Penyakit Hati
Manusia diciptakan memang bukan untuk menjadi mahkluk yang sempurna, dari segala kekurangan yang ada di dalamnya, hati manusia adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh sang pemilik dan Pencipta-Nya, namun bisa tampak oleh manusia dari tingkah laku, perkataan dan lukisan di wajahnya.
Saya bukanlah manusia yang sempurna, saya juga bukan manusia yang baik, pasti ada kekurangan dalam diri saya. Beberapa hari terakhir, hati ini mulai terusik oleh rasa iri. Yaaah...penyakit hati yang sebisa mungkin jangan sampe hinggap pada kita semua, sekeras apapun menolak dan menyangkal, rasa iri itu masih terselip di hati saya. Sebuah kisah yang entah sampe kapan menemukan akhirnya. Diawali oleh hubungan dua manusia yang belum mendapat restu penuh dari salah satu pihak orang tuanya dan mereka bersikeras untuk tetap melanjutkan ke hubungan yang lebih serius dengan banyak konsekuensi yang harus diterima. Tentu ada pihak yang menderita dengan keputusan ini, selain dua orang yang menjalani hubungan tersebut.
Tapi ketika ada pihak yang merasa harus melindungi yang paling menderita karena perlakuan acuh dari orang tuanya, maka saya adalah orang yang paling iri dengan semua itu. Perasaan iri dan takut, apakah kelak saya akan mendapat orang tua baru (baca : mertua) yang juga sebaik pelindung tersebut. Apakah saya masih bisa mendapatkan hak saya sebelumnya? Apakah saya masih menjadi prioritas? Apakah saya masih mendapat perlakuan yang sama?
Semacam “insecure” berlebih dari seorang anak yang belum pernah mendapat saingan sebelumnya...
Sekarang harus belajar ikhlas, terus memperbaiki diri, menyembuhkan penyakit hati dengan membersihkannya (mumpung lagi bulan ramadhan). Yakin akan mendapat sosok yang baik jika kita sendiri orang yang baik, bersihkan hati, sambut dengan gembira agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih tenang.









