▪︎ BALADA MASAK MEMASAK ▪︎
Delapan tahun pernikahan nyatanya tak membuat diri yang resmi bersuamikan rang Minang ini, ekspert memasak 😁
Bukan, bukan tak bisa sama sekali. Sebab memasak untuk suami dan anak-anak pastinya selalu dilakukan, meski belakangan banyak syekali godaan kemudahan yamg ditawarkan teknologi. Ada banyak sekali pilihan jajan dan order online cukup dengan ketak ketik gadget, menu favorit kita bisa sampai tanpa perlu repot belanja bahan, foodprep, masak, hingga mencuci peralatan memasaknya. Rasapun nyaris bisa dijamin enak kalau beli di luar. Dan ini tantangan tersendiri buat diri.
Tapi, ya nda mungkin beli tiap hari toh? Adalah pastinya masak sendiri tipis-tipis buat keluarga. Mesti ya jadinya sekedarnya, sekedar sup, gulai, tumis, goreng balado, itu-itu saja. Walau -kalau katanya Uda- masakanku yang itu-itu saja makin hari makin tergaransi enaknya -mungkin karena jam terbangnya sudah banyak juga- tapi tetap saja untuk recook dalam porsi besar buat tamu atau sekedar memasakkan tuk keluarga besar, buat diri ketar-ketir. Duh bisa nda ya?
Ada banyak pengalaman masa lalu dan kekhawatiran masa depan yang menghambat progress keahlian diri memasak.
Jujurly, diri seringkali terjebak pada dua ini. Dua hal yang praktis membuat diri enggan mencoba masak sendiri untuk orang lain di luar keluarga inti (suami & anak-anak)
Masih jelas diingatan saat aku kecil teramat antusias membantu Ummi memasak di dapur. Benar-benar seexcited itu untuk memasak, tapi kemudian tersentak sendiri dengan alert Ummi untuk tidak usah saja. Alasan beliau klise tapi cukup dimaklumi, khawatirnya si aku ini hanya bikin dapur berantakan nda karuan. Ummi selalu punya alasan meletakkan sesuatu di satu tempat, dan tidak meletakkannya di tempat lain. Selalu punya cara beliau sendiri menata printilan dapur, yang pastinya kalau dapur direcokin, tata letak semua barang ini akan amburadul. Di sudut pandang itu, diri bisa maklum... walau ya jadinya persis tak pernah dapat kepercayaan ataupun pendampingan masak dari Ummi, sebelum menikah. Hikss..
Bahkan meski sudah merantau jauh ke Mesir dan bisa lebih bebas eksplorasi masak memasak, diri lagi-lagi dipertemukan dengan hal tak nyaman; kegagalan demi kegagalan.
Ingat sekali saat membulatkan diri memasak di jadwal piketnya kita, dan kita memilih menu ikan tuk diolah. Padahal cuma ngegoreng doang, tapi ambyar saat prosesi membalikkan si ikan. Hancur lebur ikan dengan duri halusnya itu (lupa jenis ikannya apa). Jangan tanya bentuknya gimana, ke anak-anak almamaterpun (waktu itu tinggal bareng dikadik Almet) diri semerasa bersalah itu.
Kubilang aja apa adanya, "tadi coba goreng ikan tapi hancur begini. Fatalnya ini durinya pada nyampur sama daging dan itu banyak. Kukhawatir malah kesedak, bagaimana kalau kupesanin menu lain yang ready aja dari warung?" itu keputusanku akhirnya. Membuang si goreng ikan yang gagal hancur tak berbentuk.
Fatalnya, maagh dan OVT malah jadi kumat bahkan berhari-hari sebelum masuk jadwal piket masak. Mau masak apa? gimana caranya? beli bahannya di mana? bakalan enak nda ya? apa teman-teman berkenan menyantapnya?
Persis, kejadian saat itu bikin perut mules diobok-obok. Maagh kambuh karena kepikiran. Dan alarm tubuh nda nyaman ini yang selalu bereaksi tiap kali bertemu jadwal piket masak, lagi dan lagi. Bikin diri hanya memasak yang simple aja, pasti, nda ribet dan cenderung takut tuk mencoba mengolah hal baru 😣
*masih jelas di memori saat teman-teman dan adik² Almet menatap enggan ikan goreng yang hancur itu. Duh, hancur lebur juga hati ini rasanya~
Meskipun diri tetap bertanggung jawab memesankan menu penggantinya, saat itu 😮💨
Tapi ya tetap aja, atas nama masak-memasak, diri jadi perlu sangat sangattt menyiapkan mental syekaliii saat harus banget memasak.
Karena itulah saat taaruf sebelum menikah, hal yang diri sampaikan jujur apa adanya adalah tak bisa memasak.
"Tapi memasak air dan telur aja bisa, kan?"
tanya Uda saat itu. Ya, ini mah bisalah ya.. meski kadang kelewat habis juga tuh ngedidihin air. Kelupaan or ketiduran 😆
Kamipun menikah dengan pemakluman beliau kalau diri nda bisa masak. Ditambah hamil, melahirkan yang kadang seeneg itu buat mencium aroma tumisan bawang or asap. Dan setelahnya, direpotkan dengan mengasuh anak hingga emang se tak memungkinkan itu untuk memasakkan dan berujung beli lagi-beli lagi.
Hal paling lucu, dalam sebuah part di pernikahan kita, kita pernah nekat menjamu guru saat di pondokan dahulu, Ust Irsyad yang saat itu sedang ada agenda ke Batam. Anehnya, senekat itu buat memilih ayam bumbu jadi bahan percobaan buat disuguhkan ke tamu. Walau ya, ayam bumbu klo masakinnya buat Uda tuh alhamdulillah selalu berhasil, ntah kenapa? kayanya karen amasaknya enjoy penuh cinta, tanpa perlu khawatir sebab pasti bakal selalu dengan senang hati disantap doi, apa adanya masakan ituuuu~
duh deg-degan dan keringat dingin banget. Apalagi tamu kali ini guru spesial kami. Grogi. Aselii.
Groginya sampai lupa ngegaraminnnnnnn si ayam bumbuuuuu saat masih diungkep, jadiii ayamnya hambaaaar ya Allah kumalu kali rasanya. Cukup sudahlah~
Segini dulu, tak berdaya kulanjutkan kisahku ini jadinya, kan.. wkwkwk.