kemarin, kampus budaya memperingati hari puisi nasional dengan membuat acara yang bertajuk ‘melupakan Chairil Anwar?’
puisi-puisinya dibacakan, dimusikalisasi, didramatisasi.
lalu saya bertanya pada salah seorang panitia,
“kenapa hari puisi nasionalnya bertema Chairil Anwar? penyair lain kan banyak.”
“kenapa ya? ya dari dulu begitu, tradisinya HM kita gitu”
“oh, kirain ada alasan lain”
usut punya usut, hari puisi nasional tuh beda-beda. ada yang memperingati tanggal 26 Juli (hari lahirnya C.A) dan 28 April (wafatnya C.A). C.A mati muda sih, cerdas, idealis, kayak SHG. maka, idealis-idealis muda banyaklah yang ngefans sama beliau. Dan, soal ke-kepoan saya tentang beberapa hal tentang C.A belum tertuntaskan karena saya harus pulang di saat diskusi dengan para budayawan baru dimulai. hufft.
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
(Sajak Putih, Chairil Anwar)