In Memoriam 113 Tahun Samik Ibrahim
Peluncuran dan Bedah Buku In Memoriam 113 Tahun Samik Ibrahim
RM.id Rakyat Merdeka - Memperingati 113 Tahun Samik Ibrahim, Sabtu (21/8/2021), Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) Press mengusung acara launching dan bedah buku Biografi Samik Ibrahim yang ditulis mantan reporter Rakyat Merdeka, Fikrul Hanif Sufyan.
Acara yang dilaksanakan secara luring terbatas dan daring tersebut dihadiri oleh seratusan peserta. Peserta tidak saja berasal dari beragam unsur, mulai dari Pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat, namun juga berasal dari Dewan Harian Daerah (DHD) Sumatera Barat, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB Sumatera Barat) Padang, Bandung, juga dari Majelis Pustaka Informasi (MPI) PP Muhammadiyah.
Baca Juga : Jatim Sukses Ciptakan 697 Desa Mandiri, Tertinggi Se-Indonesia
“Samik Ibrahim tidak saja perintis Muhammadiyah, tapi juga seorang saudagar dan pejuang,” kata Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah.
Hal ini dia sampaikan dalam sesi peluncuran dan bedah buku. Mahyeldi berharap, nantinya muncul tokoh-tokoh Muhammadiyah lokal yang inspiratif, dan menjadi acuan untuk generasi muda.
Baca Juga : Matangkan Persiapan, Fadli Fokus Jaga Konsistensi Kecepatan
Samik Ibrahim yang lahir pada 8 Agustus 1908 merupakan putra kelahiran dari Nyiur Gading, Koto Baru Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan. Fikrul Hanif dalam bukunya menyebut, Samik Ibrahim adalah sosok yang unik, namun menampilkan banyak warna. Selanjutnya
Peluncuran dan Bedah Buku In Memoriam 113 Tahun Samik Ibrahim - Hal.2
Sebelumnya Beberapa tokoh yang hadir memberikan testimoni untuk Samik Ibrahim, antara lain Dr Shofwan Karim (Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Barat), dan Basril Djabbar –tokoh pers nasional pemilik Harian Singgalang di Kota Padang.
“Saya berharap apa yang ditulis Fikrul Hanif, menjadi sumber literasi dan akan tumbuh banyak lagi tulisan tentang tokoh Muhammmadiyah,” papar Basril via aplikasi Zoom.
Baca Juga : Jatim Sukses Ciptakan 697 Desa Mandiri, Tertinggi Se-Indonesia
Semasa hidupnya, Samik –demikian ia akrab disapa adalah seorang guru (Volkschool Kambang, HIS Muhammadiyah, dan Normaal School Muhammadiyah Padang), juga saudagar di NV KOPAN dan Persatuan Bandar Sepuluh (PERBAS). Aktivitasnya yang bergelut di dunia bisnis ekspor-impor juga mendorong sosok yang terkenal vokal ini aktif dalam Persatuan Saudagar Indonesia (PERSDI).
Ia juga merupakan perintis Tentara Keamanan Rakyat Angkatan Laut (TKR-AL) pada akhir September 1945. Sejak resmi berdiri, ratusan pemuda dari Pesisir Selatan mendaftarkan diri sebagai tentara. Samik masa itu, tambah Fikrul Hanif, memberikan bantuan ransum untuk calon tentara yang menjalani latihan militer di Kota Padang.
Baca Juga : Matangkan Persiapan, Fadli Fokus Jaga Konsistensi Kecepatan
“Di masa Revolusi Kemerdekaan, Samik kembali berbuat untuk bangsa dan negara. Pada masa perang kemerdekaan, ia menjadi kreditur terbesar untuk Divisi IX Banteng,” sebut Fikrul Hanif dalam pengantarnya selaku penulis.
Bentuk bantuan, menurut pembedah buku Dr Nopriyasman, MHum, adalah berupa logistik, motor, dan uang kontain, kepada tentara Divisi IX Banteng, mulai 2 Februari 1946 hingga 22 Oktober 1947. Nilai totalnya mencapai Rp 4.075.080,50.
Baca Juga : Rian D'Masiv Tulis Lagu Untuk Weda
“Namun, yang dikembalikan hanya Rp 5 ribu. Tentu saja, nilai pinjaman ini besar. Dan tindakan Samik tentu saja sangat berani, mengingat kondisi KOPAN tentunya belum pulih,” sambung Nopriyasman –yang juga Kaprodi S2 Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang dalam pemaparannya. Selanjutnya
Peluncuran dan Bedah Buku In Memoriam 113 Tahun Samik Ibrahim - Hal.3
Sebelumnya Ketulusan Samik dalam mengikhlaskan pinjamannya itu, belum sebanding dengan hibah yang pernah ia sumbangkan untuk persyarikatan Muhammadiyah. “Tentunya nilainya besar. Ya, mungkin pihak keluarga dan penulis tidak mau menuliskan berapa besar sumbangan yang ia berikan pada Muhammadiyah karena keikhlasannya. Namun sebaiknya, juga kalau ada besarannya disebutkan saja,” jelas Dr Mursal, MAg –Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Keluarga Samik Ibrahim, yang diwakili oleh Siti Hajir, tidak menuntut banyak dalam acara peluncuran, dan bedah buku ayahnya tersebut. “Buku ini memang membawa misi, untuk merekat hubungan kami dengan pihak keluarga ibu dan ayah, namun juga untuk merekat hubungan dengan Muhammadiyah,” paparnya.
Baca Juga : Jatim Sukses Ciptakan 697 Desa Mandiri, Tertinggi Se-Indonesia
Peluncuran dan bedah buku yang diselenggarakan UMSB Press, turut mendapat perhatian Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Widiyastuti. Penulisan tokoh-tokoh lokal, menurutnya harus digalakkan. Tujuannya, untuk memperkaya khazanah ketokohan Muhammadiyah juga mengambil nilai-nilai yang melandasi pemikiran dan perbuatan tokoh tersebut, sehingga menjadi catatan yang bisa dibaca generasi yang akan datang.
“Tulisan saudara Fikrul Hanif
Baca Juga : Matangkan Persiapan, Fadli Fokus Jaga Konsistensi Kecepatan
ini, bukan hanya menjadi bukti kuatnya Muhammadiyah di Sumatera Barat, juga menjadi pembuktian peran sentral tokoh lokal dalam mengembangkan Muhammadiyah,” lanjutnya. Samik Ibrahim wafat pada 1978 dan dimakamkan di Ma’la, Mekah Arab Saudi. Sumbangsihnya yang besar terhadap Muhammadiyah Sumatera Barat sejak 1926 sampai akhir hayatnya, membuktikan cintanya pada persyarikatan. Mewakili pihak keluarga, Fikrul Hanif dalam pemaparan akhirnya, menyampaikan permohonan pada Pemprov Sumatera Barat, untuk menjadikan salah satu ruas jalan dengan nama Samik Ibrahim. [RSM]


















