menghidupkan semangat kebaikan dan saling mengingatkan. Marah, tangis, canda, tawa, kecewa, sedih hingga bahagia sudah menjadi episode-episode tersendiri di setiap scene-nya.
Hingga sampailah aku pada episode terakhir. Episode dimana aku harus beranjak. Beranjak ke ladang lain yang bersiap untuk ditanam. Sudah saatnya, mereka yang berada disana melanjutkan. Menggantikan episode dua periode ini. Menanam kebaikan, menyuburkan lalu membaginya untuk orang lain. Keberadaan kita adalah nilai yang tak bernominal. Karenanya, apapun yang mereka katakan, tetap merendahlah dan jangan meninggi. Merendah bukan untuk direndahkan, tapi untuk bersiap bangkit dan berdiri.
Tibalah jua saat tongkat estafet ini diserahkan. Sampai kapanpun, keluarga ini, ruangan ini, amanah ini, akan selalu punya ruang tersendiri di dalam hati. Semoga kelak aku bisa kembali bersama kenangan yang masih perlu dirapikan. Agar ketika kurapikan, kembali terputarlah rekaman-rekaman di masa silam. Selamat berjuang keluarga kesayangan! Tebarlah kebaikan sejauh apapun jangkauan kalian.
Sebelum rindu, biarkan aku sedikit merapikan kenangan.:)
Untuk MPM, Rangers dan Kamen Riders.
@firdafh | Depok, 5 Juli 2014












