Peristiwa kebudayaan tahun 1950-1960an mencatat adanya konflik ideologi yang meruncing setelah diberlakukannya Manipol USDEK serta adanya konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dikalangan seniman (satrawan-perupa), termasuk Sanggarbambu dengan anggotanya. Dengan azaz berdasarkan Pancasila dan tunduk kepada pemerintahan yang sah, Sanggarbambu mempraktikan melalui pawiyatan hingga pameran keliling diberbagai daerah Jawa dan Madura (1960-1966). Meskipun dianggap sebagai ‘non politik’, Sanggarbambu telah membentuk sebuah arus diantara arus besar dalam konflik ideologi dengan praktik keseniannya selama 10 tahun pertama (1959-1969). Perjalanan kesenian dari Sanggarbambu ini memperlihatkan posisi, sikap, peran, ideologi hingga corak gaya yang menjadi bentuk praktik kesenian pemikiran dari Soedjatmoko, Nasionalisme Humanis Athif Thitah A., Ideologi, Politik sanggar Bambu 1959-1969, Yogyakarta, Penerbit Nyala, Des 2022, 228 hlm, 110.000 #AthifThitahA #IdeologiPolitikSanggarBambu #SanggarBambu #Senirupa #PenerbitNyala (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CnDn2CZBWnI/?igshid=NGJjMDIxMWI=









