Aku Bukan Penakut, Tapi Kejadian Ini...
{Cerpen dari pengalaman pribadi, true story tp tdk 100% asli, ada exaggerated di sana sini, just donât sue me, okay. Cuma gatel pengen nulis, kebetulan juga tulisan ini cerpen horor pertama gw}
Sudah tiga bulan lebih aku pindah ke kostan baru ini, kostan yang terletak di sebuah gang sempit di pinggiran kota Bandung. Sejak awal kepindahan aku sudah merasakan ada hal yang bisa dibilang aneh dengan kostan ini. Entah kenapa, sepertinya tinggal di kostan yang terletak di gang super sempit yang bahkan membuat cahaya matahari pun sulit untuk tembus seolah - olah bisa membuatmu merasasedikit lebih âsensitifâ dengan keadaan sekitar.
Kost ini memiliki dua lantai dengan lantai atas sebagai loteng dan gudang. Lantai pertama memiliki enam kamar namun cuma tiga kamar yang terisi. Satu kamar diisi olehku, satu oleh mas Anton seorang pegawai pabrik sepatu, dan satu lagi diisi oleh seseorang bernama mas Kurnia yang entah siapa aku tidak terlalu kenal dekat karena jarang terlihat di kost dan meski sekalipun ada selalu berdiam diri di kamar dengan lampu kamar yang lebih sering dimatikan meskipun malam. Dan dari awal kesendirian inilah, aku sering mendapatkan kejadian-kejadian yang tidak masuk di akal.
Sudah hampir sebulanan ini aku terkadang merasakan hawa gelap yang tidak wajar, rasa lembab dan dingin yang berlebihan, suara anak kecil menangis dan bahkan bayangan hitam yang kurasa sering mengamatiku sekelebat bisa kulihat secara visual. Namun karena posisi kost yang lumayan dekat dengan tempat kerja dan terlebih karena harga sewa per bulan yang murah, aku selalu menemukan alasan untuk tetap tinggal. Lagi pula aku bukan tipe orang yang takut dengan hantu ataupun setan, aku bisa berujar demikian karena sebenarnya aku pernah sesekali melihat hantu dan aku tahu aku tidak takut, aku hanya terkadang kaget dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba dan sosok mereka yang tidak normal. Selain itu aku masih memutuskan untuk tinggal karena awalnya pun kupikir cuma sebatas itu gangguan yang aku dapatkan. Tadinya kupikir begitu, tetapi ternyata aku salah. Salah besar!.
Kejadian ini terjadi suatu sore menjelang magrib aku pulang dari kantor, aku bersiap mandi mengambil handuk yang ku jemur di depan kamar. Saat memasuki kamar mandi itulah ada hal yang aneh, di lantai bisa kulihat ada beberapa helai rambut panjang sedikit kusut menggumpal yang berceceran, di bak air pun demikian. Aku tidak tahu itu rambut siapa, yang jelas bukan rambutku karena aku berambut pendek. Jika kupikir-pikir lagi pun, tidak ada penghuni kost ini yang berambut panjang. Semuanya pria dan berambut pendek dan sekalipun mereka berambut panjang, mana mungkin rambutnya bisa ada di kamar mandiku. Kejadian ini sempat membuatku agak merinding mengingat kisah urban horor yang sering kudengar saat masih kecil tentang kuntilanak yang berambut panjang dan sering keluar menjelang magrib. Setelah diam dan menenangkan diri sejenak, aku memutuskan untuk mengambil rambut-rambut yang berceceran di lantai dan di bak air itu, kuperoleh rambut sekitar segenggaman tangan. Setelah itu aku lanjut mandi tanpa memikirkan kejadian tadi, âlagipula aku tahu aku bukan penakut, aku cuma pengagetâ Itu yang selalu aku gumamkan dalam hati.
Magrib pun berlalu, aku menjutkan aktifitas seperti biasa. Mengerjakan sesuatu di laptop sambil menyetel lagu di Youtube. Malam berlanjut, sedikit demi sedikit kurasa hawa sekitar berubah menjadi lebih dingin di dalam kamar. Ini aneh, karena sebelumya suhu ruangan terasa gerah sampai-sampai aku perlu menghidupkan kipas angin dan perubahan suhu yang sangat cepat berubah inilah yang kurasa tidak wajar. Aku pun bergerak menuju kipas angin di sudut kamar, ku set di angka 0 untuk mematikan. Saat sedang menunduk untuk memencet tombol kipas angin itulah aku benar-benar kaget dengan apa yang aku lihat di sisi kanan mataku. âASTAGFIRULLAH!â Aku sedikit berteriak sambil terjatuh. Aku melihat sosok perempuan berbaju putih lusuh melayang di kamar mandi. Aku tak melihat wajahnya karena tertutup bagian atas pintu, tetapi aku yakin dengan sosok perempuan melayang itu berambut panjang dengan warna kulit kaki yang sangat-sangat pucat dan aku melihatnya dengan jelas untuk beberapa detik sebelum dia menghilang saat aku mencoba untuk berdiri. Sambil tetap beristigfar dalam hati, aku berdiri dan berjalan kembali ke meja belajarku di sudut diagonal lain dari tempat kipas angin ini. Aku duduk diam, mengencangkan suara musik dari laptop yang sudah tidak bisa lagi benar-benar aku dengarkan. Aku cuma masih diam mencoba mem-flashback kejadian barusan.
âItu tadi perempuan, kan? Rambut panjang? Melayang? Menghilang?â Gumamkku pelan. Aku yang berusaha untuk tenang kemudian teringat kejadian menemukan rambut panjang sore tadi di kamar mandi dan kemuadian semuanya seolah-olah menjadi âmasuk akalâ walaupun setelah kupikir-pikir, tidak ada satupun dari kejadian ini yang masuk di akal. Aku langsung menarik kesimpulan bahwa kamar mandiku berhantu, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak takut, aku cuma mengingatkan diriku sendiri supaya  berhati-hati agar tidak kaget lagi. Malam itu malam yang panjang, baru sekitar pukul dua malam aku pergi tidur.
Pagi harinya kusengajakan ngobrol dengan mas Anton saat dia sedang âmemanaskanâ motornya sebelum berangkat kerja. Aku bercerita tentang kejadian tadi malam, tentang rambut dan juga perempuan melayang di kamar mandi. Mas Anton yang sebenarnya sudah tinggal lebih lama di kost ini daripada aku. Mendengar ceritaku, mas Anton malah juga kaget dan penasaran, karena menurutnya dia sendiri pun tidak pernah mengalami hal yang aneh-aneh selama berada di kost ini. Mendengar hal itu pun aku menyudahi ngobrol dengannya karena dia harus berangkat kerja dan aku pun harus sama.
Lima hari berlalu, sosok itu tidak menampakkan diri lagi. Namun aku masih merasa hawa di kost ini aneh, aku masih tetap masih sering mendengar suara anak kecil menangis dan berteriak, masih sering merasa ada yang mengamati. Meskipun sudah lima hari sosok itu tidak muncul, pun aku tetap masih sering menemukan beberapa helai rambut panjang bukan hanya di kamar mandi tetapi kali ini juga di lantai kamar, meja, bahkan kasurku.
âSialanâ Pikirku dalam hati saat sedang menyapu lantai kamar.
Dari awal menyapu sampai hampir selesai membersihkan kamar itulah aku merasa bahwa ada sosok yang mengamati dari arah atas, mungkin dari arah sudut langit-langit tetapi aku tidak tahu itu siapa atau apa. Aku hanya merasa semakin hari aku semakin âsensitifâ dengan sosok yang kunamakan âpengamatâ ini. Sosok ini sudah kurasakan sejak awal pertama aku datang ke kost ini. Satu yang aku tahu pasti, sosok âpengamatâ ini bukanlah perempuan melayang yang kulihat tempo hari. Mereka benar-benar mempunyai hawa yang berbeda. âPengamatâ ini benar-benar memberikanku perasaan yang tidak nyaman, begitu gelap, lembab, pekat, dan menjijikkan. Menyadari hal itu, aku menyudahi membersihkan kamar tanpa menoleh kearah sudut atas langit-langit kamar. Aku keluar kamar, duduk di teras depan dengan sengaja kubiarkan pintu kamarku terbuka.
Menjelang magrib tiba, kudengar suara motor mas Anton dari arah depan gang. Dia pulang, aku sedikit lega. Setelah berbincang agak lama, adzan magrib berkumandang dan kami mengakhiri perbincangan, kami berdua masuk ke kamar masing-masing. Sialnya aku masih merasakan hawa di kamarku tidak berubah. Aku mencoba berpikiran positif, masuk kamar mandi untuk ber-wudhu lalu sholat dan mengaji. Ketika waktu Isyaâ pun juga kuulangi hal serupa, sholat dan mengaji. Alhamdulillah perasaan tidak mengenakkan tadi berkurang . Setelah itu aku pun melanjutkan kegiatan di kamar seperti biasa, tidak ada yang aneh. Setidaknya tidak ada yang aneh sampai waktu tidur tiba.
Aku  pergi tidur sekitar pukul 11. Setelah mematikan lampu utama aku menghidupkan lampu belajar di samping kasurku. Kuatur tingkat kecerahannya yang paling rendah sehingga bisa berfungsi juga sebagai lampu tidur. Setelah tenang, memakai selimut lalu diam beberapa saat,  aku benar-benar tertidur. Tetapi setelah itu entah kenapa aku terbangun, hawa lembab, pekat, dan menjijikan yang kurasa sore tadi muncul kembali. Perasaanku tidak nyaman, aku melepas selimut kerena kepanasan dan sedikit berkeringat namun sambil tetap mencoba untuk memejamkan mata berharap bisa tidur kembali. Tetapi perasaan ini tidak bisa dibohongi. Aku membuka mata, bersiap untuk berdiri dari kasur untuk mengambil segelas air untuk diminum sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku tidak bisa bergerak. Mataku terbuka, namun aku benar-benar tidak bisa bergerak sekuat apapun aku berusaha. Satu menit, dua menit berlalu, aku masih belum bisa bergerak. Perasaan ini, hawa ini, semua hal yang menyesakkan dada ini semakin menguat seiring dengan putus asanya aku dalam mencoba berdiri.
Aku masih belum bisa bergerak, berteriak pun aku tak bisa. Satu-satu yang yang bisa kugerakkan adalah mataku. Mataku masih terbuka dan aku bisa menggerakkannya melirik ke kiri dan kanan. Karena lampu belajar yang kubiarkan menyala tadi, aku masih bisa melihat keadan sekitar meskipun remang-remang. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 2. Tetapi ternyata bukan hanya jam dinding yang bisa kulihat saat itu. Aku melihat sesosok pria dewasa menempel di langit-langit kamarku. Pria itu berpakaian lusuh dan penuh dengan noda darah mengering, penuh dengan luka membusuk disekujur tubuh dan wajahnya. Saat kusadari ternyata bukan hanya busuk secara visual, tapi aku dengan jelas bisa mencium bau busuk yang sangat menyengat di kamarku Lalu sesosok pria itu menoleh kearahku, aku yang tak bisa melakukan apa-apa terpaksa melihatnya. Untuk beberapa saat mata kami bertemu dan disaat itulah aku yakin bahwa sosok ini adalah sosok âpengamatâ yang seringkali kurasa sering mengamatiku dari awal kepindahan kost. Dari tatapan matanya pun aku seakan yakin bahwa sosok ini adalah makhluk yang benar-benar jahat.
Aku masih belum bisa bergerak saat tiba-tiba sosok ini turun dari langit-langit ke lantai. Jalannya sangat pelan menuju sudut lain kamarku. Sesaat aku merasa bersyukur sosok ini tidak menghampiriku sebelum akhirnya kejadian aneh lain terjadi. Sosok pria menakutkan ini kulihat memukul sesosok anak kecil yang entah dari mana datangnya. Anak itu berteriak meminta tolong, sosok pria itu tetap kalap memukulnya sebelum akhirnya berhenti. Anak kecil itu menangis, mendengar tangisan itu aku langsung tau bahwa dia adalah sosok suara ghaib anak kecil yang sesekali kudengar di kamar.
Melihat semua kejadian itu, aku semakin ingin bisa bergerak. Ini adalah hal yang sangat membuatku frustasi. Sosok pria penuh luka borok itu akhirnya menoleh kearah ku. Aku takut. Perlu kujelaskan lagi, aku bukan orang yang mudah takut dengan apa yang kau bilang setan atau hantu, tetapi ini benar-benar membuatku takut. Sosok pria itu berjalan mendekatiku, jalannya membungkuk, badannya menunduk tetapi wajah dan matanya mengarah kepadaku. Dengan pelan tetapi pasti, dia berjalan kearahku. Di saat yang bersamaan, masih bisa kudengar suara anak kecil itu menangis. Tangisannya tantrum dan semakin memekakkan telinga. Tanpa sadar kulihat sosok pria itu sudah sangat dengan dengan kasurku, entah apa yang akan dia lakukan.
âMemukulku juga kah? Atau malah membunuhku?â Entah kenapa hanya hal itu yang kupikirkan. Dan di saat aku mulai pasrah dan sosok itu semakin mendekat, aku memejamkan mata erat-erat, berharap bisa berdiri dan berlari. Benar saja, aku kemudian bisa menggerakkan semua anggota tubuhku. Aku mulai berdiri saat kulihat sosok pria itu berjarak tak sampai dua langkah dari kasurku. Aku berlari melewatinya, kami berdua saling bertatapan kembali, sosok itu masih terasa nyata dan bau busuk itu sangat terasa. Aku membuka pintu kamar dan langsung berlari menuju kamar mas Anton.
âMas, mas Anton, mas...â Aku sedikit berteriak dan mengetuk pintu dengan keras namun juga berusaha untuk mengecilkan volume suaraku karena aku masih sadar ini sudah sekitar pukul 2 malam.
Mas Anton yang kemudian membuka pintu kaget dengan denganku yang mampir malam-malam ke kamarnya dalam keadaan berkeringan seperti orang habis jogging, padahal dia tidak tahu saja kalau ini keringat sebenarnya keringat dingin.
âMas, ada setan di kamarkuâ Aku langsung to the point namun masih berbicara sambil terengah-engah.
Aku yang sedikit membuat kerinbutan ternyata juga tanpa sengaja membangunkan mas Kurnia yang aku baru tahu ada di kostan malam itu. Mas Kurnia yang terlihat kebingunan berjalan menuju arah kami berdua.
âMas Kur, ada setan di kamarkuâ Aku mengulangi cara serupa untuk straight to the point.
Mereka berdua pun berusaha menenangkanku sambil tetap bertanya tentang detail kejadian menakutkan yang aku alami tidak hanya kejadian barusan, namun juga kejadian aneh yang kualami selama ini. Tentang perempuan melayang, anak kecil menangis, dan sosok pria penuh dengan luka borok yang menakutkan.
Mendengar cerita itu, mas Kurnia tidak kaget, malah kurasa dia tahu sesuatu yang berhungungan dengan kejadian ini. Tebakanku benar. Mas Kurnia pernah tinggal di kamarku sebelumnya dan pernah mengalaminya sebelum akhirnya dia pindah kamar ke kamar yang lain. Tidak hanya sampai di situ, ternyata dia juga tahu asal muasal sejarah kamarku yang berhantu itu.
Menurut mas Kurnia, dulu kamarku adalah kamar yang pernah disewa oleh satu keluarga yang terdiri dari ayah, istri, dan anak. Keluarga itu keluarga KDRT. Sang ayah yang seorang pemabuk melakukan kekerasan fisik pada anak dan istrinya. Ayah itu bahkan memukuli sang anak sampai si anak mati dalam kondisi mabuk dan sang istri mati gantung diri di kamar mandi akibat stress tidak tahan dengan perlakuan suami. Sang suami sendiri tidak diketahui bagaimana nasibnya setelah dipenjara. Menurut mas Kurnia, mungkin sosok penuh luka borok itu adalah sosok gentayangan sang ayah, suara anak kecil itu ada lah suara tangisan si anak, dan sosok perempuan yang melayang itu sebenarnya bukan melayang, namun perempuan yang gantung diri, namun karena aku tidak bisa melihat bagian atas tubuhnya karena terhalang pintu, makanya aku mengira bahwa sosok itu melayang. Mendengar hal itu merasa seperti sudah memecahkan misteri tentang hal-hal aneh yang menimpaku di kamar itu.
Setelah mereka berdua menenangkanku dan aku juga memang sudah merasa tenang, kami bertiga pergi melihat kamarku yang tentu saja sosok yang kuceritakan tadi sudah tidak nampak. Kami bertiga kemudian menunggu hingga subuh tiba setelah akhirnya pagi itu aku langsung memutuskan untuk pindah kamar. Mas Anton dan mas Kurnia membantu proses perpindahan barang ke kamar sebelah kamar mas Anton.
Setelah itu, aku tidak merasakan kejadian-kejadian aneh lagi. Hanya saja aku masih merasa aneh jika melihat atau melewati kamar angker itu. Sekali lagi, aku bukan penakut, tapi kejadian ini... kau nilai saja jika berada di posisiku.