Wednesday 4th November on the way from Jakarta to Bandung @the Train
Liburan yang mendadak, nekat dan tidak berpikir panjang. This journey will be a beginning of another long journey. And now I realized that I love travelling. It’s really fun when you walk alone, seeing some phenomenon, doesn’t know anything, then ask a stranger for the direction. Feel confused, worry, and fascinated in one time. It’s really exciting.
I can call this the nonsense journey but I had so much fun, experience, and thoughts through this journey seriously. I love when I found the difference of life in this world. Melihat banyak sisi yang tersembunyi di dunia ini. Meresapi dan merencanakan seperti apa nanti aku kedepan. Travelling sungguh membawa banyak dampak positif yang bisa memberikan semangat hidup dan tujuan hidup.
Jakarta, ibu kota yang jaraknya hanya 140an km dr rumahku. Jarak yang dekat, kota yang tidak asing lagi bagiku. Entah sudah berapa ratus kali aku mengunjungi kota itu. Aku kesana untuk bermain dengan teman sma ku. Aku tidak pergi bermain mengunjungi banyak tempat, aku hanya bermain k mall dan lebih banyak diam di kamar temanku menghabiskan waktu dengan ngobrol dan fangirling. Sebetulnya aku bukan tipikal orang yang menyukai jalan-jalan. Aku suka ‘jalan-jalan’ yang mengamati kehidupan banyak orang yang berbeda atau bias disebut fenomena social.
Bersyukurlah aku memiliki dua orang tua dari latar belakang dan keadaan yang berbeda. Satu orang tuaku memiliki keluarga yang serba ada dan berpendidikan tinggi sedangkan orangtuaku yang lain memiliki keluarga dengan ekonomi yang cukup sulit. Aku tidak mempermasalahkan keaadaan itu dan tidak memilih satu dari mereka, aku suka di semua tempat.
Apa yang paling aku resapi dalam kunjunganku kali ini adalah ‘perjalanannya’, bukan saat aku bermain. Aku berangkat ke Jakarta memakai travel. Aku tiba dijakarta sekitar pukul setengah 9 malam. Itu baru waktu sampai di Jakarta. Sedangkan aku harus naik kendaraan lagi untuk mencapai rumah kos temanku yang terletak di grogol. Padahal travel hanya membawaku sampai tebet. awalnya bimbang apakah aku harus naik gojek, busway, atau justru bermalam di rumah saudara yang lebih dekat. Walaupun sebenarnya aku agak takut karena biasanya aku dijemput, tapi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan busway. Ternyata pada jam itu busway justru penuh dan aku pun berdiri tak mendapatkan tempat duduk. Ternyata kota ini memang sangat sibuk. Berbeda dengan kota bandung yang bahkan pada malam hari bus sudah tidak beroprasi.
Dalam bus terlihat bermacam-macam manusia dengan peluh di dahi dan wajah yang sudah berminyak entah ia baru selesai bekerja, sekolah, ataupun mengunjungi suatu tempat mungkin yang pasti mereka terlihat kelelahan. Walaupun pegal tapi aku senang tiap aku melihat fenomena kehidupan sosial. Aku sampai di tujuan sekitar jam 10 malam dengan selamat dan ternyata orang masih banyak pada jam itu.
Aku sempat tidak percaya akhirnya aku pergi ke Jakarta sendiri tanpa dijemput. Sepele tapi entahlah aku merasa sedikit puas.
Setelah 5 malam aku menginap di tempat temanku, aku pulang. Aku tidak langsung pulang ke bandung. Aku mampir ke rumah tante yang terletak di daerah tambak. Cukup jauh dari grogol. Aku kesana naik busway. Transportasi yang praktis dan aman menurutku. I love the moment when I walk on the ‘halte’ bridge for transit. Melihat gedung2 yang menjulang tinggi dengan kesibukan didalamnya. Berjalan diantara orang-orang yang berjalan dengan langkah kaki yang cepat. Aku berpikir ‘ahh, kemana nasib ini akan membawaku nanti. Akan jadi orang seperti apakah nanti’. Panas, pegal, dan bajuku basah karena panasnya kota yang sibuk ini. Inilah kehidupan ibukota. Mendengarkan percakapan orang2 tentang sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, kesibukan pekerjaan, and I said to myself, ‘oh god, its reality, I’ll be there soon, and i think it’s so scary.’
Aku pikir aku masih di dunia khayalan, masih seperti anak-anak. Hey, I’ll be 22 soon. I have to think about my future. Aku harus berpikir bagaimana aku harus mendapatkan pekerjaan dari sekarang bukan nanti. Paing tidak aku punya persiapan matang untuk kehidupanku di masa mendatang.
Skip talkin bout that. Next, aku sampai di rumah tante dari orangtuaku yang memiliki latar belakang keluarga yang tidak memilki pendidikan tinggi dengan keadaan ekonomi sulit.
Rumah lama yang terletak di dalam gang di sisi kota Jakarta. Tidak, itu di tengah kota Jakarta namun, di sebua area pemukiman kumuh, di Jakarta selalu ada kawasan kumuh dan kawasan terpadu bersisian. Perbedaan kehidupan yang sangat mencolok sangat terlihat mencolok disini, semuanya tumpang tindih. Pemerintah Negara ini seperti tidak memiliki standar kehidupan yang baik bagi warganya.
Aku bermalam disana. Lalu aku pulang siang hari. Aku berangkat menuju stasiun gambir menggunakan motor yang diantar oleh sepupuku yang sedang mengangur (ini membuatku banyak berpikir juga) melewati jalan tikus, yaitu gang di pemukiman kumuh dan aku memeperhatikan setiap penduduk yang ada disana. Membuat beberapa pertanyaan, dan menarik kesimpulan sendiri dalam diam.
Ini sangatlah berbeda,dengan kehidupanku di Jakarta pada biasanya. Dilain waktu sebelumnya aku lebih sering tinggal di rumah sepupuku yang berada dan berpendidikan tinggi. Memang semuanya serba praktis, serba ada, mau pergi kemanapun tinggal minta diantar supir, makan enak, pergi jalan-jalan tiap weekend ke tempat-tempat kelas atas. Di perkenalkan kota Jakarta dari sisi kelas atas. Tapi entahlah, mungkin aku terlalu sering berada disana, so it’s become a little bit boaring. Tetap saja sih main kesana menunjang pendidikanku. Semua ada kurang lebihnya. Perjalanan kali ini memberikanku pelajaran keidupan. Tidak, setiap perjalanan selalu memberikan pelajaran hidup yang berbeda dengan cara yang juga berbeda.
Dan yang aku sadari adalah, aku tidak akan menghasilkan apa-apa jika aku hanya tinggal di rumah. Hanya berada di zona aman. Melakukan kegiatan yang monoton dengan orang itu-itu saja. Aku harus mulai keluar dan merencanakan perjalanan lainnya. Entahlah aku tidak suka bergatung pada orang lain walaupun terkadang I wanna get help from others I swear. But,
I think I was born to be an independent woman. No matter what. Karena setiap kali aku kelelahan dan ingin sekali ada orang disampingku untuk membantu, there’s no one beside me, it’s like a curse, tapi aku pikir tuhan ingin menyadarkanku bahwa aku mampu untuk berjalan lebih jauh. Aku mampu menjadi orang yang hebat. Potensiku masih belum aku bangunkan. Aku masih malas dan belum menyadari itu semua. Maka dari itu aku tidak akan putus asa dan berhenti. Tidak akan mengeluh dan iri pada orang lain.
God bless me. And I will struggle for every things that given for me. Aku percaya pada apa yang telah aku ambil. Aku yakin kaki ini membawaku pada jalan yang benar. Aku yakin tuhan telah menyiapkan kejutan diujung jalan sana untukku. And I don’t care what other people think about me. I’m just following myself to be success with my own way. Cause everyone has a different way to success. So just follow the flow of this process. Ahh~ semangat semuanya, think positive and keep faith!!