Menunggu katanya hal yang kau benci
Apalagi jadwalnya sudah diujung jari
Waktu sudah lebih 23.24,
kereta kabarnya pun masih menunggu
Namun masinis telah kencangkan aba-aba
Pemberitahuan terakhir terasa sunyi
Aku masih memapah jalan serupa
Samar kulihat stasiun,
penumpang dalam pemberhentian dan pemberangkatannya
Peluit masinis bergetar dingin di udara,
tepat saat ku mencarimu di stasiun
Kereta t'lah berangkat...
Kuterima tandamu,
pada potongan tiket
kau tinggal di kursi tunggu
Tiket terakhir hari itu,
esok Kota Kehidupan t'lah berlalu
Bekal kata berbata-bata,
kulumat kembali membubur rasa
Kembali tergopoh Jalan Perjuangan,
satu dua kendaraan menyalipku tak henti
Memungut lagi impian dan tujuan,
satu kendaraan berhenti
Dibukanya jendela harapan,
ditawarkannya padaku bangku depan
Dia menanyakan arah Kota Kehidupan,
membutuhkan panduan
Aku tahu arah dan tujuan tanpa kendaraan,
kuiyakan ajakan
Lewati bunyi pagi dan siang tergenang,
lalu menampar kesadaran
Aku teman perjalanan,
teman yang hidup setelah senja
Obrolan memecah laparnya makna,
Dia tawarkan sekeratnya
Menuju Kota Kehidupan
Bukan masalah siapa cepat sampai,
tapi siapa selamat sampai tujuan.
Bukan masalah dengan siapa,
tapi dengan cara apa
Semua khawatir dengan apa maupun siapa,
lalu mereka tak beranjak dari apa-apa
Semua ingin menuju Kota Kehidupan,
namun cukupkah perbekalan?
Kalau yang kalian bawa hanya ransel kenangan harapan