Skoliosis di umur 13 dan 25
“Here’s to the crazy ones, the misfits, the rebels, the troublemakers, the round pegs in the square holes… The ones who see things differently — they’re not fond of rules… You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them, but the only thing you can’t do is ignore them because they change things… They push the human race forward, and while some may see them as the crazy ones, we see genius, because the ones who are crazy enough to think that they can change the world, are the ones who do.” - Steve Jobs
Waktu denger vonis tentang kelainan tulang belakang di umur 13 tahun, anak kecil lugu itu masih belum tau apa-apa, yang dia tahu hanya sebatas ilustrasi di buku pelajaran IPA tentang anak yang tulang belakangnya bengkok ke kiri dan ke kanan, pokoknya aneh deh. Lalu dokter merekomendasikan surat untuk foto rontgen ke mamanya. Sepulang dari rumah sakit, langsung ke laboratorium radiologi untuk foto dan menunggu beberapa hari sampai hasilnya jadi baru minggu depan kembali ke rumah sakit menemui dokter itu lagi. Anak kecil itu mengutuk dirinya, kenapa dia cerita ke mama kalau gejala-gejala yang ada di koran hari itu mirip dengan yang dia rasakan.
Setelah melihat hasil rontgen dan melakukan pengukuran ulang, dokter menyatakan sudut atas tulang belakang sudah bengkok 65 derajat dan sudut bawahnya bengkok 51 derajat. Kata dokter itu artinya operasi. (baru 1 tahun kemudian anak itu tahu kalau sudah 40 derajat lebih memang sudah harus dioperasi karena di umur itu pertumbuhan tubuhnya sedang progresif).
Waktu di umur itu internet belum secanggih sekarang yang semuanya bisa diakses langusng dalam genggaman atau ada jaringan wifi di rumah yang tidak perlu dipikirkan tagihannya oleh si anak kecil. Dia hanya bingung, kenapa itu harus terjadi dengan dirinya padahal banyak teman-temannya yang lebih nakal tapi tidak dihukum Tuhan seberat itu. Dia juga harus kehilangan seluruh kemampuan olah raganya. Lari, bulu tangkis dan posisi pemain inti tim basket sekolah.
Operasi itu dilakukan dengan hasil mengurangi sudut atas menjadi 18 derajat dan sudut bawah menjadi 21 dengan kondisi kaki kanan jadi lebih panjang dan kaki kiri lebih pendek yang sampai anak kecil itu dewasa selalu membuat sepatu kirinya hancur lebih dulu karena beban yang berat sebelah.
Kondisi pasca operasi sempat menghancurkan mentalnya, juga mimpi-mimpinya. Berdiam di kamar, jalan kaki sendirian ke tempat tak dikenalnya di kota dan membaca menjadi pelariannya.
Kesendirian sering menjadi temannya. Dia diterima di SMP yang tidak ada satupun teman SDnya. Mulai mengenal bis kota di usia sekecil itu, sambil mendengar orang-orang yang berkomentar tentang ketegaan orang tuanya. Kemudian saat SMA terlempar lagi dari teman-teman yang berhasil dikumpulkannya sebelum itu. Selalu dalam berada lingkaran kecil hidupnya. Waktu SMA, masa-masa anak perempuan melakukannya bersama-sama. Anak itu biasa saja ke toilet sendirian, biasa saja pergi makan ke kantin sendirian, bahkan biasa saja pergi ke mall sendirian.
Kembali sendirian di bangku kuliah tapi semua jadi sebuah titik balik. Di umur 20nya dia merasa ditemukan, dihargai dan dihormati. Sesuatu yang ternyata hilang selama bertahun-tahun. Untungnya belum terlambat untuk disadari untuk menjadi berarti.
Lalu dalam sebuah kehilangan yang besar dan mendalam dia memutuskan berubah untuk menerima dan memperbaiki bahwa dia memang tidak sama. Keinginan itu dibarengi dengan kapasitas tubuh yang ternyata berangsur-angsur membaik. Bisa diajak bersepeda jauh secara bertahap hingga 40 km jauhnya. Bisa mengangkat beban. Bisa berlari. Bisa melompat. Sesederhana itu, bahkan melompat saja perlu disyukuri. 10 tahun lalu, tak pernah membayangkan akan bisa lagi melakukakn hal-hal itu. 12 tahun lalu, tak pernah membayangkan sekarang bisa terhubung dengan perempuan-perempuan yang juga skoliosis dan dioperasi atau hanya penanganan medis. Perempua itu sudah mengalami kehamilan dan kembali berolah raga lagi setelahnya. Menemukan orang-orang se-frekuensi energi dan pengalamannya melalui sosial media.
Ketika dirunut lagi, kisah hidup di masa lalu bisa menjadi pelajaran berharga. Karena hal-hal yang dilakukan di masa lalu itu yang membentuk diri untuk jadi yang sekarang. Benar adanya, luka itu bisa sembuh seiring waktu dan itu yang akan menguatkan di masa depan, sebagai pembelajaran. Atau mungkin dapat dipetik hikmahnya oleh orang lain tanpa perlu ikut meraasakan sakitnya.
You can’t connect the dots looking forward, you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future - Steve Jobs









