Gadis 15 Februari
Layaknya seperti adolf hitler. Dia bisa berkamuflase menjadi apa dan siapa saja walaupun jahat aku menyukainya.
Si kepala batu menjadi celotehan wajibku kala kedua mulut saling adu isi kepala. Konon ia tetap menjadi prioritasku untuk tidak menaruh harap kepada makhluk lain. Sampai pada akhirnya diriku harus menerima keadaan dan kenyataan bahwa dia memilih orang asing dalam hidup barunya. Dan berhasil melukis indah lara dalam raga serta sukmaku. Yang menjadikanku runtuh.lumpuh.rapuh dan tak utuh.
Seketika aku teringat jika seorang tokoh pernah berucap. "Sesakit sakitnya berharap adalah berharap kepada manusia"
Terimakasih kejutanya. Terimakasih pelajaranya. Dan terimakasih selamat berbelanja kebahagian kembali.














