Antara Pendidik dan Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah kata yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Ketika berbicara pendidikan sosok yang selalu terngiang adalah Bapak Pendidikan Nasional yakni Ki Hajar Dewantara, Yang mana salah satu kutipannya menjadi lambang Kementrian Pendidikan Nasional “Tut Wuri handayani”. Namun apakah lambang ini merupakan lambang tanpa makna ? tentu saja tidak.
Indonesia mempunyai tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam preambul UUD Negara Republik Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu kini sejauh mana rakyat Indonesia tercerdaskan oleh Pendidikan ? di Abad 21 ini pendidikan Indonesia bagaikan sebuah kapal yang terombang-ambing dilautan. Mengapa tidak, karena arah Pendidikan Indonesia sendiri semakin tak jelas. Akan dibawa kemana dan berlabuh ke dermaga seperti apa hanya sebatas angan yang melupakan sebuah proses.
Prinsip Taman Siswa yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita adalah mengenai Trisentra Pendidikan. Trisentra tersebut adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Disadari atau tidak telah terjadi pergeseran peranan pentingnya sentra-sentra pendidikan tersebut. Kini realitanya banyak sekali orang tua yang gagal paham, dan meletakkan sekolah sebagai pusat pendidikan bagi anaknya. Dengan mengabaikan perannya sebagai ibu/ayah di rumah. Tidak hanya itu, banyak anak yang ditekan orang tua agar sekolah baik, dapat nilai tinggi dan menjadi juara. Tanpa adanya pendampingan dan perhatian yang berkelanjutan dari orang tua kepada anaknya.
Sepertinya kini kejadian salah kaprah dalam mendidik sudah terstruktur dan masif tersebar keseluruh Indonesia. Artinya banyak orang tua yang mendidik anaknya dengan pola yang sama, agar pintar Matematika, Fisika, Bahasa Inggris. Tanpa mengedepankan nilai moralitas yang harusnya tertanam sejak dini. Kembali ke sistem, seharusnya ini mulai ramai kembali dibahas dan disuarakan agar arah pendidikan Nasional Indonesia tidak terlempar jauh dari tujuannya.
Begitu peliknya masalah Pendidikan Nasional ini, dari memaknai “Tut Wuri Handayani” apakah sebagai lambang belaka, Tujuan Pendidikan Nasional yang termaktup di Preambul UUD 1945, hingga realita pendidikan Abad 21. Lain dari itu bagi saya ada yang terlupakan, ada bagian yang fundamental dan menjadi pokok yang perlu ditekankan namun dilupakan. Yakni Pendidikan Karakter, akhir-akhir ini banyak memang digaungkan Pendidikan karakter - Pendidikan Karakter. Sejatinya ini bukan tentang mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan saja. Namun bagaimana setiap diri pendidik memiliki karakter pendidik yang mengakar. Mengakar dalam mendidik berarti memahami konsep dasar mendidik yang betujuan mengembangkan kepribadian peserta didik seutuhnya.
Kita banyak mengkoreksi sistem pendidikan yang ada hingga jauh mendalam sampai objek pendidikan, namun kita lupa mengkoreksi si pendidiknya. Terlebih-lebih mengkoreksi calon pendidik yang sedang menempuh pendidikan Tinggi. Ini perlu dan harus karena bagaimana cita-cita Pendidikan itu bisa tercapai, bagaimana generasi Penerus Bangsa mempunyai akhlak yang bagus ketika tidak dimulai dari pendidiknya. Untuk membenahi suatu objek, kita jua harus membenahi diri. Karena tak mungkin kita akan merubah dunia yang besar, ketika merubah diri kita sendiri pun tidak bisa.
Semangat memperbaiki diri Pemuda/i Indonesia
Aan Kurniawan SaputraPecinta Bunga Mawar Merah(24/6), 22.05 WIB