RUANG RASA; Sebuah cara mengamati dan memeluk diri sendiri.
Dari dulu, sejak kita kecil-kecil dulu kita suka sekali berteman dengan pena dan buku. Mengurai kusutnya pikiran, merapikan riak-riak hati yang berserakan.
Ada banyak hal yang bisa kita goreskan, tanpa khawatir penilaian orang-orang. Karena tulisan itu tersimpan rapi di diarynya kita.
Nyaman sekali, saat bisa menjadi diri sendiri, seapaadanya.
Sampai semua berantakan saat teman sekamar dengan tak merasa bersalah membuka lembar kisah goresan tangan kita.
Ingat rasanya?
Kesal!
Ruang privasi kita dicongkel maling!
Alih-alih kita omeli dan menimpuki si maling, kita malah ambil sebuah keputusan besar nan fatal: membakar semua cerita hidup dengan detail alurnya.
Kita menyesal, kan?
Tak pernah mengizinkan versi tak sempurnanya kita diketahui orang-orang? Padahal kita manusia biasa, dan semua manusia punya salah alpanya. Tak masalah selagi kita terus berbenah, jadi versi lebih baik.
Ceritakan jatuhmu demi jutaan orang tahu, cara terbaik bangkit dari jatuh itu.
Ceritahkan patahmu demi jutaan orang tahu, cara terbaik tumbuh di tengah patah itu.
Ceritakan apapun, selagi kamu menemukan hikmah di tiap gulir peristiwa dengan rasanya yang menyerta.
Dengannya, kamu tak hanya sedang memeluk sendirimu. Tapi moga juga memeluk banyak manusia dalam kesendiriannya~
Ayo nulis lagi, lebih panjang lagi.
Tanpa perlu khawatir mereka memandang apa tentang diri
yang memang tak sempurna ini 🥰
____________
Bismillah, soft launching Tumblr ya, Manteman. Setelah sebelumnya punya blog tapi malah mentok di tata letak. Aku ndak pen bikin jurnal estetik, cuma pen menulis aja yang panjaaang. Moga ini keputusan tepat ya. Di IG terbatas soalnya dan harus mikirin pasang gambar apa ya? 🤣🤣🤣
Officially tayang linknya di profil IG kalau udah berhasil melewati tantangan #30harimenulis, in sya Allah 😁











