Untuk Seseorang yang Berjarak 15 Tahun Cahaya
Aku taktahu lagi bagaimana cara mengelola ekspektasi.
Ekspektasi ini berpijar kesegala arah, memenuhi tiap galaksi hati.
Terus berekspansi dan memaksa dimensi yang dulu suram kini berganti terang.
Mengusir sepi dengan jutaan meteor harapan.
Karena kamu, seseorang yang kini berjarak 15 tahun cahaya dariku, begitu jauhnya.
Karena kamu, kamu yang tiba-tiba menggoyahkan keselarasan anomali perasaan.
Kembali masuk seperti seberkas cahaya senja yang menerawang ke dalam ruang melalui jendela, kau pun demikian.
Sangat hangat, tenang, dan damai, tapi sayang masih belum bisa aku rasakan.
Meskipun kukerahkan banyak daya, tapi tetap saja hampa.
Padahal ingin. Ingin sekali...!
Karena itu kamu, seseorang yang kini berjarak 15 tahun cahaya dariku.
Andai masih ada, dulu kita memang dekat tak terbantahkan.
Seperti mempunyai lubang cacing pribadi yang membuat semesta kita selalu terkoneksi.
Yaa.. meskipun tak selalu sehati, tapi kurasa itu sudah cukup untuk membuat galaksi lain merasa iri.
Cukup. Membahas ini, kita tak akan bertemu henti.
Jarak itu menyebalkan, seolah menjelma menjadi 2 variable yang selalu berubah terhadap waktu.
Betapa tega mereka membuat semesta yg dulunya dekat,/ kini menjadi jauh tak berhingga.
Berjarak 15 tahun cahaya, begitu jauhnya.
Lantas aku berfikir, dimana letak bodohku? Kuteringat, terlalu mengharapkanmu bisa membuat atmosfer hatiku menipis dan rapuh.
Tapi kali ini bukan rapuh karena mu, melainkan karena aku. Aku dan pijar ekspektasiku akan perasaanmu.
Ekspektasi yang membuatku tak tahu harus senang atau hanya tenang.
Ekspektasi untuk memilikimu, seseorang yang kini berjarak 15 tahun cahaya dariku.