Hear, ear.
Aku senang menjadi telingamu,
Kau bercerita kepadaku bagaimana kau menjalani hari demi hari.
Bahkan kau juga selalu bercerita kepadaku tentang kekasihmu, saat kau bertengkar dengannya.
Kau juga meminta saran kepadaku saat kekasihmu mulai keras kepala.
Dan aku pun tak segan untuk memberi saran kepadamu.
Aku mencoba untuk meredam amarahmu agar kau tak terburu-buru dalam mengambil keputusan dalam hubungan yang telah kau rajut hampir empat tahun ini.
Aku menasihatimu agar kau tetap pengertian terhadap kekasihmu dan selalu melakukan yang terbaik untuk masa depan kalian.
Ada rasa ‘deg’ dalam hatiku saat kau bercerita tentang rencana masa depanmu dengannya.
Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, “nyampe kapan sih tu kamu terus-terusan nyakitin diri sendiri?”, aku pun tak punya jawaban dan tak tau sampai kapan aku terus begini.
Terkadang aku sangat cemburu kepada kekasihmu, beruntungnya ia memiliki kekasih sepertimu yang selalu mempertahankan hubungan dan selalu mengalah untuk kebaikan hubungan kalian.
Tapi sebagai pendengarmu yang setia, aku harus selalu mendengar cerita tentang hidupmu agar aku tetap bisa disampingmu sebagai telingmu, Walau sampai kapan pun aku takkan bisa terlihat oleh matamu secara langsung.
Aku senang menjadi telingamu.
-rp.















