7 kali jatuh, 8 kali bangkit
konsep tidak menyerahnya masyarakat Jepang
Yah, quote di atas merupakan arti harfiah dari sebuah pepatah tradisional jepang nanakorobi yaoki yang ternyata mampu menyihir masyarakatnya untuk tidak kenal menyerah.
Secara tidak sadar kita sering menemukan pesan-pesan seperti quote di atas dari beberapa animasi/film keluaran Jepang. Sebut saja, misalnya serial anime Captain Tsubasa.
Dalam beberapa kesempatan, Tsubasa dkk seringkali tertinggal lebih dahulu dari lawannya. Namun, selalu saja ada mantra yang diucapkan Tsubasa untuk mengangkat semangat rekan satu timnya, yaitu
pertandingan baru saja di mulai
Entah mengapa, kemudian Tsubasa dkk seperti terhipnotis untuk bermain lebih cantik dan rapi yang akhirnya kemudian selalu bisa mengembalikan kedudukan.
Ada yang pernah nonton serial Tokyo Tower?
Cerita tentang sebuah keluarga kecil: Ibu, satu anak laki-laki dan ayahnya. Betapa Makun (nama anak laki-laki dalam film) merupakan sosok anak pemalu, tapi dengan gengsi yang sangat tinggi (typical anak laki-laki).
Sering kali dalam kehidupannya jatuh terpuruk dalam berbagai kesempatan sampai divonis punya masa depan yang suram oleh kepala sekolah. Namun pengalaman hidup Ibunya dalam membesarkannya membuat Ia selalu bisa bangkit.
yang disampaikan ibunya saat scene perpisahan di stasiun untuk pergi ke Tokyo. Kurang lebih artinya do your best atau secara harfiah ayo kerja keras!. Bukan malah bermelankolis, tapi yang ditanamkan Ibunya adalah semangat.
Belum lagi peristiwa tentang Hiroshima dan Nagasaki. Betapa bom atom yang jatuh pada bulan Agustus ‘45 di kedua kota tersebut berhasil mematikan kota dan membuat Jepang akhirnya menyerah.
Namun, kurang dari 15 tahun Jepang kemudian bisa bangkit lagi karena resilient culture yang mereka miliki sebagai bangsa.
Betapa filosofi 7 kali jatuh, 8 kali bangkit-nya Jepang ini begitu magis. Bahwa keterperukan dan kegagalan bukanlah untuk diratapi. Tetapi yang terpenting adalah apa yang dilakukan setelahnya. Yaitu,
Bangkitnya. Bangkitnya. dan bangkitnya kita.
Terasa hambar dan normatif memang.
Namun percayalah dengan ini...
Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan
yang sampai dua kali diulang dalam surat Al Insyiraah. Dan ini bukan mantra biasa. Ini Janji-Nya.
Jadikan kegagalan sebagai pembelajaran untuk kemudian bangkit dan melesat.
Lalu masih adakah alasan kita untuk menyerah?
Jakarta, 27/3/17
(c) Ahmad Mujahid