Aku tertegun menatap langit, membiarkan segala imajinasiku bermain di pikiran. Aku melebur jauh ke dalam imajinasiku hingga aku tak menyadari seseorang telah duduk di sampingku. Aku kembali kepada kenyataan. Ah pria ini dia menghancurkan kebahagianku. Ya meskipun semu, itu tetap kebahagian . “Langit akan terus di atas sana, dan kamu pun akan terus di sini. Untuk apa memandanginya terus, jika menggapainya adalah hal yang mustahil?” Astaga pria ini kenapa? Dia menceramahiku seakan kami adalah teman.
“Maaf, apakah kita saling mengenal?” Aku mencoba mengingat.
“Tidak, ini adalah pertemuan pertama kita.”
“Ah ya. Lalu mengapa kau mengatakan hal aneh secara tiba-tiba kepada ku dan sejak kapan kau ada di sini?”
“Hal aneh? Hal aneh yang terjadi disini adalah kamu memandang langit seakan kamu akan sampai kesana dan aku sudah melewatkan dua bis di sini. Berarti aku telah di sini lebih kurang 20 menit.” Astaga, tatapannya begitu sendu. Tadi aku sedang berimajinasi tentang seorang pangeran, kini dia hadir di hadapanku.
“Rangga”
Aku masih menatapnya tanpa menyadari bahwa dia sedang mengulurkan tangannya.
“Halo, apakah kamu baik-baik saja? Tadi kamu memandang langit seakan kamu akan ke sana dan kini kamu memandangku seakan aku cake coklat yang sungguh lezat.”
Astaga, wake up Nindy!!!
“A a a aku Nindy.” Mukaku memerah. Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh di depan pria setampan dia.
“Apakah kau akan terus di sini? Aku tak akan pernah sampai kerumah”
“Apa yang kamu maksud?”
“Dari tadi kau terus saja melamun hingga kamu tidak tahu apa yang telah terjadi di sini. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu”
“Maaf, aku tak bermaksud. Seharusnya kau tidak perlu menugguku, tapi terima kasih”
Lalu dia tersenyum.
“Baik, karena kini kita sudah saling mengenal berarti sekarang kita adalah teman. Karena terus duduk di sini menunggumu, tersadar cacing-cacing diperut menjadi anarkis. Bisakah kau menemani ku makan?”
Ada apa dengan pria ini? Tadi dia menceramahiku, kini dia memintaku untuk menemaninya makan.
“Hai, kenapa kau terus melamun Nindy?”
Tanpa persetujuan dariku dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah cafe.
“Mbak cake coklat dua, air mineral dua, lemontea dua.”
Setelah menulis pesanannya, pelayan itu langsung pergi.
“Aku sudah pesan makanan untuk kita. Semoga saja kau suka. Kau terus saja melamun, aku lelah harus menyadarkanmu”
“Aku bukannya melamun tapi aku masih merasa ini sangat aneh. Kita baru saling mengenal tapi sekarang aku ada disebuh cafe berdua denganmu.”
Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa ini adalah kesalahanku, karena menungguku dia menjadi telat pulang dan cacingnya sedang berdemo. Beberapa saat kemudian pesanannya datang. Yah pilihan yang baik, meskipun baru mengenalku pria ini seakan tau seleraku. Dia mengatakan alasan dia memesan cake coklat adalah aku. Karena tadi aku melihatnya seakan aku akan memakannya. Dia pria yang begitu humoris. Rahangku hingga sakit, karena tak berhenti tertawa. Waktu terlewat begitu saja, hingga kami tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kami bergegas pulang. “Aku akan naik taxi, terima kasih untuk hari ini”
Mama terus saja memberiku pertanyaan beruntun. Ini selalu terjadi jika aku terlambat pulang. Aku masuk ke kamar, membersihkan badan, lalu duduk di tepi tempat tidurku. Ah ini hari yang begitu aneh, aku bertemu dengan dia untuk pertama kalinya, tapi seakan aku mengenalnya bertahun-tahun.
“Ah ini gila!”
Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur, ku raih ponselku.
“Aku begitu merindukannya tapi kini aku merasa dia semakin jauh”
Ku pandangi wallpaper ponselku. Itu adalah foto Mike, kekasihku. Mikeku yang begitu hangat kini menjadi begitu dingin. Dahulu aku selalu melakukan segala hal dengannya namun kini setelah dia lulus kuliah, sulit untuk menghabiskan waktu dengannya.
Hari berlalu begitu saja. Hari ini adalah dua bulan setelah perkenalan itu. Aku tak pernah lagi bertemu dengan Rangga. Aku sering tersenyum saat mengingat perkenalan konyol kami. Tapi aku lebih sering melamun memikirkan Mike. Kini Mike semakin jauh, terakhir kali aku mendapat kabarnya adalah satu bulan yang lalu.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Rangga saat di cafe: Kenapa kamu memandang langit yang tak bisa kau jangkau? Lalu membiarkan kemungkinan buruk terjadi padamu dengan terus saja melamun. Sedangkan di sini ada bumi yang sungguh dekat denganmu, tapi tidak kamu hiraukan. Jangan menjadi bodoh karena memimpikan hal yang begitu mustahil akan terjadi. Biarkan langit di atas sana, berhenti mencoba meraihnya. Berdirilah di atas bumi. Bersiaplah untuk mengenalnya lebih jauh dan nikmati setiap kejutannya.
Rangga benar, Mike itu langit! Dia terlalu jauh untuk ku gapai. Aku meraih ponselku lalu ku telepon Mike.
“Ada hal penting yang ingin aku katakan Mike, bisakah kita bertemu sore ini? Ini sangat mendesak.”
Mike mengiyakan permintaanku, kami berjanji bertemu di tempat pertama kali bertemu entah Mike ingat atau tidak.
Aku dan Mike bertemu, sedikit bernostalgia tentang masa lalu, berbincang ringan. Lalu aku menyampaikan maksudku,
“Di sini awal dari kita dan hari ini di sini juga kita kembali menjadi aku dan kamu. Terima kasih untuk tiga tahun belakangan ini”
Sore itu terasa sangat berat namun melegakan. Mike meminta maaf karena tak bisa mempertahankan hubungan ini.
Aku masih menikmati kesendirianku. Sore ini aku bermaksud untuk sekedar berkeliling menikmati sore bersama sahabatku, Nuna. Nuna mengajakku kesebuah cafe. Kami sangat menikmati sore itu.
“Pesanannya Mbak.”
Segelas lemontea dan sepotong cake coklat melengkapi soreku. Aku selalu mengingat Rangga setiap kali ke sini. Memesan makanan yang dipesannya dulu. Perkenalan yang begitu konyol tapi mampu menyelamatkan hidupku.
“Aku rasa itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kami Na.”
“Rangga? Iya ya. Mengapa dia hilang begitu saja? Aku penasaran bagaimana dirinya yang mampu menyadarkan sahabat kesayanganku ini.”
“Entahlah, aku rasa dia malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyadarkanku”
Kami tertawa kembali.
“Ini adalah pertemuan kedua kita. Hai!”
Sesosok pria berdiri di sampingku dan mengulurkan tangannya.
“Kenapa kamu selalu melihatku dengan tatapan seperti itu, padahal sekarang cake coklat ada di mejamu”
“Ranggaaa!”
“Ya ini aku, aku masih sangat tampan kan?”
Dia menggodaku dengan mendekatkan wajahnya kepadaku. Sore itu setelah sekian lama akhirnya kita bertemu kembali. Tak banyak yang berubah darinya. Sore itu dia meminta nomor ponselku dan alamatku tapi dia tak memberikan alamatnya kepadaku.
“Aku takkan menghilang lagi, aku telah menyiapkan hadiah untukmu”
Lalu dia memberikan aku sebuah kunci. Itu seperti kunci sebuah gembok. Nuna akhirnya bertemu dengannya dan memberikannya julukan Malaikat. Sore itu begitu indah, sangat indah.
Seminggu berlalu semenjak pertemuan itu dan Rangga menghilang lagi.
“Nindy ini ada kiriman untukmu dari Rangga”
Mama membawa sebuah kotak. Awalnya dia menyuruhku cepat membukanya tapi tiba-tiba saja dia menghentikanku dan mengatakan bagaimana jika itu bom. Aku tertawa, Mama selalu saja seperti itu. Aku menenangkannya dan menyuruhnya untuk meninggalkanku.
“Bismillah”
Aku mulai membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah peti. Aku teringat kunci yang diberikan Rangga. Aku mengambilnya dan membukanya. Aku mendapati sebuah buku, sebuah cd dan sepucuk surat. Tiba-tiba ponselku berdering.
“Kau sudah mendapatkan hadiahmu?”
“Rangga? Ya aku sedang memegangnya”
“Baca suratnya terlebih dahulu, nikmati hadiahmu. Aku sudah mempersiapkannya sejak lama”
Rangga menutup teleponnya lalu aku mulai membaca suratnya.
Hai Nindy Eka Syahputri!
Wanita cantik dengan senyuman indah. Jika kamu berpikir selama ini aku menghilang kau salah. Aku selalu ada disekitarmu, aku hanya memperhatikanmu dari jauh. Jika kau tak percaya padaku, maka buku itu adalah saksinya.
Aku mengambil bukunya. Disampulnya bertuliskan: I See You. Buku itu berisikan semua fotoku dimulai dari fotoku di halte dulu, hingga cafe dan makanan yang dipesannya dulu dan semua hal yang aku lakukan.
Kamu percaya? Aku lega karena kini kau telah meninggalkan langitmu. Sekarang bisakah kamu memutar cd yang aku berikan?
Aku meraih cdnya dan memutarnya. Rekaman suaranya.
Dengarkan ini baik-baik. Aku pernah mengatakan bahwa langit terlalu jauh untuk kau raih bukan? Dan memintamu untuk bersama bumi? Aku tak ingin menemuimu karna aku tak ingin aku akan menjadi alasan kau meninggalkan langitmu. Aku lega karna kini kau telah meniggalkannya. Kini aku meminta izinmu untuk menjadi bumi.
Pipiku tiba-tiba menjadi basah, air mataku turun bagaikan hujan. Jantungku berdegub seolah ingin meledak. Mama benar ini adalah bom. Aku membaca kembali suratnya.
Suaraku baguskan? Haha. Sekarang ambil selembar kertas yang aku tempelkan dibawah peti, setelah membacanya kamu harus cepat melakukan perintah yang tertulis.
Aku mengambil kertas itu.
Beritahu jawabanmu melalu sms. Jika jawabanmu ya, maka kirimkan aku tanggal hari ini dan jika tidak kirimkah aku tanggal pertama kali kita bertemu, 12082010. Ini adalah pertanyakanku, jangan meminta waktu untuk memberikan jawabannya, karna aku telah menunggu begitu lama.
Nindy Eka Syahputri, maukah kau menjadi pelengkap hidupku dan menantu dari ibuku?
Tangisku pecah, haru dan segala perasaan bahagia bercampur.
To : Rangga
26102011 iloveyou!
From : Rangga
Keluarlah aku ada diluar.
Aku berlari keluar. Tapi aku tak menemukan siapapun.
“Hai aku di luar kamarmu, bukan diluar rumahmu”
Tangisku kembali pecah, Rangga datang kearahku lalu memelukku.
“I love you too, thanks Nin. Telah mewujudkan mimpiku”
Tulisan dari: ullfijuniandria