Sejak 6 dekade terakhir trend belajar Islam secara formal beralih kiblat dari Timur Tengah ke Barat. Hagemoni Barat tidak hanya dari penguasaan sains dan teknologi, tapi juga merambah bidang tsaqofah Islam . Yang terbaru, Kemenag RI berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan tinggi Islam dengan pemerintah Kanada dalam proyek yang digagas pemerintah Kanada sejak 2011 yakni Supporting Islamic Leadership in Indonesia/Local Leadership for Development. Ratusan doktor dalam bidang Islamic Studies serta ilmu-ilmu sosial dan humaniora telah dihasilkan berkat kerjasama yang sudah dimulai sejak tahun 1950-an. (Kemenag.go.id, January 2017) . Sejak 1950-an pula menurut data Direktorat Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama tahun 2005, mahasiswa dikirim ke negeri Barat untuk belajar Islam . Ironis. Hanya Untuk belajar Islam, umat harus merujuk ke Barat. Sungguh, ini adalah agenda liberalisasi Barat terhadap Perguruan Tinggi Islam. Dan ini diakui sendiri oleh para pelaku dan pengambil kebijakan dalam Pendidikan Islam. Buku berjudul: IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2002) mengungkap sejarah perubahan kampus IAIN, dari lembaga dakwah menjadi lembaga akademis yang berkiblat ke Barat . Inilah yang dikritik tajam oleh Dr. Syamsudin Arif. Ia menyatakan jika ingin mempelajari Islam, maka Barat bukanlah tempatnya. Bagaimana mungkin seorang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak pernah bersuci, tidak pernah shalat, disebut ahli hadits, ahli tafsir, ahli fiqh? Bagaimana mungkin orang yang seumur hidupnya dalam keadaan junub disejajarkan dengan Imam as-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam al-Ghazali? ... #Pendidikan_Khilafah #khilafah_education #secularismeffects @muslimahhtiid @muslimah_timur_jauh @womenshariah pic nyomot dari @masandini 🖤









