#Mindfulnes: “..Second married is not simple”
Suatu pagi..
Gak bisanya aku segabut ini. Yang seharusnya bisa nyetrika, atau minimal bisa hidupkan mesin cuci sambil masak atau bikin bakulan, atau mungkin bisa tengok-tengok dan siram-siram tanaman sambil ajak Hannan main air di halaman rumah. Tapi kali ini apes.
Mati listrik, gaiisss...
Kalo udah gitu, apa yang mau dibuat? Semuanya serba pakai listrik. Hiks.. Ya udahlah ya, nonton Youtube jadi pilihan terakhir mengisi kegabutan. Sebelumnya aku tengok cuplikannya di reels yang dikirim ke DM, akhirnya punya opsi nonton channel itu aja di Youtube. Alhamdulillah, ketemu.
Ini tayangan ulang Kick Andy, sepertinya spesial di Hari Ayah Nasional tanggal 12 November lalu, judulnya ‘Single Dad Juga Bisa’. Menarik! Tanpa banyak mikirin kapan listrik ini bakalan hidup, aku tontonlah yekan..
Yang aku dapat dari acara itu, sisi kehidupan lain yang mungkin gak begitu familiar untuk kita dari kisah beberapa ayah tunggal. Seringnya kalo mendengar kata ‘single parent’, tentu yang kita tau adalah sosok ibu tunggal. Tapi yang bisa menjadi single parent tentu bukan hanya ibu saja, bahkan ayah-pun bisa. Ya seperti banyak kasus perceraian, selain mantan istri yang jadi single mom, mantan suami-pun bisa jadi single dad. Aku gak menyebut dengan istilah bahasa Indonesia ya, karena menurutku lebih elok pakai bahasa asing.
Di masyarakat kita kan cukup ramai tuh, kalo laki-laki sudah menjadi duda, kebanyakan dari mereka memilih untuk segera menikah lagi. Anggapannya kalo belum nikah, berarti belum move on. Hehe.. Padahal tolok-ukur move on atau enggak, bukan dari ‘menikah cepat atau tidak’, gaiss.. Move on atau tidak itu cuma pribdi orang yang bersangkutan yang tau. Tentu itu gak akan tambah secara kasat mata yakan. Jadi jangan terburu-buru mengatakan bahwa yang tidak menikah lagi atau belum menikah lagi itu gak move on.
Aku tertarik dengan salah satu pendapat dari narasumbernya, yaitu; Second married is not simple
Kenapa gak simple?
Karena memang tidak semudah itu. Apalagi kalo sudah punya anak. Yang harus dipikirkan bukan hanya soal aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Tapi, apakah dia bersedia menerima anak-anakmu, dan begitu pula sebaliknya? Apakah dia benar-benar bisa menerima masalalu kamu? Kan latar belakang menjadi single parent pasti berbeda-beda. Ada yang cerai ada pula yang meninggal pasangan. Orientasi menikahnya tentu tidak sama seperti saat masih lajang dan gadis. Konon menikah dengan yang gadis/lajang, yang sesama single parent pun tidak mudah. Maka, tolong... Masyarakat in our society ini lisannya dijaga baik-baik, ya.
Menikah lagi itu pilihan. Enggak/belum menikah juga pilihan. Gak perlu dikasih embel-embel ‘belum move on’, ‘cepet nikah biar gak jadi pelakor/pebinor’, yang lebih absurd lagi dipengalaman aku, ada yang nyuruh nikah supaya gak jadi fitnah buat suami orang. Eh, suami orang apa suami ENTE?? -__-; *asalmangapaja ~
Trus, kalo ada yang bisa menikah cepat, ya itu berarti memang dia sudah sesiap itu. Lagi-lagi, kita kan gak tau timing-nya Tuhan, yakan?
Nah, gitu juga yang belum/tidak menikah lagi. Belum menikah bisa jadi memang belum waktunya. Tidak menikah juga bisa jadi memang sudah menjadi pilihan terbaiknya, tentu dengan banyak pertimbangan yang sudah dipikirkan matang-matang.
Gitu, gaiisss..!
Yolanda ini kenapa belum menikah, bukan karena belum move on.. wah, kalo soal move on mah, ya, cukup menyadari bahwa yang bukan menjadi takdirmu, maka akan dengan sangat mudah Tuhan pisahkan. Yang akan menjadi takdirmu, pasti akan menemukanmu. Gak akan meleset itu kalo udah perihal campur-tangan Tuhan. Makanya aku malas buang-buang energi mikirin “siapa ya yang mau sama aku?” berlarut-larut. Capek, bestie. Gak bikin duitku nambah! Hahaha.. malah makin sakit kepala awak.
So, let it be. Biarkan semua mengalir semestinya. Perihal menikah, itu gak simple dan gak gampang. Untuk itu, serahkan saja sepenuhnya urusan ini ke Yang Maha Pengasih. Lepaskan semua harapan dan doa pada-Nya. Gak usah sibuk kali tengok kehidupan orang. Kita punya porsi bahagianya masing-masing. Fokus berdayakan diri. Berjodoh dengan orang yang tepat itu kan salah satu bentuk rezeki, ya. Kalo belum dikasih, berarti nyari rezeki yang dalam bentuk lain aja dulu.. Kayak misalnya, rezeki sehat jasmani dan rohani, rezeki waktu yang lapang, rezeki nafas dan nyawa, dan lain-lain. Itu ajalah dulu.. Mana tau dengan Maha Pemurah-nya Tuhan, dikasih lagi rezeki dalam bentuk lain. Tentunya kalo kelen orang yang bersyukur sih..
Sinkronkan dulu server kita sama Tuhan, baru bisa nyala sinyal-sinyal yang Dia kasih ke kita. Sip??
Selamat memberdayakan diri, ya!
Ingat, bahwa dalam menentukan keputusan, libatkan Tuhan, bukan manusia.














