Mate(MEI)tika dan Segala Hal Tentangnya
Akhirnya mei datang juga, ini adalah bulan mei yang ke 23 yang Saya lalui serta mei ke 5 di kampus Hijau nan islami IAIN Raden Intan Lampung, serta sudah 18 kali mei bangsa ini reformasi. Mei punya banyak cerita, tak hanya “rangga” yang datang kembali menemui “cinta”, tapi juga ada beragam suka dan duka.
Mei adalah bulan perjuangan, dimana banyak sekali peristiwa penting dibulan ini dari hari peringatan buruh sedunia (may day), pembebasan irian barat, pendidikan nasional, kebangkitan nasional, hingga tonggak sejarah negeri ini yakni Reformasi dan hari besar lainnya. Aksi “May Day” memang selalu ramai dengan berbagai rentetan gejolak perjuangan pekerja (sebut saja buruh) masalah ketenagakerjaan yang belum terselesaikan. Bahkan nasib buruh di Indonesia semakin lama semakin buruk dan miskin.
Saya teringat cerita Ibu disaat terakhir orde baru akan berakhir beliau turut serta dalam barisan buruh yang melakukan aksi di jalanan, bahkan menginap di gedung DPR/MPR selama berbulan-bulan hingga lengsernya presiden Soeharto. Ibu saya pun menjadi korban PHK Masal kala itu. Semoga buruh mendapat upah yang layak dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selain peringatan hari buruh sedunia, di 1 mei ini adalah perjuangan bangsa Indonesia merebut Irian Barat. Banyak aksi-aksi perjuangan yang dilakukan demi mempertahankan Irian Barat tetap milik Indonesia. Perjuangan dilakukan tak hanya melalui diplomasi, namun juga dengan konfrontasi politik dan ekonomi, serta tri komando rakyat dan juga persetujuan New York.
Lalu ada juga hari yang dulu ketika saya masih sekolah dasar dan menengah pertama selalu ada Upacara Peringatannya setingkat kecamatan di Lapangan di hari ini, yakni Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS).
“Pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.” Ungkap Bapak pendidikan nasional Indonesia – Ki Hajar Dewantara
Banyak orang berfikir bahwa pendidikan itu penting, tapi tidak sedikit pula yang berfikir bahwa pendidikan itu tidak penting. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan ataupun daerah terpencil, mereka menganggap pendidikan itu tidak penting. Bagi mereka, lebih baik bekerja daripada sekolah. Alasan utamanya sudah pasti bisa ditebak, karena jika bekerja mereka bisa mendapatkan uang, sedangkan sekolah hanya buang-buang uang saja. Di tambah lagi dengan kondisi saat ini yang sangat susah mencari pekerjaan.
Padahal berkat pendidikan kita mendapat pengetahuan yang banyak, memberikan banyak pencerahan, serta membangun kemajuan bangsa, dan yang tidak kalah penting adalah membangun karakter.
Lalu, Hari Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Nasional adalah Masa di mana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. 20 Mei 1908 menjadi tonggak sejarah dimana perjuangan rakyat Indonesia yang sebelumnya melalui jalur fisik beralih ke perjuangan Intelektual. Kebangkitan Nasional = Kebangikitan Pemuda, semangat pemuda Indonesia. !
Ingat kata-kata ini “Piye ise penak jamanku to ?” jika masih ingat berarti masa abad 21 Anda penuh gejolak prahara. Orde Baru tumbang 21 Mei 1998 salah satunya oleh mahasiswa kaum terpelajar di Indonesia. Diawali dari krisis moneter di Asia Tenggara juli 1997 berimbas juga pada Indonesia. Dimana nilai tukar rupiah turun dari Rp. 2.575,00 hingga mencapai Rp. 16.000,00 (dahsyat). Tak hanya krisis di bidang ekonomi, Korupsi, kolusi dan nepotisme juga marak. Serta Krisis politik, hukum hingga kepercayaan hingga berujung pada turunnya presiden Soeharto. Semoga kita generasi yang besar pasca reformasi dapat banyak belajar dari sejarah bangsa ini.
Lalu, nyaris tepat lima tahun saya diterima di sebagai mahasiswa baru di program studi pendidikan matematika. Sejak saat itulah menjadi titik balik saya menjadi sosok Aan yang baru. Membiasakan diri dengan pakaian kemeja dan celana polos, rambut selalu tegak tersisir rapih, dan selalu bangun pagi dan mengerjakan segalanya mulai sendiri. Di program studi ini banyak sekali aktivitas yang saya dan teman-teman ikuti, tak hanya kegiatannya yang asyik dan bermanfaat untuk sesama tetapi juga untuk masyarakat sekitar.
Sebagai mahasiswa kawakan di program studi, kegalauan akan skripsi semakin menjadi-jadi. Memikirkannya, membuatku seperti kata orang tidur tak nyenyak makanpun tak enak. Tapi ini tak membuat saya berkecil hati. Toh, kegalauan saya ini dijawab dengan beragam aktivitas saya sebagai anak muda. Saya membaca buku, sesekali menulis essay, melipir ke bioskop, berbagi motivasi di masyarakat pesisir, teriak aksi dijalanan, atau sekedar menumpahkan kemarahan diatas gunung. Segala hal saya lakukan untuk mengembangkan diri saya.Tapi saya tak mau larut terlalu lama dalam keasyikan ini, karena skripsi harus segera usai.
Tak mau kalah dengan kaum buruh yang memperjuangkan nasibnya. Tak mau kalah gigih seperti saat mempertahankan Irian barat dari Indonesia. Tak mau kalah dengan semangat berbagi dan mendidik generasi dari ki hajar dewantara. Tak mau kalah tangguh dari pemuda era tahun 1908 lalu. Serta tak mau kalah lantang berjuang dari mahasiswa yang berani turun kejalan memperjuangkan kebenaran. Dan tak mau kalah dengan rasa malas yang selalu silih berganti. Masih ada cita-cita dan harapan yang kuat dan tertanam dalam di pikiran.
Lepas dari itu semua, skripsi yang sudah lama tertinggal akan saya selesaikan. Serta status yang lama single akan segera saya tanggalkan. Pada akhirnya, Maafkan saya yang dulu yaaa…?