Pemimpin Terbaik dan Tak Terlupakan
Membaca judul sebuah artikel di media online, judulnya tampak menarik, membuat saya ingin membaca dan mengetahui isi dari tulisan tersebut.
1. Pemimpin harus bisa diandalkan dan bertanggung jawab
Tidak mudah menjadi seorang pemimpin, banyak hal yang harus diperhatikan, perasaan yang harus dijaga, tingkah laku yang selalu dijadikan panutan. Mungkin memang berat, tapi bukan mustahil untuk dilakukan. Seorang pemimpin merupakan tempat untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi oleh bawahannya, jika dia belum bisa menjadi solusi, maka belum layak seseorang itu disebut pemimpin. Selain sebagai solusi, seorang pemimpin yang baik harus bertanggung jawab atas segala tindakan, ucapan, tugas dan kewajibannya. Pemimpin yang tahu persis tugas, kewajiban, wewenang serta tanggung jawabnya adalah pemimpin yang akan sukses membawa suatu organisasi menjadi lebih berkembang dan maju. Sosok seorang pemimpin yang diharapkan dalam lingkungan tempat saya berkarya saat ini.
2. Pemimpin cerdas dalam melihat kesempatan dari ketidakstabilan
Hal yang dinamis tidak selalu stabil dan memang seharusnya tidak stabil, karena proses dalam menstabilkannya lah yang membuat sebuah organisasi lebih berkembang, sumber daya manusia di dalamnya lebih kreatif dan pemimpin tangguh yang akan membenahi ketidakstabilan tersebut. Pemimpin harus bisa dan pandai membaca situasi serta kondisi, orang yang cakap dalam memimpin, akan membuat suatu ketidakstabilan sebagai sebuah tantangan untuk menjadi lebih baik dan menghasilkan perubahan yang positif.
3. Pemimpin bertindak profesional
“Keputusan personal dan perilaku profesional merupakan dua hal yang berbeda bagi seorang pemimpin yang patut dihargai. Mereka tidak pernah mengemukakan atau membiarkan emosi personal menodai tindakan serta keputusan profesional. Sebab, mereka paham bahwa hal yang demikian bisa mempengaruhi pada kehidupan orang banyak.”
Sudah sewajarnya sesuatu yang bersifat personal tidak dicampuradukkan dalam urusan profesionalsime, karena sudah banyak contoh yang menunjukkan jika kedua hal tersebut kurang pas bila harus berjalan berdampingan. Segala keputusan yang berkaitan dengan profesionalisme seharusnya tidak terpengaruh oleh urusan personal dan penilaian subjektif terhadap penerima keputusan dan pengambil keputusan. Namun kita hanya manusia biasa yang tak sempurna, bahkan seorang pemimpin pun adalah sosok yang tak sempurna yang bisa melakukan kesalahan dan ketidakadilan dalam mengambil sebuah keputusan. Alangkah lebih baiknya jika profesionalisme tetap dipegang teguh dan dijaga untuk memajukan sebuah organisasi. Pemimpin harus profesional dalam segala hal yang berkaitan dengan tugas serta tanggung jawabnya, selain itu hak yang melekat pada seorang pemimpin hendaknya digunakan secara profesional tanpa harus melibatkan perilaku personal.
4. Pemimpin harus percaya pada anak buah
“Apalah arti menjadi pemimpin jika Anda tidak mampu mendelegasikan pekerjaan pada tim kerja. Ingat, berbagai kerja dan mempercayakan proyek pada bawahan bukan sebatas perintah, melainkan sebuah “ajakan” untuk mencapai tujuan bersama.”
Potongan tulisan dalam artikel yang saya kutip sudah cukup menggambarkan, bagaimana seharusnya sosok seorang pemimpin itu. Pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas atau pekerjaan pada tim atau bawahannya, “managerial skill” yang baik adalah mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kemampuannya untuk mengatur, menempatkan dan memposisikan sumber daya manusia dengan tepat adalah kunci majunya sebuah organisasi. Pemimpin bukan orang yang paling tahu dan yang paling benar, jika Anda seorang pemimpin dan masih merasa seperti itu, ada yang “salah” dengan diri Anda, masih banyak hal yang harus Anda perbaiki untuk menjadi pemimpin yang dicintai oleh bawahannya. Pemimpin yang merasa bisa melakukan semua hal seorang diri dan tidak ingin mendelegasikan pekerjaannya ke orang lain cenderung tidak disukai oleh bawahan. Hanya ingin dianggap dan diakui bahwa Anda bisa dan mampu tidak perlu berlebihan juga “show off” nya, orang bisa menilai, dan penilaian untuk seorang pemimpin bukan hanya aspek tersebut saja (ahli di bidangnya, tingginya jabatan dan banyaknya wewenang).
5. Pemimpin yang baik punya insting melindungi dan penyayang
“Anda tidak bekerja sendiri. Anda tidak perlu khawatir pada kegagalan. Dua hal ini adalah kunci motivasi yang harus diberikan atasan pada anak buahnya.”
Motivasi, kepercayaan dan keyakinan yang diberikan seorang pemimpin kepada bawahannya akan membuat bawahan merasa lebih dihargai karena keberadaannya merupakan suatu hal yang penting. Senang rasanya jika kita dimanusiakan oleh manusia lain, apalagi orang itu adala pemimpin kita, pasti ada perasaan bangga dan ingin memberikan yang terbaik. Motivasi tidak melulu kata-kata bijak atau kalimat-kalimat yang membakar semangat, memberikan pujian yang tulis, memperhatikan hal-hal kecil yang bisa membuat bawahan merasa dianggap keberadaan dan kontribusinya adalah motivasi paling baik untuk manusia yang pada dasarnya senang dipuji dan diperhatikan. Pemimpin adalah orang yang akan pertama kali ada untuk melindungi bawahannya, memperlakukan dengan kasih dan menyayangi mereka, karena tanpa bawahannya, pemimpin tidak pernah ada, karena tanpa bawahannya, pemimpin tidak ada nilainya, pemimpin bukan siapa-siapa tanpa sumber daya yang mendukungnya. Anda bukan seorang pemimpin jika sendiri, Anda menjadi pemimpin ketika ada bawahan yang mendukung, Anda adalah pemimpin yang berhasil jika bawahan Anda bisa menjadi lebih baik, maju, kreatif dan berkembang dari sebelumnya.
Harapan saya adalah memiliki sosok pemimpin dengan kriteria dan penjabaran yang telah saya sebutkan di atas. Mungkin untuk saat ini belum, namun saya masih berharap dan berkeinginan untuk mendapatkan sosok pemimpin seperti itu, Jikapun nanti saya diamanahkan untuk menjadi seorang pemimpin, saya akan berusaha menjadi pemimpin dengan kriteria tersebut. Terlepas dari semua itu, pertanggungjawaban seorang pemimpin kelak dihadapan Sang Pencipta adalah sesuatu yang pasti, semoga bisa menjalankan amanah yang diberikan dengan aik dan saat diminta pertanggungjawaban kelak, kita sudah siap untuk menerima konsekuensi atas segala perbuatan kita di dunia.